Sedang Membaca
Sjahrir : Politik adalah Pengabdian Kepada Kemanusiaan

Penulis Buku Penjara Perempuan (2020). Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo dan alumnus MASTERA ESAI 2019

Sjahrir : Politik adalah Pengabdian Kepada Kemanusiaan

Img 20200815 073406

Akhir hidupnya tidak seharum jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air yang amat dicintainya. Lakonnya sudah tamat, ia dipinggirkan dan disisihkan. Akhir hayatnya tragis dan memilukan. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir sebagai tahanan di Swiss. Ia sempat stroke dan tidak bisa berbicara sebelum meninggal. Perjuangan dan kiprah hidupnya didedikasikan untuk tanah air yang amat dicintainya.

Sutan Sjahrir adalah keturunan dari Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan yang berasal dari kota Gadang. Ayahnya bekerja sebagai Hofd Jaksa pada Landraad (Pengadilan Negeri) di Medan. Ibundanya bernama Poetri Siti Rabiah yang berasal dari Natal, daerah pantai selatan Tapanuli. Ia dilahirkan di Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Ia dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan dan orangtua yang cukup terpandang. Ini memudahkan dirinya mengikuti pendidikan pada sekolah kolonial di waktu itu yang tidak semua anak memiliki kesempatan sepertinya. Sjahrir semula disekolahkan di ELS, kemudian melanjutkan sekolah di MULO. Sjahrir termasuk anak andai, gemar membaca dan suka main bola.

Selepas dari MULO ia pindah ke Bandung dari 1926-1929 di AMS di jurusan Budaya Barat Klasik. Dalam catatan Subadio Sastrosatomo, Sjahrir di bandung saat PKI melakukan pemberontakan, semenjak muda perhatiannya memang sudah tertuju pada tanah air yang dicintainya. Ia gemar membaca surat kabar berbahasa Belanda AID (Algemeene Indische Dagblad). Di sekolah ia menjadi anak yang menarik perhatian karena kecerdasannya, ketajaman berpikir, cepat menangkap isi dan arti dari soal-soal yang ia lihat, dengar atau baca. Ia aktif di Jong Indonesia yang diubah menjadi Pemuda Indonesia. Tamat dari AMS, tahun 1929, Sjahrir melanjutkan di Universitas Amsterdam mengikuti keluarga Dr. Djuhana dan Ny Djuhana kakaknya.

Di negeri Belanda, ia segera bersahabat dengan mahasiswa Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial-Demokrat, juga dengan istri “Sal” Maria Duchateau yang kelak Sjahrir jatuh cinta padanya. Di Belanda, Sjahrir jarang kuliah, ia justru lebih sering aktif di pergerakan. Sjahrir berkenalan dengan Hatta yang waktu itu menempuh pendidikan di Rotterdam. Februari 1930, Ia pun bergabung menjadi sekretaris Perhimpoenan Indonesia (Anwar, Rosihan, 2010: 37).

Baca juga:  Mengambil Makna dari Satu Dekade Wafatnya Gus Dur

Pada waktu itu, PI (Perhimpoenan Indonesia) di dominasi oleh orang-orang komunis seperti Roestam Effendi, Abdul Madjid. Sjahrir dan Hatta pun tersingkir dari Perhimpoenan Indonesia. Sementara itu, situasi di tanah air diwarnai oleh pembubaran PNI Soekarno ditangkap di tahun 1929 bulan Desember. Kader-kader dari “golongan merdeka” menentang pembubaran PNI dan mendirikan PNI-Pendidikan atau PNI Baru. Hatta dan Sjahrir bermufakat salah satu diantara mereka ada yang kembali ke tanah air terlebih dahulu.
Akhir Desember 1931, Sjahrir aktif mengembangkan PNI Baru. Dalam kongres PNI-Baru, tanggal 26 Juni 1932, ia terpilih menjadi Ketua, Pimpinan Umum Partai. Sjahrir kala itu baru berusia 23 tahun. Pada tahun yang sama pula Hatta kembali ke Indonesia dan mengambil alih kepemimpinan di PNI Baru.

Tahun 1933, sebenarnya Sjahrir berencna hendak kembali ke Belanda untuk melanjutkan studinya namun pemerintah Hindia Belanda semakin reaksioner dan menangkap pemimpin pergerakan termasuk Soekarno. Tahun 1934, aktifis PNI Pendidikan ditangkap. Hatta dibawa ke penjara Glodok, Sjahrir di Cipinang Batavia, 23 Januari 1935. Mereka diasingkan di Nieuw Guinea selama satu tahun di Boven Digul. Tahun (1936-1942), mereka segera dipindahkan ke Banda Neira.

Di Banda Neira inilah, Sjahrir nampak sebagai pendidik. Ia mendidik anak-anak di Banda Neira mengajari banyak hal. Perhatiannya kepada anak-anak membuatnya serasa lebih bebas meski sebagai tahanan kolonial. Karakter dan sifatnya sebagai pendidik itulah kelak yang akan kita lihat lebih jauh saat ia mendidik dan mengkader dan mengembangkan partai kader, Partai Sosialis Indonesia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bernapas di Bawah Tanah

Di tahun 1942, ia sempat bertemu dengan Soekarno dan Hatta, mereka bertiga sepakat untuk melakukan pembagian tugas. Soekarno dan Hatta mengusahakan kerjasama dengan pembesar Jepang agar memajukan perjuangan kaum nasionalis. Sedangkan Sjahrir bekerja di luar arus utama, tapi selalu memelihara hubungan kepada Soekarno dan Hatta. Sjahrir berjuang di bawah tanah. Peranannya cukup besar saat mengabarkan dan memantau melalui siaran radio mengenai kabar luar negeri terutama setelah perang dunia.

Baca juga:  Persamaan Abraham Lincoln dengan Soekarno dan Gus Dur

Soekarno sendiri pun meragukan apa yang dilakukan Sjahrir: “Apa sih, underground-nya Sjahrir itu? Hanya mendengarkan siaran radio luar negeri secara diam-diam.”

Di saat jepang berkuasa di Indonesia, mereka berusaha membujuk Indonesia untuk membantu Jepang dalam melawan sekutu. Jepang waktu itu dalam kondisi terdesak. Dalam masa penjajahan Jepang, akses radio dan siaran luar negeri ditutup oleh Jepang karena khawatir informasi yang ada dari luar negeri bisa didengar oleh Indonesia yang saat itu sedang dimanfaatkan untuk membantu Jepang.
Bersama kaum muda di waktu itu, Sjahrir membuktikan apa yang ia yakini, yakni kekalahan Jepang. Sjahrir dan kelompok pemuda meyakinkan Soekarno dan Hatta bahwa bulan Agustus Jepang telah bertekuk lutut dari Sekutu. Sjahrir mendesak proklamasi diselenggarakan secepatnya, bahkan ia menyiapkan seandainya gagal, yakni di tanggal 15 Agustus 1945 di Cirebon dr. Soedarsono sempat membacakan teks proklamasi yang disusun oleh Sjahrir sendiri. Sayang teks proklamasi itu hilang. (Anwar, Rosihan, 2010: 53)

Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, ia memang sengaja menyingkir dan menghilang. Ia merasa senang republik yang ia impikan akhirnya terwujud, meski ia merasakan getir perjuangan belum berhenti.

Ia sempat menjadi Ketua badan pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat yang merupakan cikal bakal dewan perwakilan rakyat (parlemen). Lalu pada tanggal 14 November 1945, ia diangkat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Pada masa-masa setelah kemerdekaan ini, ia dihadapkan pada persoalan rongrongan yang mengancam kemerdekaan Republik Indonesia dari Belanda. Peranannya pada perundingan Linggarjati dianggap sebagai kemunduran berarti yang diprotes oleh kelompok Persatuan Perjuangan di bawah pimpinan Tan Malaka waktu itu. Namun strateginya ini membawa masalah Indonesia menjadi perhatian Internasional. Di tahun 1945 pula ia kelak pidato di Dewan Keamanan PBB mengenai nasib Indonesia.
Pada tanggal 27 Juni 1947 atas desakan dari berbagai kritik dan kelompok penentangnya, ia mengembalikan mandatnya. Ia digantikan oleh Amir Sjarifuddin. Selepas menjabat dari perdana menteri Sjahrir justru fokus untuk mengurusi Partai Sosialis Indonesia. 12 Februari 1948, ia mendirikan dan mengembangkan Partai Sosialis Indonesia. Di awal tahun 1950, anggota PSI hanya beberapa ribu orang.

Baca juga:  Boeng Rewel: Sosok “Uwais Al-Qarni” dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Pada pemilu tahun 1955, nasib PSI tenggelam bersama Sjahrir. PSI menderita kekalahan telak. Sementara pengaruhnya semakin menipis setelah PKI berhasil merebut suara keempat terbesar. Soekarno sendiri di tahun 1960-an terlihat semakin condong kepada pemerintahan yang sewenang-wenang dengan mengangkat diri sebagai presiden seumur hidup dan menyingkirkan lawan politiknya.
Pada tanggal 16 Januari 1962, Sjahrir ditangkap, dan dijadikan tahanan politik Soekarno. Pada Februari 1965, ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM), karena kesehatannya menurun, pada tanggal 21 Juli 1965 keluarganya membawanya untuk berobat ke Swiss. Hingga pada 5 Maret 1966 ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia sempat stroke dan tidak bisa berbicara.

Peranan dan jasanya tidak bisa kita remehkan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sjahrir telah memberikan teladan bahwa politik adalah tindakan, politik adalah pengabdian. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk mewujudkan cita-cita politik. Sjahrir dengan pendiriannya yang teguh percaya pada sosialisme-kerakyatan, atau sosialisme-demokrat. Tujuan dari sosialisme kerakyatan menurutnya adalah “Membebaskan dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedewasaan manusia yaitu bebas dari penindasan serta penghinaan oleh manusia terhadap manusia.”

Baginya, “Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri sendiri kita, kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita kepada kemanusiaan.”

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top