Sedang Membaca
Memberi Ruang pada Santri-santri Pinggiran: Review Buku Santri Waria Karya Masthuriyah Sa’dan
Penulis Kolom

Santri Theology and Religion di University of Birmingham. Chevening scholar. Aktivis Keragaman.

Memberi Ruang pada Santri-santri Pinggiran: Review Buku Santri Waria Karya Masthuriyah Sa’dan

Santriwaria

Transgender perempuan atau waria (kemudian disebut  transpuan) kerap dianggap hanya sosok yang berada di pinggiran, tempat mereka di jalanan. Tubuh dan ekspresi mereka dianggap sekadar tontonan dan hiburan di berbagai media, tetapi pada saat bersamaan mereka juga ruang tempat banyak orang melampiaskan cacian dan olok-olok semata.

Tetapi di mata Ustad Kiai Abdul Muiz Ghazali, seorang akademisi, peneliti dan cendekia muslim asal Madura, ada seorang transpuan bernama Ibu Maryani yang disebutnya sebagai kamus tasawuf yang berjalan, lantaran betapa ikhlas dan ridha-nya para transpuan dalam perjuangan menjalani kehidupan ini di tengah gempuran kebencian dan peminggiran di berbagai ruang. Demikian salah satu kisah yang diungkap oleh Masthuriyah Sa’dan dalam bukunya berjudul Santri Waria yang diterbitkan oleh Diva Press pada Agustus tahun lalu.

Buku setebal 360 halaman ini mengulas kehidupan para santri transpuan di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta. Kehidupan yang mungkin menggemparkan dan mencengangkan bagi banyak orang yang masih demikian asing melihat keragaman gender dan seksualitas di ruang agama. Santri Waria mengajak pembaca menyelami lebih dalam perjalanan sejarah, pergumulan, dan perjuangan para santri transpuan dalam menggali potensi spiritualitasnya yang kerap dibatasi dan ditolak oleh para begawan agama, sekaligus membongkar narasi-narasi diskriminatif yang kerap menempatkan kelompok minoritas gender dan seksualitas sebagai the outsider, orang asing yang tengah membawa gaya hidup Barat demi menghancurkan esensi Islam dan keindonesiaan kita.

Buku ini justru membuktikan sebaliknya. Dalam satu bagian ketika para santri transpuan sowan ke ndalem KH. Mustofa Bisri, Kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut menggambarkan betapa keragaman adalah bagian dari keislaman dan keindonesiaan yang tidak boleh diusik.

Baca juga:  Gus Reza Lirboyo dan Eksperimen Membaca Teks Inggris dengan Metode Utawi-Iku

Menurut Gus Mus, menyalahkan manusia lain karena dianggap berbeda, maka orang yang demikian inilah yang “berani” merusak Indonesia, tindakan yang demikian itu kurang benar atau kurang tepat. Karena Indonesia adalah rumah bersama (halaman 254). Demikian tutur sang penulis ketika berkisah dalam bukunya tentang perjalanan sowan para santri transpuan ke beberapa tokoh agama, di antaranya Gus Mus, Kiai Muadz Tohir, Kiai Imam Aziz, Nyai Masriyah Amva, Nyai Fatum Abu Bakar, dan Nyai Wahyuni Shifaturrahmah.

Tak tanggung-tanggung, buku ini juga didukung oleh berbagai komentar dan tulisan tambahan dari berbagai cendekia dan akademisi Muslim, seolah berbondong-bondong mengatakan bahwa Islam memberi ruang pada santri-santri (dan juga komunitas masyarakat pada umumnya) yang berada di pinggiran, yang selama ini kerap justru dikucilkan dan dicemooh oleh lembaga, institusi, kelompok dan para pemimpin keagamaan.

Semua Makhluk adalah Produk Tuhan

Buku ini tak hanya memberikan gambaran tentang bagaimana pergumulan spiritual dan praktik-praktik keberagamaan yang dihayati dan digeluti oleh para santri transpuan, tetapi juga sekaligus menampar nalar keagamaan kita yang masih kerap terjebak dalam bineritas laki-laki dan perempuan semata. Seolah di luar yang laki-laki atau perempuan bukanlah produk Tuhan.

Dalam buku ini, Nyai Fatum Abu Bakar bahkan secara tegas menyatakan (seperti dikutip Masthuriyah, hlm 276):

Bisa jadi salat kita (orang heteroseksual dengan identitas gender laki-laki atau perempuan) dengan kaidah yang sesuai dalam fiqih, tetapi siapa yang menjamin bahwa sholat kita diterima oleh Allah? Ustadzah Fatum langsung menjawab, tidak ada jaminan itu, bahkan bisa jadi kita (orang heteroseksual) yang mengklaim melaksanakan salat paling benar menurut fiqih tidak diterima oleh Allah, dan bisa jadi salatnya waria yang menjadi perdebatan dalam fiqih diterima disisi Allah.

Lebih jauh, beliau juga mengatakan bahwa perintah keimanan beserta ritus-ritus yang melengkapinya (seperti salat, membaca Alquran dsb) adalah perintah Allah untuk seluruh umat manusia, tidak peduli apapun identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksualnya. Sehingga semua manusia beserta irisan seksualitas yang mengiringinya adalah juga produk Allah untuk melengkapi kepelbagaian identitas, kesadaran, dan pergumulan manusia dalam kehidupan ini.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (46): Al-Istilah, dari Pendidikan Pra Nikah hingga Pendidikan Seks ala Pesantren

Kiai Marzuki Wahid, dalam endorsement yang beliau tulis dalam buku ini, juga berpendapat bahwa transpuan adalah juga makhluk Allah yang sempurna dan utuh. Sebab Allah itu Maha Sempurna, tidak ada satupun produk gagal yang diciptakan-Nya. Laki-laki, perempuan, transpuan, semuanya setara di hadapan Allah. Sembari menukil ayat: Inna akramakum ‘inda Allâhi atqâkum, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling takwa” (QS. al-Hujurât: 13), pernyataan Kiai Marzuki kian melengkapi pesan penting buku Masthuriyah ini.

Agama dan Realitas Manusia

Membaca buku ini, kita disadarkan tentang betapa realitas kita demikian luas dan tak terbatas, pembacaan kita atas teks haruslah terus hidup dan dihidupi dengan semangat memberikan ruang dan pemaknaan terhadap realitas yang terus berkembang. Rumi mengatakan dalam salah satu kalimat yang indah:

عَلَى الْمَرْءِ اَنْ يَنْفَذَ اِلَى قَلْبِهِ بِنُوْرِ الْعَقْلِ وَيَرَى وَاقِعَةً لَا يَكُوْنُ عَبْداً لِلنَّقْلِ

Alā al-mar’i an yanfaża ilā qalbihī bi-nūr al-‘aqli wa-yarā wāqi’atan lā yakūnu ‘abdan li an-naql

“Setiap orang mesti mengisi hatinya dengan cahaya akal dan melihat kepada realitas, bukan sekadar menjadi hamba dari teks.” (Yūsuf Abū al-Ḥajjāj, Sulṭān al-‘Ārifīn Jalāluddīn ar-Rūmī, Kairo: ad-Dār aż-Żahabiyyah, 2007, hlm. 32.)

Realitas keragaman gender dan seksualitas adalah wajah kemanusiaan yang tak bisa kita abaikan dan tinggalkan. Berapa banyak orang yang terluka, terpinggirkan, diasingkan dan dikucilkan bahkan dari ruang-ruang keagamaan, yang konon menjadi tempat suci bagi orang-orang yang mencari cahaya, tetapi justru yang hari ini kita temukan di tempat-tempat suci itu hanyalah gelapnya peminggiran semata.

Baca juga:  Di Balik Buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren

Santri Waria adalah buku yang wajib dibaca bagi mereka yang mencari pencerahan di tengah sesaknya narasi kebencian terhadap kelompok marjinal. Masthuriyah berhasil mendobrak kebekuan cara pandang kita terhadap keragaman gender dan seksualitas, yang selama ini melulu hanya dilihat secara biologis atau badaniyah semata. Realitas kehidupan para santri transpuan adalah hilir-hilir spiritualitas yang mengajak kita menepi sebentar ke pinggiran: ke tempat mereka yang nama dan tubuhnya kerap dilabeli pendosa, yang jejak-jejak hidupnya dianggap tiada dan tak berdaya.

Padahal di balik kulit yang kita miliki, di balik yang tampak oleh mata manusia, tubuh kita menyimpan mutiara-mutiara kesejatian dan hakikat yang demikian kaya. Setiap ruh menempuh jalannya masing-masing menuju Sang Cahaya. Setiap jiwa mencari jalannya masing-masing menuju Yang Maha. Maka pengakuan kita terhadap ke-Maha-an Allah, adalah dengan memberi ruang bagi setiap makhluk-Nya, untuk juga menempuh dan menyentuh cinta-Nya yang luas bagi siapa saja.

——

Catatan: istilah waria (wanita pria) banyak dikritisi oleh aktivis keragaman karena dianggap melanggengkan stigma bagi kelompok transgender. Karenanya, saya memilih menggunakan istilah transpuan meskipun dalam rangka menulis buku berjudul Santri Waria dalam tulisan ini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top