Sedang Membaca
Menakar Peran Sufi dalam Berdirinya Kekaisaran Ottoman
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menakar Peran Sufi dalam Berdirinya Kekaisaran Ottoman

Ahmad Munji

Salah satu periode emas dari peradaban Islam di masa lalu adalah fakta berdirinya kesultanan Ottoman (Usmaniyah). Sebuah kekaisaran Islam yang berdiri setelah runtuhnya daulah Abbasiyah di Baghdad dan Daulah Seljuk di Konya, sekaligus menjadi penutup dari sejarah kekhalifahan di dunia Islam.

Para sejarawan baik timur maupun barat sepakat bahwa faktor penting dari kesuksesan yang diraih oleh Ottoman adalah kehadiran sultan-sultannya yang arif dan bijaksana, serta didukung pasukan perang yang tangguh. Adalah maklum bahwa bangsa Turki merupakan sebuah bangsa yang telah turun-temurun terlatih menjadi “alp” (pasukan perang daulah Seljuk). Keikhlasan dan kesetian bangsa Turki menjadi pasukan perang daulah Seljuk pada akhirnya menuai buah manis.

Jika boleh disederhanakan, berdirinya Ottoman tidak lain adalah hasil dari tirakat yang dilakukan oleh leluhurnya, Ertuğrul Bey dan Sulayman Bay. Dedikasi keduanya terhadap daulah Seljuk dan Islam sangat besar, bertahun-tahun bahkan lintas generasi menjadi benteng pertema pembela negara dan Islam, hidup berpindah-pindah dengan kelompoknya sesuai arah datangnya lawan yang menyerang. Tidak berlebihan selanjutnya jika dikatakan bahwa berdirinya Ottoman adalah tuah dari sebuah kesabaran dan pengabdian kepada agama dan negara.

Di sisilain terdapat juga faktor penting yang unik dan menarik dari berdiriya Ottoman. Bahwa kesuksesan yang ditorehkan oleh kekaisaran Ottoman, sehingga sampai pada satu titik emas (muhteşem yüzyil) pada tahun 1520, tidak lepas dari pengaruh spiritualitas yang kental, yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Ottoman. Pengaruh itu lahir dari wali-wali yang secara terus menerus hadir mendampingi bangsa Turki, dari masa pembentukan, kejayaan bahkan di era Turki modern. Kehadiran wali-wali ini tercatat memberikan peran positif dan pengaruh luar biasa terhadap perjuangan yang dilakukan oleh bangsa Turki dari masa ke kemasa.

Di masa pendirian Ottoman, mereka hadir menjadi pelipurlara dan sumber inspirasi. Kekalahan daulah Seljuk dari infasi yang dilakukan oleh bangsa Mongol tidak bisa dipungkiri menurunkan semangat juang bangsa Turki yang bertugas sebagai pasukan perang Seljuk. Tetapi, kehadiran para sufi melaui gerakan tarekat yang berpusat di zawiyah, tekke dan hanaqah mampu membuat mereka bangkit dan lahir menjadi satu titik awal kebangkitan. Para ulama tasawuf bergerak melakukan pendidikan rohani kepada masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai luhur ajaran tasawuf seperti optimisme (raja), tapi waspada (hauf), persatuan (ukhuwah), mengutamakan kepentingan umum (itsar) dan memberikan dukungan kepada yang lemah (suhbah).

Baca juga:  Pendidikan dan Kontribusi Kita

Bangsa Turki lahir dan dan tumbuh dalam asuhan para wali dan sufi. Pergenrakan mereka berpusat pada tiga titik, masjid, madrasah dan tekke (padepokan sufi). Masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan lain, madrasah sebagai pusat pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, sementara tekke sebagai pusat pendidikan spiritual.

Nilai-nilai luhur yang diajarkan melalui majlis-majlis tarekat ini pada gilirannya betul-betul memberikan dampak yang luar biasa terhadap pembangunan moral kepada seluruh lapisan masyarakat; masyarakat umum, tentara dan pemimpinnya. Sebagai hasilnya, di tengah keruntuhan daulah Seljuk yang kalah oleh bangsa Mongol, tidak membuat mereka lemah dan meratapi keadaan, bahkan menjadi titik awal sebuah gerakan besar dari sebuah kelompok kecil (baylik) menjadi kekisaran besar.

Perlu diketahui, bahwa dibawah daulah Seljuk, embrio Ottoman adalah sebuah kelompok kecil yang dikenal dengan “baylik”, pemimpinya disebut dengan Bay. Dimulai dari Sulaiman Bey, Ertüğrül Bey, Osman Bey (1299-1326) dan Orhan bey (1326 – 1359). Setelah itu para pemimpin Ottoman selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan sultan yang dimulai dari sultan Murad I (1359-1389). Ada banyak “baylik” yang eksis berjuang pada waktu itu, salah satu diantaranya adalah embrio Ottoman ini. Namun, setelah kekalahan daulah Seljuk dari mongol hanya tersisa Osman bay dan pengikutnya. Dan dibawah pimpinan Ertüğrül Bey embrio Ottoman mampu mengkonsolidasikan baylik yang lain menjadi sebuah kekuatan baru yang kelak disebut Ottoman.

Kehadiran ulama-ulama tasawuf melalui gerakan tarekat menyatu bersama masyarakat. Di tingkat akar rumput mereka menjadi aktor penting dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang harmonis dan saling mengormati, sementara dikalangan atas dan para pemimpin mereka hadir dan menginspirasi dengan nilai-nilai Islam yang universal, seperti orientasi pada kemaslahatan bersama, toleran terhadap perbedan dan tindakan-tindakan penuh dengan kasih sayang. Fakta ini bisa dilihat dari tingginya nilai toleransi yang dijaga dalam masyarakat Ottoman kepada kelompok-kelompok marjinal setelah menaklukan wilayah-wilayah baru.

Baca juga:  Melacak Tafsir Alquran Abad Ke-4 H di Andalusia

Salah satu sufi terkemuka yang berperan aktif pada periode ini adalah Muhyiddin Ibnu Arabi, yang merupakan guru spiritual Ertüğrül Bey ayah dari Usman Bey (Otoman). Dalam masa perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Ibnu Arabi dari Cordova menuju ke Makkah, beliau tercatat dua kali singgah di Konya, ibu kota daulah Seljuk. Meskipun kehadiran Ibnu Arabi terbilang tidak terlalu lama, namun pengaruh ajaranya terhadap masyarakat Turki sangat kuat. Selain itu, sepeninggal beliau, peran dakwahnya dilanjutkan oleh Sadruddin Konawi, yang tidak lain adalah anak tiri dari Ibnu Arabi.

Metode dakwak yang dikembang oleh ulama sufi pada saat itu juga terbilang menarik dan unik. Tokoh-tokoh tasawuf besar melakukan dakwahnya dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat. Sebut saja  Jalaluddin Rumi. Melvlana, begitu jalaluddin Rumi biasa disebut oleh masyarakat Turki, berhasil membumikan nilai-nilai Islam melui bait-bait siirnya yang terkumpul dalam kitab Mesnavi.  Melalui tangannya ajaran ıslam menjadi begitu ringan, sederhana tetapi sangat menyentuh dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berlebihan kemudian banyak yang berkomentar jika karyanya Mesnavi menjadi rujukan penting masyarakat dalam beragama setelah al-Qur’an.

Selain itu ada juga nama-nama seperti Şems-i Tebrizi, Ahi Evran dan Yunus Emre. Sejumlah nama darwis tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam dunia emosi spiritual dan pemikiran bangsa Turki dengan caranya sendiri.

Baca Juga

Peran para tokoh sufi berimplikasi pada ajaran tasawuf yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Turki yang tidak bisa dipisahkan. Nilai-nilai luhurnya terejawantahkan dalam praktek kehidupan sehari-hari seperti seni, musik, arsitektur, dan sastra Ottoman. Refleksi prilaku spiritual masuk kedalam bagian penting masyarakat seperti frasa, idiom, pribahasa, lagu pengantar tidur, lagu rakyat, humor dan lelucon.

Baca juga:  Mudik dan Dahaga Kasih Sayang

Diantara sufi yang nyentrik dan mashur dari masa ini adalah Naserudin Hoca. Seorang wali, sufi, pendakwah nilai-nilai Islam. Naserudin Hoca hadir melauli lelucon-lelucon yang akrab dengan realitas saat itu, cerita-cerita humor dihadirkan untuk mengingatkan kepada kebaikan, memperbaiki diri dalam berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.

Perkembangan tasawuf memiliki tempat khusus dalam peradaban Islam di masa itu. Kajian-kajian tasawuf dapat ditemukan dimana-mana, tarekat berkembang bak jamur di musim hujan, karya-karya sufistik menjadi bacaan masyarakat umum mengalahkan karya dalam bidang fiqh dan ilmu kalam. Hasilnya, semua segmen dapat mengakses mistisisme dalam Islam itu, dari  birokrat, intelektual, tentara, pedagang sampai dengan petani.

Keberadaan kelompok sufi dalam fase berdirnya Ottoman tidak hanya berfungsi sebagai gerakan keagamaan saja. Lebih dari itu, pembangunan struktur sosial dan budaya dalam memperkuat fondasi negara juga menjadi konsentrasi ulama sufi pada saat itu. Pada level kerajaan, ulama sufi juga memiliki posisi penting dalam pengambilan kebijakan-kepijakan poilitk oleh sultan. Sultan-sultan Ottoman memberikan posisi penting kepada tokoh agama. Dalam bidang hukum, mereka menunjuk ulama-ulama fikih sebagai qadi (hakim) dan ditempatkan diwilayah-wilayah kekuasaanya. Sementara dalam bidang kebijakan politik mereka memilih seorang ulama sufi sebagai penasehat.

Sebagi bentuk terimakasih dari pihak kerajaan, mereka mendukung penuh perkembagan tarekat dan gerakannya. Dukungan ini diberikan dengan bentuk pemberian wakaf tanah dan pembukaan dairah-dairah baru yang tidak jarang diberi nama sesuai dengan nama sufi yang tinggal di tempat itu. Selanjatnya ulama-ulama ini mendirikan zawiyah, hanaqah dan tekke untuk memberikan pendidikan rohani kepada masyarakat di sekitarnya. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top