Sedang Membaca
Madam Curie: Perempuan di antara Cinta, Fisika dan Kimia
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Madam Curie: Perempuan di antara Cinta, Fisika dan Kimia

Ali Makhrus

Kisah ini datang dari seorang anak piatu dari negeri Polandia, sebuah wilayah Eropa yang pada tahun 1880 masih dalam wilayah kekaisaran Rusia. Siapa dia?

Kisah ini penulis temukan dalam deratan koleksi buku di perpustakaan Kabupaten Madiun beberapa hari yang lalu, tepatnya 2 April 2019. Buku tersebut berjudul “Madam Curie Wanita Penemu Radium”.

Buku lawas yang cetak pertama kali pada tahun 1974 serta kedua kalinya pada tahun 1978 oleh penerbit Djombatan dengan percetakan Esbe. Kondisi buku masih bagus meski agak berubah kecoklatan seiring waktu dan masih sangat jelas untuk dinikmati.

Buku ditulis oleh A Soeroto yang merupakan bagian dari “Proyek Pelita” pengembangan perpustakaan Departemen P & K Republik Indonesia Jakarta. Terdiri dari 33 halaman yang menarasikan secara singkat kehidupan Madam Curie dari masa kanak-kanak hingga tutup usia.

Kisah ini bermula dari seorang perempuan kecil cerdas nun pekerja keras, Marya Sklodowsky.

Masa kecilnya ia habiskan untuk belajar di sebuah sekolah swasta di Warsawa Polandia. Dia dikenal dengan panggilan Mania oleh teman-teman kelasnya. Selain mahir dalam ilmu hitung, Mania juga pandai dalam bidang ilmu alam. Sehingga, berkat kepintaran dan kejeniusannya dalam ilmu-ilmu tersebut, ia menjadi anak yang dibanggakan oleh gurunya bernama Tupoliska.

Karena Polandia masih negeri jajahan, segala sesuatu dan aktifitas pembelajaran selalu dalam kontrol dari pemeritah kerajaan Rusia, termasuk sekolah Mania yang merupakan sekolah swasta milik seseorang yang pro Rusia, bernama Homberg.

Pernah suatu saat sang pemilik melakukan pengecekan terhadap kegiatan belajar mengajar dengan melakukan percobaan tanya jawab dengan dengan siswa dengan bertanya menggunakan bahasa Rusia dan tentang Rusia. Sang pemilik bertanya, “Siapa sajakah yang memerintah Rusia setelah Catharina Trsarina ke-II nak?”

Seketika suasana kelas hening, karena baru saja guru menyampaikan materi tentang sejarah Polandia berikut buku pelajaran yang dibawa siswa. “Tsar Paul I, Alexander I, Nicolas I dan Alexander II?” jawab Mania.

Baca juga:  Mencari Wajah Perempuan Arab Saudi

Ketepatan menjawab Mania menggembirakan tidak hanya kepada pemilik yang pro Rusia itu, melainkan ibu guru Tupoliska. Jika terjadi kesalahan, akan berdampak buruk bagi sekolah dan murid-murid lainya.

Ayah Mania bernama Wladyslow Sklodowsky. Dia sekeluarga berjumlah tujuh orang. Namun, tidak berselang lama harmoni keluarga terbangun, kakak mania dan sang ibu harus berpulang.

Selain itu, ekonomi kelurga semakin memburuk seiring pengucilan pemerintah Rusia dan sang ayah dipecat dari sekolah tempat mengajar. Keluarga Sklodowsky dikenal keluarga terpelajar. Cobaan bertambah tatkala kakak perempuan telah lulus sekolah dan hendak kuliah kedokteran di Prancis, belum lagi biaya kakaknya yang sedang kuliah kedokteran pula di Warsawa.

Melihat keadaan tersebut, Mania berunding dengan kakaknya agar Mania yang bekerja dan Bronia tetap melanjutkan kuliahnya. Meski berat dan kasihan, sang kakak menerima usulan Mania. Selang beberapa tahun kemudian, sang kakak menikah sehingga biaya kuliah ditopang oleh suaminya sendiri.

Mentari harapan terus bersinar menerangi pikiran Mania untuk kuliah di Perancis. Tepat pada 1891, Mania resmi menjadi mahasiswi Universitas Sorbone. Mania pun mengubah namanya menjadi Marie Sklodowsky.

Dia adalah anak yang sangat menghargai waktu dan pencinta ilmu, terutama pada bidang Matematika dan Fisika.

Bakat yang menonjol itu melebihi teman-teman seangkatannya di kampus Sepanjang hari, dia pergunakan untuk belajar dan bekerja untuk memenuhi target kuliah dan biaya kuliahnya. Aktifitas padat lantas membuat dia hanya makan seaadanya, yakni makan roti kering yang tidak banyak mengandung gizi. Hal tersebut memengaruhi kesehatan dan ketahanan fisiknya. Sampai pada suatu saat ia jatuh sakit, Bronia sang kakak lantas menasehati,

“Jika setiap hari kamu makan roti kering itu saja, bukan saja gelarmu tidak akan pernah kau capai, melainkan tubuhmu pun akan hancur!”

Tiba saatnya, Marie berhasil meraih gelar kesarjanaan dengan nilai terbaik. Karirnya pun berlanjut sebagai pengajar di sebuah lembaga lain di Perancis. Hingga sang waktu mempertemukan Marie dengn seorang laki-laki pecinta ilmu fisika terkenal di Perancis, Piere Curie. Kedua keluarga ini saling mendukung satu sama lain. Dan dianugerahi kedua anak yang cemerlang.

Baca juga:  Sufi Perempuan: Hafshah dari Bashrah

Kehidupannya dipenuhi dengan berbagai riset, eksperimen dan penelitian ilmiah. Meskipun sebagai seorang pengajar, ekonomi keluarga tidak berjalan seiring. Akan tetapi, tekad dan ketekunannya untuk memecahkan sebuah masalah ilmiah mendorong keluarga pas-pasan ini untuk memiliki laboratorium riset sendiri.

Riset Mania atau Curie merupakan lanjutan dari penemuan dalam ilmu fisika tentang sinar X oleh ilmuan fisika Jerman, Wilhem Konrad Rotgen.

Baca Juga

Selang beberapa tahun kemudian, 1896 sarjanawan Henri Bequerel mempelajari bubuk yang berasal dari uranium. Henri menemukan keanehan, hanya saja belum terpecahkan, yakni uranium mengeluarkan sinar cukup kuat yang dapat menembus lapisan yang mengelilinginnya. Sementara asal sinar tidak diketahui secara pasti.

Lantas Mania berdiskusi dengan suami, “Sinar apakah itu? dari manakah asal sinar uranium itu?” Suami hanya manut saja mengingat laboratorium riset yang lengkap peralatannya belum dapat memecahkan sinar itu, namun kesungguhan Mania tidak terbendung lagi.

Penelitian, riset, eksperimen terus dilakukan berulang-ulang, tidak lupa setiap uji coba selalu dicatat dalam lembaran-lembaran kertas yang menenuhi ruangannya. Kegiatan ilmiah tersebut lambat laun menguras keuangan keluarga pas-pasan tersebut. Namun, harapan, dukungan serta kerja keras kerapkali beriringan dengan sebuah keberhasilan.

Tiba suatu malam sela-sela istirahat, Mania merasa gelisah tidak tenang, seolah ada dorongan untuk melihat laboratorium. Istri dan suami penuh cinta dan kebersamaan tersebut mendapati tabung gelas berisi bubuk uranium yang ditempatkan di kotak besi memancarkan cahaya biru. Apa yang mereka temui yang kemudian hari dikenal dengan Radium.

Baca juga:  Ummu Kulsum, Sang Bintang Timur

Radium adalah bahan atau unsur penting dalam membuat karya besar, semisal bom Atom, juga digunakan dalam dunia kesehatan untuk mengobati kanker.

Jerih payah tersebut memberikan kesempatan suami istri menjadi kepala laboratorium di Sorbone dan berhasil meraih Nobel dalam bidang Ilmu Fisika, 1903.

Pada tahun, 1906 sang suami berpulang meninggalkan dunai. Meski sempat shock dan stress, kare ditinggal suami. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Mania bangkit lagi, dan bersedia menjadi rektor Universitas Sorbone. Karena, Perancis terlibat perang dunia I pertama, Mania juga ikut membantu penyembuhan terhadap pasukan dan serdadu Perancis yang luka-luka di medan perang.

Ketulusan Mania terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berujung banyak temuan serta prestasi akademik lainya, melainkan juga tidak berkenan mempatenkan temuannya. Saran dari suami tercinta untuk mendapatkan royalti tidak dijalankan. Kepuasan lain ialah keberhasilan Mania membangunkan laboratorium di negara asal kelahiran Mania: Polandia. Mania mangkat di Sancellemoz, 4 Juli 1934. Ia meninggalkan dunia dengan tenang dan bahagia,

Kisah Marya Sklodowsky, sebutan lain Mania dan Marie, patut jadi percontohan bagi perempuan, dan tentu juga lelaki. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan bersama dengan suami, Piere Curie, merupakan sebuah kerjasama yang apik bagi siapapun dalam mengokohkan rumah tangga. Saling melengkapi dan mengisi kekurangan masing-masing jadi kunci sukses ilmu, karir, ekonomi serta bangunan keluarga.

Keluarga adalah negara kecil sebagai pintu kesuksesan-kesuksesan kepemimpinan keluarga yang lebih besar. So, harmonisasi keluarga merupakan jejak kepemimpinan yang layak dipertimbangkan dan diperhatikan oleh siapa saja sebelum melangkah jauh ke ruang yang lebih besar lagi. Semoga bermanfaat !

Lihat Komentar (0)

Komentari