Penulis Kolom

Penulis kelahiran Banyuwangi. Alumni Blokagung yang kini domisili di Old Cairo, Mesir.

Syekh Sya’rawi dan Buku-Buku yang Dinisbatkan Kepadanya

Whatsapp Image 2020 07 13 At 08.31.40

Ilmu yang disampaikan secara verbal sangat beda dengan yang disampaikan dengan karya tulis atau buku. Terlebih jika ilmu atau informasi itu dalam pengajian. Siapapun yang sering bicara di depan khalayak ramai akan merasa bahwa aktifitas kajian yang menggunakan artikel atau makalah sebagai pijakan lebih kuat secara argumentasi dan kehati-hatian dari pada kajian yang disampaikan secara verbal tanpa pijakan tulisan yang sudah disiapkan.

Jika ada daftar ulama kesohor dan alim di bidangnya dan tidak punya karya tulis tapi banyak buku yang diterbitkan dengan mengatas namakan ulama tersebut maka nama Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi (W. 1998 M) salah satunya.

Dalam menulis beliau orang perfeksionis yang enggan ada banyak celah secara bahasa–apalagi isi. Cerita yang beredar beliau beberapa kali memulai menulis, tapi, sebagaimana kita ketahui problem dalam menulis, semakin dibaca ulang atau dikoreksi semakin terlihat banyak celah. Semakin ingin mengubah atau menambah.

Al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafii bercerita bahwa Rabi’ al-Muradi, salah satu murid kisah Imam Syafii, membacakan kitab ar-Risalah lebih dari tiga puluh kali di depan Imam Syafii langsung. Dan setiap kali Rabi’ membaca kata demi kata dan baris demi baris dalam ar-Risalah, Imam Syafii selalu mengeroksinya agar diganti dengan diksi yang lebih tepat. Saking terjadi berulang kali dan terus menerus Imam Syafii berkata, “Aballahu an yutimma illa kitabahu, Allah tak mau menyempurnakan kecuali kitabNya (Al-Qur’an) saja,”

Baca juga:  Kiai Wahab Chasbullah, Negosiator Penuh Humor

Barangkali berangkat dari latar belakang itu, dan tentu ada alasan lain juga, Syekh Sya’rawi tak pernah menulis sebuah karya tulis. Lalu puluhan buku-buku yang diterbitkan oleh banyak penerbit–di antaranya yang paling banyak dan serius menerbitkannya adalah Darut Taufiqiyah Litturats dan Maktabah at-Taufiqiyah–itu bagaimana?

Mahmud ath-Thanahi dalam Maqalat-nya mengutip sebuah jumpa pers Syekh Sya’rawi yang dilansir media al-Ahram di mana saat itu beliau mengeluarkan sikap kepada para penerbit dan peneliti untuk serius dan memperhatikan dengan seksama apa yang mereka tuliskan atau saat mentranskip dari pengajian verbal beliau. Ya tentu supaya tidak menulis apa yang ia fahami tapi tidak dikehendaki oleh Syekh Sya’rawi sebagai sumbernya. Lalu pembaca salah tangkap dan menisbatkan kesalahan itu murni pada Syekh Sya’rawi.

Syekh Abdullah al-Harari, tokoh dan pendiri Ahbasy itu, dalam al-Tahdzir asy-Syar’i al-Wajib sebagaimana dikutip oleh Darul Ifta al-Mashiriyah saat membahas Jamaah Ahbasy, mengkritik dan mentahdzir (agar menjauhi) kitab tafsir dan kumpulan fatawa Syekh Sya’rawi. Sebab banyak kesalahan fatal (thaamah kubra) di sana. Ia juga memberikan sejumlah contoh redaksi dan kesalahan yang lahir dari kurangnya ketelitian sebab buku-buku itu bukan karya tulis Syekh Sya’rawi sendiri melainkan dokumentasi atau transkip dari pengajian yang direkam dan disiarkan di televisi maupun radio. Dan kita tahu bedanya ilmu yang disampaikan secara verbal dan yang disampaikan lewat karya tulis.

Baca juga:  Mencari "Role Model" Kiai Mustain Romly

Melihat ini tak heran kemudian Ath-Thanahi menyarakan Al-Azhar dan ahli waris Syekh Sya’rawi untuk menyita semua buku-buku yang didokumentasikan oleh orang lain tapi dinisbtakan kepada Syekh Sya’rawi.

Kendati demikian tidak semua buku yang beredar di pasar sekarang tidak ditestui oleh Syekh Sya’rawi. Dalam jumpa pers yang sama, beliau berkata,”Aku putuskan para penerbit untuk tidak menyebarkan (menerbitkan) buku yang dinisbatkan kepadaku sebelum saya telaah secara personal atau ditelaah oleh orang yang saya tunjuk,”

Tentunya tidak sedikit yang sudah ditelaah sendiri oleh Syekh Sya’rawi atau wakilnya, tapi saya sendiri tak tahu banyak hal soal buku mana saja yang sudah ditelaah sehingga aman dikonsumsi dan sah penisbatannya pada beliau, kecuali Tafsir Sya’rawi yang dua puluh jilid itu sebab di cover depan tafsir itu ada tulisan tangan Syekh Sya’rawi tentang penamaan tafsirnya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top