Sedang Membaca
Lailatul Qadar dalam Al-Quran (2/3)
Ahmad Nurul Huda
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Meminati dunia pendidikan dan kajian tafsir. Sekarang guru di Guru MTs Amal Muslimin Bantrung Jepara, Jawa Tengah.

Lailatul Qadar dalam Al-Quran (2/3)

Pertanyaan kedua. إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡر “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Seakan-akan yang terlintas di benak kita, bahwa Lailatul Qadar sudah ada lebih dahulu, kemudian karena Al-Qur’an sesuatu yang mulia oleh karena diturunkan oleh Allah Swt. tidak pada sembarang waktu, tidak semabarang malam, tetapi khusus di Lailatul Qadar.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Itu yang terlintas saat kita membaca ayat di atas, Tetapi Imam Ibnu Asyur menerangkan bahwa nama Lailatul Qadar itu nama yang diberikan allah Swt, artinya sebelum surat al-qadar  turun, umat Islam belum mengetahui apa itu Lailatul Qadar, setelah turun Al-Qur’an umat Islam baru tahu ada sebuah malam yang diberi nama Lailatul Qadar.

Dari keterangan di atas paling tidak ada dua pendapat. Pendapat pertama Al-Qur’an turun di suatu malam yang sudah istimewa. Berbeda dangan pendapat kedua yang  menyatakan bahwa kemuliaan malam itu bukan karena dia itu malam, tetapi kemulyaan malam karena pada saat itulah diturunkannya kepadanya Al-Qur’an maka disebut Lailatul Qadar.

Begitu Al-Qur’an turun di malam itu, maka malam itu kemudian diberi nama Lailatul Qadar.  Misalnya Al-Qur’an turun pada malam jumat atau seandainya Al-Quran turun malam senin,  maka kemulyaan malam ada pada malam senin. Jadi sebelum Al-Quran aturun, nama-nama malam itu sama. Berhubung ada malam ditunkannya Al-Qur’an, maka malam itu menjadi malam yang mulia atau yang kita kenal dengan nama Lailatul Qadar.

Baca juga:  Selama Ramadan, Teras Kiai Said Gelar Diskusi

Bagaimana memadukan dua mendapat tersebut?

Kita padukan yaitu bahwa sebelum Al-Quran turun memang ada malam, malam yang mulia yang berbeda dengan malam lain. Misalnya kata “laila” artinya malam atau Lailatul Qadar kita maknai takdir sehingga laila artinya malam dan qadar dimaknai dengan Malam saat Allah Swt menjelaskan kepada para malaikat tentang hukum-hukum yang berlaku pada manusia dan berlaku pada alam semesta dan itu terjadi pada tiap tahun.

Kemudian muncul pertanyaanya, kapan sebaiknya Al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad saw?

Dipilihlah malam di mana malam itu adalah hukum-hukum tetang manusia, hukum alam semesta dan hal itu dijelaskan Allah Swt pada malaikat. Jadi Al-Qur’an diturunkan pada malam yang merupakan malam istiewa dan itu berlaku sejak zaman dahulu, sebelum zaman nabi Muahammad saw dan ketika yang turun pada malam itu adalah Al-Qur’an, maka malam itu kemuliaannya menjadi bertambah.

Al-Qadr artiya adalah malam saat hukum-hukum tentang manusia, takdir-takdir tentang manusia takdir tentang alam semesta dijelaskan Allah Swt pada malaikat,  sekaligus ia malam alqadr dalam artian adalah malam yang penuh kemuliaan dan malam yang penuh dengan keagungan. Lailatul Qadar artinya malam takdir, Lailatul Qadar artinya malam keagungan dan kemuliaan keduanya benar.

Baca juga:  Liverpool, Sepakbola dan Agama

Sebelum Al-Quran turun Lailatul Qadar dalam arti malam dimana Allah Swt menjelaskan takdir manusia dan takdir alam semeseta. setelah alquran turun maka malam itu keitimewaan menjadi bertambah, keagungannya berlipat, sehingga al-Qadar artinya adalah  kemuliaan dan Lailatul Qadar artinya adalah  malam  kemulaian  dan malam keagungan.

Al-Quran ditunkan pada malam Lailatul Qadar, maksudnya apa diturunkan di malam Lailatul Qadar?

Maksusdnya adalah yaitu wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhamamd saw melalui malaikat Jibril AS . Meskipun yang turun kepada Nabi Muahmmad saw hanya lima ayat surat al-Alaq, tetapi hal  itu sudah dapat dikatakan bahwa itu adalah Al-Quran. Misalnya kita membaca satu atau dua ayat Al-Quran sudah dimaknai kita membaca Al-Qur’an.

Menarik ketika kita memperhatikan urutan surah al-Qadar di dalam susunan mushaf jatuh setelah surah al-Alaq, hal  ini seakan-akan menjelaskan bahwa lafal inna anjalnahu dlomir “Hu” kemana?

Jawabannya: kembali ke surah sebalumnya yaitu awal surat al-Alaq.

Dari sini  kita bisa mengetahui meskipun yang diturunkan hanya lima ayat  (al-Qodar) ternyata mendapatkan keistimewaan yang sangat besar. Di antara keistimewannya adalah:

تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا

Sekian banyak malaikat ikut turun bersama mailkat Jibril, ikut menyaksiakan pemberian wahyu pertama dari Allah kepada Nabi Muhmmad saw.

Baca juga:  Nasihat Imam al-Ghazali untuk Anak-Anak Kita

Keitimewaan berikutnya bahwa Lailatul Qadar خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡر ‘lebih baik dari seribu bulan. Meskipun kalau kita lihat sejarahnya yang turun hanya lima ayat, kita sebagi umat Islam sudah diberi keitmewaan yang sangat besar oleh Allah Awt.

Mestinya kita kemudian berpikir dengan lima ayat saja disana ada keitimewaan yang besar. Maka semestiya sekian ribu ayat yang lain juga harus kita bisa mengambil keistimewaannya, kita harus mendapatkan keistimewaanya. Dengan kata lain bahwa Lailatul Qadar momen Al-Quran pertama kali diturunkan Allah Swt itu hanya sebagai pemantik, titik tolak, supaya kita mampu memaknai dan mengambil keisimewaan  dari ribuan ayat yang lain.

Kita tidak hanya berhenti dengan Lailatul Qadar, kita tidak hanya berhenti pada lima ayat yang diturunkan pertama kali, tetapi  kita harus bisa meraih, kita harus menggali, mengambil keitimewaan-keistimewaan dari ayat  lain yang jumlahnya  ribuan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
2
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top