Sedang Membaca
Bukan Sebatas Rindu Gus Dur
Penulis Kolom

Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA. Peneliti Islam Asia Tengara, menyelesaikan S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis beberapa buku.

Bukan Sebatas Rindu Gus Dur

Fgparjavqae5vi7 (1)

Saya telah diberi anugerah oleh Allah SWT untuk mendampingi program khusunya Pasca S3 S2, juga  S1, Fak. Islam Nusantara – UNUSIA Program Studi Sejarah peradaban Islam, https://fin.unusia.ac.id/ . Selama berjalan hampir dua tahun, saya merasa tak terbantahkan bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah menginspirasi semua mahasiswa dan dosen dalam berpikir dan menulis. Bisa dikatakan Gus Dur sudah menjadi paradigma kajian Islam dalam semua isu di sini.

Dalam riset-riset yang kami kembangkan, kami mencoba mengaitkan antara isu-isu klasik dengan isu-isu mutakhir atau kontemporer tentang sejarah, pelestarian lingkungan, kesetaraan perempuan, etika publik termasuk anti korupsi, hak-hak warga negara, minoritas, hubungan antar agama, diplomasi dan lainnya. Sesungguhnya seluruh masalah kehidupan di dunia ini sudah dibahas dalam kitab-kitab hadits, tafsir, fiqh yang berjilid-jilid sejak masa yang sangat awal pertumbuhan ilmu pengetahuan di dalam dunia Islam setidaknya sejak abad II H/VIII M.

Tidak ada satu pun masalah atau isu yang terjadi sekarang ini yang tidak ada acuan dan ibaratnya di masa-masa itu. Bahkan jika itu hal yang sangat baru, misalnya tentang luar angkasa dan kloning serta prinsip0prinsip dalam negara-bangsa. Tentu saja waktu itu belum secanggih sekarang. Dalam metodologi yang umumnya digunakan di pesantren dan NU, isu-isu itu bisa ditemukan ibaratnya di dalam kitab-kitab tersebut. Kodifikasi-kodifikasi perdebatan itu ada di kitab-kitab hadits, tafsir, fiqh, tarikh dan ushul fiqh atau sering disebut Kitab Kuning. Hanya karena berbeda zaman dan berbagai faktor maka ada tuntutan informasi dan pandangan-poandangan yang bersifat baru. Gus Dur pernah menulis, kita harus tetap mempertahankan tradisi tetapi bukan untuk tradisi itu sendiri melainkan untuk transforrmai.

Baca juga:  Djaduk Ferianto, Ngayogjazz, dan Ide Seorang Santri

Kami mengakomodasi berbagai metodologi modern Barat untuk mendorong dialektika lebih jauh di dalam kajian terhadap isu-isu tersebut. Karena itu tidak hanya terbatas pada fiqh dan ushu fiqh melainkan juga sosiologi, antropologi, sejarah  dan ilmu politik. Konteks dan perkembangan pemikiran serta tradisi yang hidup di dalam masyarakat sejak awal Islam di Nusantara, juga sebelumnya, menjadi bagian dari pergulatan dalam kajian-kajian tersebut.

Boleh juga dibilang kami mengembangkan metodologi, pemikiran dan argumentasi yang berkembang di forum-forum bahtsul masail NU dan santri di pesantren dengan menghadapkan pada berbagai masalah dan fenomnea masyarakat mutakhir. Pemikiran dan transformasi yang dilakukann Gus Dur baik di dalam NU maupun pemerintahan sebagai presiden menjadi salah satu sumber bagi topik-topik penelitian tesis dan disertasi di sini. Dengan kata lain Gus Dur telah mendasari kajian-kajian ilmiah di Pasca ini. Tentu saja perspektif kritis juga dikembangkan di sini.

Di Pasca ini juga ada mahasiswa beragama Protestan dan Hindu, agama lain silahkan masuk. Karena itu, kami juga mendapat asupan dari padangan-pandangan agama lain.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top