Sedang Membaca
Mengenal Ulama dan Kiai
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Ulama dan Kiai

Ahmad Solkan

Agama memang dapat menjadi perekat integrasi umat. Akan tetapi yang perlu kita waspadai agama juga dapat memicu lahirnya konflik. Seperti yang sedang marak akhir-akhir ini. Agama dijadikan alat pembenaran sepihak untuk berbuat yang justru secara agama itu sendiri bertentangan. Bahkan dalih untuk membunuh. Sebenarnya bukan agamanya yang menyebabkan sumber konflik, tetapi pemahaman atas agama itu sendiri.

Kita butuh orang yang mengajarkan sekaligus meneladankan agama secara baik dan benar. Di Islam disebut ulama. Bertugas membendung paham-paham yang bertentangan dengan Islam yang moderat dan nilai-nilai NKRI. Menjernihkan yang keruh. Mendamaikan umat. Bukan hanya seseorang yang memahami secara mendalam perihal agama semata, tetapi juaga mempunyai fungsi sosial sebagai tempat rujukan dan panutan umat.

Indonesia khususnya di Jawa biasanya ulama dipanggil kiai. Sebutan kiai sendiri disematkan untuk orang yang dihormati karena memiliki ilmu agama yang luas dan mendalam (meskipun ada sebutan kiai yang disematkan untuk nama benda atau hewan seperti Kiai Guntur Madu dan Kiai Slamet), serta mempunyai peran sosial kemasyarakatan yang tinggi.

Selain sebagai rujukan dan panutan umat, kiai (ulama) mempunyai fungsi sosial yang bermacam-macam, mulai dari mengisi rutinan pengajian, memimpin kendurinan, slametan, memberi nama bayi yang baru lahir, tempat keluh kesah masyarakat, bahkan sampai mengobati orang yang kesurupan pun meminta tolong pada kiai. Alangkah penting dan strategisnya peran kiai sebagai pengayom masyarakat.

Penulis jadi teringat dengan almarhum guru penulis waktu masih mondok di Pondok Pesantren At-Taslim, Soditan, Lasem, Rembang yakni KH Dimyathi Ihsan (Mbah Dim). Beliau merupakan kiai dan ulama sejati yang menyejukkan jiwa. Mengajarkan dan membimbing santrinya perihal bab akhlak, tata karma, budi pekerti serta pengetahuan lainnya sebagai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Alhamdulillah penulis bersyukur, kala itu penulis ditakdirkan oleh Tuhan menimba ilmu di Pondok Pesantren At-Taslim dengan Mbah Yai Dimyathi, karena sampai saat ini apa yang beliau ajarkan, teladankan hingga yang beliau bimbingkan sangat melekat di dalam sanubari penulis, pun bagi santri-santrinya yang lain dan masyarakat pada umumnya.

Selain karena kedalaman ilmu dan kejernihan hatinya, belaiu merupakan kiai yang tawaduk, ramah dan memiliki selera humor yang tinggi. Ini terbukti beliau sering kali (disowani) menjadi tempat rujukan dan keluh kesah problematika umat. Dengan pembawaan wajah sumringah beliau selalu melemparkan senyum bahkan tawa saat bersama umat.

Beranjak dari sekilas kisah Mbah Yai Dimyathi Ihsan tadi, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan dan berpikir kembali akan peran ulama dalam masyarakat terlebih dalam skala yang lebih besar yakni menjaga NKRI. Meskipun peran ulama dan kiai seperti tak terlihat, tetapi sebenarnya amat besar sekali pengaruh beliau-beliau itu. Khususnya dalam mendidik dan merawat akhlak dan budi pekerti umat. Ulama dapat dikatakan sebagai paku bumi Nusantara.

Baca Juga

Ada quote singkat bahwa ulama itu apabila kita didekatnya merasa sejuk, tenang dan tentram (tentunya karena ucapan dan prilakunya) maka itulah ulama sejati.

Sebaliknya bila kita di dekat ulama kita merasa panas dan tidak tentram, maka ulama tersebut perlu dipertanyakan kridebilitasnya. Oleh karenanya, kita juga perlu memilih untuk meneladani ulama yang mana yang pantas dijadikan panutan dan teladan.

Mari muliakan ulama mumpung mereka masih hidup. Karena mereka kita menjadi tahu dan mengenal ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw yang penuh kasih sayang dan cinta kasih. Meneladankan akhlak-akhlak yang indah dan mulia. Mereka merupakan warosatul anbiya’ (pewaris para Nabi). Muliakan ulama agar hidup menjadi berkah.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top