Sedang Membaca
Awal Mula Mengenal HTI di Pesantren Annuqoyah Madura
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Awal Mula Mengenal HTI di Pesantren Annuqoyah Madura

Ahmad Naufal

Tulisan ini bukanlah ulasan ilmiah, sebagaimana tulisan kelompok intelektual dan akademisi, melainkan hanya berupa oretan ringan saya tentang awal mula saya mengenal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi (politik) yang kini dilarang pemerintah. 

Baik saya mulai ceritanya. Pada waktu itu, tahun 2007. Lupa hari, tanggal dan bulannya. Tetapi yang jelas, saya sedang duduk di kelas dua Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum, Banyuanyar ada temen seblok, beda kamar yang sering kali membawa tabloid Media Umat ke kamarnya. Tabloid yang diterbitkan HTI. Saya masih ingat, dia sering kali membacanya di depan pintu kamar.

Saya yang waktu itu sudah mulai rajin membaca, tetapi tidak sampai pada maqom “kutu buku” mulai tertarik dengan Media Umat itu, sebab ide-idenya yang provokatif dan agitatif. Juga sebab si dalamnya acap kali membahas ide-ide liberalisme, kapitalisme juga Demokrasi, yang katanya “toghut itu.” Kebetulan pada saat itu saya sedang menggandrungi tema-tema pemikiran Islam, seperti Islam Liberal ala Gus Ulil Absar Abdallah, pluralismenya Gus Dur dan Cak Noer. 

Setiap teman kamar sebelah membawa tabloid Media Umat, saya sempatkan meminjamnya meski sedikit malu-malu kucing. Walhasil, saya sedikit memahami bahwa HTI menolak ide-ide liberalisme, pluralisme, sekularisme dan negara Demokrasi. Serta mencita-citakan berdirinya negara khilafah di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia. 

Tetapi saya tidak peduli, apakah ia mau menolak isme-isme dan mau mendirikan negara Islam. Bagi saya bodoh amat. Karena yang paling penting bagi saya adalah bisa memahami ide-ide Liberalisme, pluralisme, sekularisme dan isme-isme yang dicomot Media Umat tersebut dari berbagai sumber. 

Tidak hanya melalui tabloid Media umat itu saya berkenalan dengan isme-isme, tetapi juga melalui majalah “Hidayatullah” yang ada di perpustakaan pesantren. Saya tekuni belajar isme-isme di media tersebut, sebab perpustakaan di pesantren saya itu tidak mengoleksi buku-buku yang berbau liberal. Katanya sih berbahaya bagi iman para santri. Entah lah. 

Jadi untuk membaca ide-ide sekularisme, pluralisme dan liberalisme terpaksa harus menggilai majalah Hidayatullah, yang katanya majalah paling islami seantero alam; dari kota hingga ke pelosok desa. Keseharian saya tidak lepas dari majalah tersebut, meski harus dengan cara mencurinya saya mendapatkannya. 

Saya curi majalah tersebut di perpustakaan, saya bawa ke kamar dan difotokopi halaman-halaman yang memuat isme-isme yang amat saya gandrungi tersebut. Saya jadikan kliping pemikiran-pemikiran keislaman. Baru keesokan harinya saya kembalikan ke perpustakaan. Rutinitas seperti ini saya jalani sampai lulus dari pesantren. Tetapi maaf, saya tidak bisa ngasih tahu Anda, tentang bagaiamana saya berhasil mencuri majalah dan buku di perpustakaan pesantren tercintaku itu. 

Sekarang kembali lagi ke persoalan HTI. Lama kelamaan tidak hanya tabloid Media Umat yang saya jumpai di pesantren, juga ada buletin “al-Islam” yang ditempel di Majalah Dinding (Mading). Selang beberapa hari, ternyata majalah “al-wa’ie” (majalah milik HTI) juga beredar di pesantren. Tetapi hanya orang-orang tertentu yang mendapatkannya. Dan saya tahu orang-orangnya. Saya beranikan diri bertanya, dari mana mendapatkan buletin, majalah, dan tabloid HTI?  “ada orang pamekasan yang mengantarkannya ke sini,” jawab salah satu dari mereka. 

Rasa penasaran itu mulai tumbuh. Perlahan tapi pasti, seperti kecambah. Kemudian saya rajin membacanya, lembar demi lembar untuk memahami ide-idenya. Sampai lulus dari Madrasah Aliyah (MA)  belum sekalipun saya mengikuti halaqah-halaqahnya. Melihat batang hidung aktivis-aktivis HTI pun juga belum pernah. Apakah beberapa teman di pesantren yang rajin membawa majalah-majalah HTI itu adalah anggota HTI atau bukan, saya kurang tahu. Saya tidak pernah menyelidikinya. Tidak penting ngurusin orang. 

Hingga pada satu waktu, di tempat saya mengabdi, menjadi guru tugas, oleh Tuhan saya dipertemukan dengan aktivis HTI. Kebetulan dia membawa tabloid “Media Umat” ke tempat di mana saya dan dia mengajar. Dia Pegawai Negeri Sipil (PNS)  asal Pamekasan, Madura. Dan langsung nanya, “bapak, ini media umat miliknya HTI kan?” “Iya benar, ini medianya HTI. Jawabnya sambil menyodorkannya kepada saya. “Ini kalau mau membaca,” katanya. 

Saya bercerita bahwa di pesantren saya suka membaca media-media HTI; al-Islam, Media Umat, dan al-Wa’ie. Senyum sumringah memancar dari bibirnya, dan kemudian panjang lebar dia menjelaskan apa itu HTI, tujuan dan hingga penolakannya terhadap sistem kenegaraan selain Islam. Termasuk sistem Demokrasi di Indonesia. Nyerocos. Saya khidmat mendengarkannya. Sengaja tidak membantahnya, karena saya ingin mengenali HTI lebih intim. 

Di akhir obrolannya, dia mengajak saya untuk menghadiri halamannya (semacam diskusi ilmiah) dan menghadiri parade Tauhid di Monumen Arek Lancar, Pamekasan. Saya tidak paham, apa itu parade Tauhid? Dalam bayangan saya, ia serupa dzikir-dzikir kalimat tauhid dan kajian-kajian ke-Tauhidan. 

Saya beranikan bertanya, “parade Tauhid itu kegiatannya apa? “kirab bendera tauhid, semacam konvoi gitu lah.” Dia menjelaskan. “serius, Tauhid diparadekan, bukannya Tauhid itu bersemayam di dalam kalbu? Pikiran itu Berkelabat dalam benak saya. Tapi karena kesibukan saya di pesantren, tempat saya ngajar, saya tidak bisa mengikuti halaqah-halaqahnya, juga parede tauhidnya hingga masa tugas pengabdian saya berakhir. 

Baca Juga

Meski tidak pernah menghadiri halaqah-halaqahnya, tetapi saya tetap dia tetap membawakan saya media-media HTI, sehingga saya tetap bisa membacanya dan mengakaji setiap jengkal pemikirannya. Dan dari situ lah saya menjadi tahu, bahwa pendiri HTI adalah Taqiyudin an-Nabani. 

Sungguh, Tuhan masih teramat sayang pada saya, saya yakin itu. Sebab setelah saya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, kembali saya dipertemukan dengan para aktivis HTI. Mungkin Tuhan menghendaki saya paham HTI beserta tetek-bengiknya. 

Aktivis HTI itu teman satu jurusan saya; Pendidikan Agama Islam (PAI)  di Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman An-Nuqayah (STIKA), yang kini menjadi Institut Ilmu KeIslaman An-Nuqayah (INSTIKA). Kampus di bawah naungan Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep. Bahkan dia adalah santri di salah satu kompleks pondok pesantren An-Nuqayah. Wah, pesantren se-plural dan se-inklusif An-Nuqayah terjangkiti virus HTI?  Tidak. Hanya saja ada segelintir santri-mahasiswa yang menjadi anggota HTI yang tanpa sepengetahuan An-Nuqayah. 

Karena jika Annuqayah tahu, pasti segelintir orang itu tidak dibiarkan bebas menyebarkan virus HTI dengan negara-khilafah sebagai mimpinya. Asal kamu tahu, An-Nuqayah itu nasionalis banget. Ia akan menghadang dan melawan setiap ideologi yang merongrong Pancasila. Apa pun nama dan bentuknya. 

Nah, dari teman sekampus itu lah saya kembali bisa menikmati buku-buku dan majalah ke-HTI-an. Dia rajin mengirimi saya buku dan majalah ke-HTI-an secara cuma-Cuma. Dan tidak hanya di situ, dia juga rajin ngajakin saya untuk mengikuti halaqah-halaqahnya dan bertemu para ustadznya, supaya saya tercerahkan. Katanya. “Emang saya tidak cerah?” Saya menggerutu. 

Apakah saya kemudian menuruti ajakannya, bertemu para ustadz, ikhwan wa akhwat HTI? Nantikan oretan saya selanjutnya. Termasuk tentang bagaimana HTI bergrilya di bumi An-Nuqayah melalui kampus INSTIKA dalam menyebarkan mimpi khilafahnya. 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top