Sedang Membaca
Teologi Wabah: Laporan Ibnu Hajar al-Asqalani Terhadap Pandemi

Nahdliyin, menamatkan pendidikan fikih-usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. Sekarang mengajar di Ma'had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Menulis Sekadarnya, semampunya.

Teologi Wabah: Laporan Ibnu Hajar al-Asqalani Terhadap Pandemi

Img 20210323 Wa0029

Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang sarjana muslim kenamaan pernah hidup dalam kondisi penuh ketakutan dan ancaman kematian. Ia menyaksikan ribuan orang, termasuk, tiga orang anak kandungnya wafat karena sebuah penyakit yang belakangan disebut dengan pandemi. Kejadian yang menimpa komentator kitab Hadis Shahih Bukhari itu terjadi pada tahun 1444. Dari kejadian itu, ia menulis reportase khusus bagaimana Pandangan agama terhadap penyakit yang dikenal dengan wabah. Ia kemudian menulis buku yang bertajuk “Badzlu al-Maun fi Fadhl al-Tha’un”.

Dalam kitab ini, Ibnu Hajar melaporkan secara mendetail semua hal yang berkaitan dengan wabah thaun. Kitab tersebut terdiri dari empat bab pembahasan panjang. Secara singkat pembahasan kitab tersebut berisi. Bab pertama, berisi tentang konsep Thaun. Bahwa ia merupakan azab bagi orang-orang masa lalu, bahwa keberadaanya adalah azab bagi orang kafir dan menjadi ladang kesyahidan bagi orang Islam dan lain sebagainya. Bab dua, berisi kajian bahasa dan semantik dari thaun, kaitan thaun dengan wabah, bahwa penyebab utama penyakit ini adalah ulah jin dan lain sebagainya.

Bab ketiga, berisi thaun adalah rahmat Allah Swt. bagi orang Islam, konsepsi mati syahid bagi mereka yang terkena wabah dan lain sebagainya. Bab keempat, berisi bagaimana menyikapi sebuah pandemi, mulai dari konsep lockdown, sosial distancing, konsep usaha dan pasrah dalam menghadapi pandemi, kisah Sayyidina Umar ibn Khattab yang enggan masuk ke sebuah daerah zona merah dan lain sebagainya. Sementara bagian akhir berisi keleidoskop dan beberapa catatan penting yang berkaitan dengan kitab ini.

Ibnu Hajar berpandangan, Thaun adalah azab bagi orang-orang terdahulu. Ia memberi kesimpulan itu, setelah membaca beberapa bunyi hadis yang berkaitan dengannya. Namun demikian, keberadaan penyakit yang mematikan ini tidak selamanya mencekam dan menakutkan. Justru bagi seorang muslim, penyakit thaun bisa menjadi sebab kesyahidan, yaitu posisi yang amat tinggi bagi seseorang. Di sana digambarkan, siapapun yang meninggal karena thaun maka ia dianggap mati syahid.

Baca juga:  Sinyal Kuota Kemendikbud (1): Ikhtiar untuk Menjamin Hak Belajar Anak

Thaun sebagaimana pandangan ulama didefinisikan dengan beberapa kategori, 1. Adalah sebuah penyakit menular dan menyebar luas (infectious/contagious), 2. Penyakit yang mengotori udara dan menggerogit tubuh, 3. Penyakit yang menyebabkan kematian dengan amat cepat. Sementara Ibnu Hajar menyebut wabah adalah penyakit pandemik atau epidemik, thaun penyakit yang menular dengan cepat dan mematikan, penyebab thaun adalah ulah jin dalam darah, menyebabkan gumpalan darah beracun, dokter dan medis tak mampu menjelaskan dan yang penting, wabah juga pernah menimpa kota Madinah.

Ada perbedaan antara wabah dan thaun. Wabah lebih umum dari thaun dan thaun lebih khusus dari wabah. Artinya setiap thaun adalah wabah dan belum tentu setiap wabah adalah thaun. Dalam konteks ini, maka virus Covid-19 yang menimpa dunia setahun belakangan ini bisa disebut wabah tapi ia tidak bisa disebut thaun. Sebab memang tanda-tanda thaun tidak ada pada virus Covid-19 akan tetapi keduanya sama-sama menjadi penyakit yang sifatnya transnasional dan menyeluruh (al-Maradh al-Aam).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika wabah sudah melanda sebuah daerah, maka dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama adalah selamat dengan usaha yang amat melelahkan, kedua mati karena tertular penyaikit yang mematikan. Dalam Islam, ketika manusia sudah berusaha dengan semaksimal mungkin dan ia masih terpapar juga maka ia akan menerima pahala kesyahidan. Syahid yang arti literalnya adalah “melihat-bersaksi” bermakna bahwa Allah Swt dan malaikan menjadi saksi bahwa ia akan masuk surga.

Ibnu Hajar menyebut, seorang yang terpapar wabah bisa mendapat kategori syahid dengan beberapa syarat. Pertama, niat yang tulus, bahwa dia sedari awal sadar kematian ada di genggamanNya. Kedua, pasrah setelah usaha. Artinya tidak boleh kemudian berpasarah total tanpa ada sebuah usaha. Pesan Rasulullah yang disampaikan Aishah:

“Thaun adalah azab yang bisa menimpa siapa saja, dan ia bisa menjadi rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidak seorangpun yang terpapar penyakit ini, lalu isolasi mandiri di rumahnya dengan penuh kesabaran hanya berhadap kepada Allah dan sadar bahwa ia adalah ketentuan Allah Swt kecuali ia akan mendapat pahala orang syahid”.

Masih menurut Ibnu Hajar, saking besarnya pahala dan keutamaan thaun, seorang bisa mendapat pahala kesyahidan tidak harus meninggal. Artinya ketika ia terpapar kemudian sembuh maka ia tetap mendapat pahala syahid.

Baca juga:  Adakah (Kajian) Filsafat Islam di Indonesia?

Pada bagian keempat, Ibnu Hajar dengan detail membahas langkah apa yang perlu dilakukan ketika terjadi wabah ini. Pertama-tama, ketika terdapat informasi sebuah penyakit menular dan membahayakan, maka langkah awal adalah melakukan lockdown. Mencegah orang dalam keluar dan mencegah orang luar masuk. Itu yang terbaca dari sabda nabi:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فُرَّارًا مِنْهُ»

“Apabila kalian mendengar wabah di sebuah daerah maka kalian jangan memasuki daerah itu dan jika wabah itu ada kalian kebetulan di daerah tersebut maka janganlah keluarlah dari sana, berlarilah dari wabah”

Argumen di atas kemudian dijadikan pijakan oleh Khalifah Umar ibn Khattab ketika ia hendak ke Damaskus sementara di sana tersiar ada wabah. Khalifah kedua itu kemudian memutuskan kembali ke Madinah. Sikap Umar ini kemudian diprotes banyak pihak, salah satunya adalah Abu Ubaidah. Ia bertanya, “Akankah engkau lari dari takdir Allah Swt?, Umar menjawab, “Aku berlari dari satu takdir ke takdir Allah Swt. yang lain”.

Pertama kali Indonesia dilanda pandemi covid-19, ada pertentangan teologis dalam menyikapinya. Ada yang bersikap fatalistik di satu sisi dan ada yang amat paranoid di sisi lain dan anehnya dua sikap ini dikaitkan dengan ajaran agama. Sebenarnya, jika ditelaah lebih mendalam menjadi jelas bahwa agama mengajarkan moderasi dua kutub yang bersebrangan. Agama mengajarkan agar manusia berusaha sekaligus pasrah. Jadi dalam menghadapi pandemi ini manusia berdiri antara usaha (ikhtiar) dan pasrah (al-Jabru). Usaha sesuai aturan dan ketentuan medis dan setelah itu dilakukan semua memasrahkan hasil akhirnya pada Allah Swt.

Baca juga:  Hijrah yang Salah Kaprah

Dalam kitab ini, Ibnu Hajar juga melaporkan sebuah peristiwa yang menyebabkan jumlah kematian bertambah. Penyebabnya, pada bulan Rabi’ul Awwal manusia ramai-ramai membaca kitab Shahih Bukhari. Ditambah suatu waktu ada seseorang bermimpi. Dalam mimpinya disebut bahwa jika wabah akan segera berhenti hendaknya membaca surat Nuh sebanyak 3363 kali. Alih-alih berkurang justru wabah semakin mengganas dan banyak memakan korban.

Selang beberapa waktu, imam setiap salat meminta membaca qunut, doa dan memerintahkan manusia berpuasa tiga hari berturut-turut. Kerumunan tak dapat dihindari, manusia berkumpul di satu titik. Dan apa yang terjadi? Korban yang berjatuhan makin tak karuan. Poinyya adalah dalam kondisi darurat seperti sedang wabah melanda, hendaknya yang dijadikan rujukan adalah ahlinya. Dalam soal agama adalah ahli fikih dan soal medis adalah dokter.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia hingga hari ini belum menunjukan tanda-tanda selesai. Munculnya varian jenis baru dari covid-19 ini makin membuat dunia kewalahan menghadapinya. Sebagai catatan akhir, penulis akan mengutiip sebuah tips untuk menghadapi wabah pandemi yang ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitab Zad al-Maad.

Tips itu adalah Pertama, menjauhi dan menghindar semua hal yang menyebabkan manusia terpapar (isolate), kedua, jaga kesehatan sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat (take care of your healty), ketiga, jangan menghirup udara yang sudah tercemar atau dalam bahasa sekarang menggunakan masker (face mask), keempat, jangan mendekat dan berinteraksi dengan mereka yang sudah terpapar virus ini (sosial distancing), kelima, berfikiran positif dan buang fikiran buruk (positive tingkhing), keenam, bersikap moderat, antara usaha dan pasrah, dan ketujuh adalah terus melakukan edukasi (ta’lim) dan berikan sanksi (ta’dib) untuk mencegah meluasnya virus ini.[]

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top