Sedang Membaca
Nasihat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Saat Menikmati Makanan
Ahmad Faozan
Penulis Kolom

Penggerak Pustaka Tebuireng

Nasihat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Saat Menikmati Makanan

Semua makanan bagi santri, nikmat semua. Padahal cuma nasi plus sambal terong, umpamanya. Siraman air ke bekas memasak nasi pun rasannya seger sekali. Entah, yang dibayangkan teh manis atau kopi pahit. Hal itu juga akan terkenang selalu selepas kita keluar dari pesantren.

Bersyukurlah, para santri sekarang yang sudah tidak perlu repot memasak, tinggal memakan saja. Meskipun tidak semuanya seperti itu. Kenapa?

Masih banyak kita jumpai sejumlah pondok pesantren yang membolehkan santrinya memasak sendiri. Baiklah, intinya, bukan soal boleh masak-memasak. Tetapi, menikmati makanan.

Dalam hal ini, petuah dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan keluarganya menarik dijadikan teladan. Sosok Kiai Karim Hasyim atau kiai yang memiliki nama samaran Akarkhanaf ini di dalam keluarganya benar-benar mengajarkan keteladanan yang saya kira perlu dicontoh.

Putra Hadratussyaikh ini tidak pernah mengeluh mengenai menu makanan yang dihidangkan di meja makannya. Beliau selalu bersyukur menikmati makanan bersama keluarganya.

Cara beliau memakan pun menurut keluarganya tak biasa. Kiai Karim selalu mengawali makan dengan cara menghabiskan lauk-pauknya yang biasa saja.

Beliau sisakan lauk yang enak untuk dimakan menjelang akhir. Kenapa demikian?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Kiai Karim, “Inilah cara menikmati makanan. Yang kurang enak dimakan terlebih dahulu sedangkan yang enak di akhir. Sama dengan kita hidup, kita harus merasakan hal-hal yang kurang enak di hati kita. Toh, nanti kita akan merasakan sesuatu yang enak dikemudian hari.”

Baca juga:  Sisi Lain Sejarah Berdirinya NU dan Muhammadiyah

Dalam hal ini, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah berpesan kepada putranya, “Di saat makan, kalau mau menambah maka sisakan yang ada di piring jangan dihabiskan terlebih dahulu. Tetapi disisakan entah satu atau dua sendok agar rizkinya tidak habis. Setelah itu, baru tambah entah nasi atau lauk pauknya, agar kita mendapat rizki dari Allah pada saat kita tidak mendapatkan kenikmatan yang diberikan lagi oleh Allah.”

Soal makan, KH. M. Yusuf Hasyim putra Kiai Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari lainnya juga dawuh. “Kepribadian seseorang itu dapat terlihat saat ia makan.” Betapa, membaca kepribadian seseorang memang tidak melulu dari gaya berkomunikasi dan tulisan tangannya namun juga saat seseorang makan. Pesan ini pernah saya baca di dalam ndalem wingking dekat Asrama Lasykar Hizbullah, Pesantren Tebuireng.

Sedangkan melihat Gus Dur cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam hal makan, tampaknya semua makanan nikmat. Walaupun terkadang dilarang oleh dokter tetap saja dalam luar kesempatan sering melanggar, beliau tak menghiraukan aturan makanan untuknya. Entah, karena makan bersama orang khusus. Entah karena ingin menghormati yang membuat makan. Dan lain sebagainnya.

Begitupun dengan Gus Sholah, nampaknya dari cara beliau makan lahap sekali meskipun lauknya hanya tahu dan tempe plus sayur. ‘Tepak giliran menu itu, karena tiap hari menu makan santri berubah-rubah.’ Dengan memakan hidangan para santri-santri dan pengurus pondoknya bagi Gus Sholah tidak sekedar merasakan kenikmatan sebuah makanan. Lebih dari itu menjadi lebih tahu menu makanan buat para santrinya sudah kaya gizi belum.

Baca juga:  Gastronomi dan Upaya Memuliakan Pangan Nusantara

Pesan penting yang bisa dipetik adalah. Gunakanlah etika saat makan. Jangan mencaci maki makanan. Bersyukurlah bisa makan, dan lain sebagainya. (Diolah dari berbagai sumber) Buat para Kiai di atas, al-Fatihah.

Selamat Idul Fitri 1441 H/ 2020.* Mohon segala kesalahan yang disengaja maupun tidak sengaja dimaafkan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top