Sedang Membaca
Mengenal Sastrawan Feminis dari Jazirah Arab
Penulis Kolom

Mahasiswa S1 dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berasal dari Pondok Aren, Tangerang Selatan. Memiliki akun instagram: @afifahauliarr

Mengenal Sastrawan Feminis dari Jazirah Arab

Sastra Arab

Perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu disebut patriarki. Perilaku patriarki inilah yang melatarbelakangi lahirnya gerakan feminisme. Pengertian feminisme menurut KBBI adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.

Di Jazirah Arab, budaya patriarki ini sudah ada sejak zaman Arab Jahiliyah, dimana perempuan ditempatkan pada posisi yang kurang menguntungkan. Perempuan Arab harus menghadapi sebuah kondisi dimana kehadirannya tidak lebih baik daripada laki-laki.

Ketimpangan relasi gender antara laki-laki dan perempuan tersebutlah yang membuat gerakan feminisme lahir di wilayah Arab. Selain itu, gerakan feminisme di Arab juga memengaruhi khazanah kesusastraan pada saat itu, sehingga lahirlah sastra perempuan atau sastra feminis.

Berikut ini beberapa tokoh sastawan feminis Arab beserta karya-karyanya.

  1. Nawal el-Sadawi
    el-Sadawi adalah seorang tokoh feminis terkemuka dari Mesir. Ia menggeluti bidang sosiologi, psikiater, dokter, dan seorang aktivis serta penulis yang secara konsisten membahas tentang isu-isu wanita Arab. Nawal el-Sadawi lahir tahun 1931 di sebuah desa bernama Kafr Tahla, tepi sungai Nil. Banyak tulisannya yang menginsipirasi orang-orang, baik itu dari Timur maupun dari Barat.

Sepanjang hidupnya, el-Sadawi terus menerus memperjuangkan hak-hak perempuan. Dia menulis lebih dari 50 buku fiksi dan non-fiksi dan merupakan salah satu penulis yang bukunya paling banyak diterjemahkan ke dalam dua belas bahasa di dunia.

Diantara karya-karya Nawal el-Sadawi adalah Perempuan di Titik Nol (membahas tentang nasib menyedihkan yang dialami oleh perempuan bernama Firdaus), lalu Perempuan dalam Budaya Patriarki (membahas perilaku patriarki yang dialami perempuan), Jatuhnya Imam, Perempuan dan sex, dan sebagainya.

  1. Fatima Mernissi
    Fatimah Mernissi lahir di Maroko pada tahun 1940, di kota Fez (Harem). Mernissi adalah seorang sosiolog Maroko yang telah banyak menulis tentang peran perempuan Arab dalam dunia Islam. Mernissi juga seorang penganut Islam Liberal yang meyakini bahwa nilai-nilai demokrasi liberal akan mampu berdampingan dengan Islam.
Baca juga:  Amr bin Jamuh: Sahabat Sepuh, Veteran Perang Uhud

Menurut Mernissi, permasalahan diskriminasi terhadap perempuan disebabkan oleh sosio-budaya Arab. Diskriminasi tersebut terjadi karena dominasi laki-laki lebih diatas perempuan. Dominasi tersebut memandang negatif terhadap perempuan dalam berbagai perspektif.

Diantara karya-karya Mernissi adalah Beyond the Veil: Male-Female Dynamics in Modern Muslim Society (membahas tentang seks dan wanita), Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry (membahasa wanita dan politik), Islam and Democracy: Fear of Modern World, The Forgotten Queens of Islam (membahas wanita dan demokrasi), dan sebagainya.

  1. Assia Djebar
    Assia Djebar adalah nama pena dari Fatima-Zohra Imalayen, merupakan seorang penulis novel dan essay serta penerjemah yang lahir di Cherchell, Aljazair pada 4 Agustus 1936. Lahir dan besar di Aljazair, Djebar menulis lebih dari 15 novel dalam bahasa Prancis dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Karya Djebar berfokus pada dunia wanita Muslim dan perjuangan pembebasan sosial.

Assia Djebar menyatakan berbagai wujud eksploitasi yang dirasakan kaum wanita di Aljazair dan berbagai tantangan yang dirasakan oleh para feminis Aljazair yang hidup di bawah pengaruh nasionalisme patriarkhat.

Diantara karya Assia Djebar adalah La Soif (membahas tentang sebuah studi psikologis tentang konflik wanita dari generasinya), Les Impatients (membahas emansipasi wanita), Les Enfants du Nouveau Monde (membahas nasib anak-anak dan perempuan korban perang), L’Amour, la fantasia dan sebagainya.

  1. Radwa ‘Ashour
    ‘Ashour lahir di Kairo, 26 Mei 1946 adalah seorang pendongeng, novelis, kritikus sastra, dan profesor di Universitas Mesir. Karya sastranya dicirikan oleh tema-tema pembebasan bangsa dan manusia.
Baca juga:  KH. Agus Sunyoto, Sang Begawan Sejarah NU Berpulang

Novel sejarah dan karya kritisnya telah diterbitkan dalam bahasa Arab dan Inggris. Karyanya berkisar dari produksi teoretis hingga yang berkaitan dengan pengalaman sastra tertentu. Beberapa karya kreatifnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Spanyol, Italia, dan Indonesia.

Hingga tahun 2001, pengalamannya diwarnai dengan eksklusivitas karya-karya kreatif dan fiksi dengan terbitnya tiga novel, yaitu The Warm Stone , KhadijahSawsan and Siraj dan kumpulan cerpen I See the Nakhl, pada tahun 1989 serta novelnya Tsulatsiyah Gharnaathah, pada tahun 1994 yang memenangkan Penghargaan Buku Terbaik untuk tahun 1994 di Pameran Buku Internasional Kairo.

  1. Ihsan Abdul Quddus
    Ihsan Abdul Quddus (1 Januari 1919 – 12 Januari 1990) adalah seorang penulis dan novelis Mesir. Ia dianggap sebagai salah satu novelis Arab pertama yang menceritakan kisah perempuan dengan cinta yang jauh dari keperawanan. Sebagian besar kisahnya diubah menjadi film.

Abdul Quddus telah menulis lebih dari 600 novel dan cerita, dan sinema Mesir. Diantara karyanya, 49 novel menjadi film, 5 novel menjadi naskah teater, 9 novel menjadi serial radio, 10 novel berubah ke dalam serial televisi.

65 novelnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Ukraina, dan Cina, dan sebagian besar novelnya menggambarkan korupsi masyarakat Mesir dan kegemarannya pada kejahatan, cinta seks, hasrat, dan jauh dari moral. Novel an-Nazharaatu Saudaa’ (Kacamata Hitam), Bai’ul Hubbi (Penjual Cinta) dan Shaani’ul Hubbi (Pembuat Cinta), yang diproduksi sebelum revolusi 23 Juli 1952. Karya-karya tersebut sebagian membahas tentang sex.

  1. Nizzar Qabbani
    Nizzar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923 dan wafat di London 30 April 1998. Dia adalah seorang diplomat dan sastrawan. Nizar Qabbani telah menjadi penulis yang produktif sepanjang hidupnya. Penyair Suriah ini mengabdikan hidupnya untuk menulis beberapa karya yang membuat dunia Sastra Arab bangga kepadanya.
Baca juga:  Kiai Nawawi Abdul Jalil Sidogiri dan Hari Ahad yang Diimpikannya

Dia menyuarakan pendapatnya tentang hak-hak perempuan melalui puisinya. Hampir semua tulisannya didominasi dengan feminisme. Qabbani dengan sangat baik menggambarkan penderitaan perempuan dalam masyarakat kontemporer.

Nizar Qabbani merupakan sastrawan yang memfokuskan dirinya pada puisi, diantara karya-karyanya yang terkenal adalah Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau (membahas tentang citra perempuan), Republic of Love (membahas cinta dan sejarah wanita dalam budaya Arab). Arabians Love Poems (membahas puisi romantis), I Write the History of Women Like So (membahas sejarah wanita), dan sebagainya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top