Penulis Kolom

Afifah Ahmad: Penyuka traveling, penulis buku "The Road to Persia" dan anggota Gusdurian Teheran.

Ngaji Rumi: Beragama dengan Gembira

Pada malam pembukaan Temu Nasional Gusdurian Agustus 2018 yang lalu, tampak wajah-wajah serius para peserta yang datang dari berbagai sudut tanah air. Mereka siap meluncurkan berbagai ide gemilang. Anehnya, panitia malah menyuguhkan pertunjukan musik dan standup comedy.

Awalnya, saya juga sedikit bingung. Bukankah kami berkumpul di sini untuk diskusi isu-isu kebangsaan yang begitu runyam, kok malah disuruh ketawa. Lambat laun saya pun terbawa suasana. Tak dapat menahan tawa, bahkan beberapa kali sempat terbahak.

Para komedian yang umumnya masih mahasiswa itu, menyampaikan kritik mereka soal masih maraknya isu sara, dalam guyonan segar.

Ternyata, pesan yang disampaikan dengan cara seperti ini, mudah masuk dan mengendap dalam memori kita. Bahkan, kalau saya bertanya pada ke anak saya, apa bagian yang paling berkesan dari acara Temus Gusdurian, dia dengan cepat menjawab “standup comedy” sambil menyebutkan bagian detail cerita yang ia suka.

Jika ditarik secara teoritis, gambaran ini erat kaitannya dengan teori kebahagiaan. Menurut Martin Seligman, pengusung psikologi positif dan penulis buku Authentic Happiness: Orang yang gembira dan bahagia memungkinkan untuk mencapai prestasi yang lebih maksimal. Belakangan, teori kebahagiaan ini terus dikembangkan di dunia pendidikan.

Jauh sebelum Seligman, Rumi secara lebih mendasar meyakini bahwa asal kehidupan dunia ini penuh suasana kegembiraan. Misalnya, Rumi mencontohkan bahwa secara alamiah (karena ada beberapa kasus juga yang terjadi di luar proses alamiah, seperti perkosaan dll), awal mula penciptaan seorang anak bermula dari detik-detik kebahagiaan ayah dan ibu. Seperti syair yang ditulisnya di buku Mastnawi, jilid 6, bait 1805-1806)

Pembuahan terjadi diawali suasana kegairahan
Sebagaimana musim semi suburkan taman-taman
Pohon-pohon dan aneka buah yang tumbuh bersamaan
Adalah simfoni musim semi yang hasilkan percintaan

Baca juga:  Kiai Wahab dan Rokoknya

Bahkan Rumi juga berpendapat, tumbuh kembang hakiki seluruh makhluk hidup di dunia ini mensyaratkan kondisi kegembiraan dan kebahagiaan (Masnawi, 6, 1798). Sejak perkembangan sel-sel dalam janin, hingga perbaikan sel-sel tubuh manusia dewasa. Bahkan, seluruh pertumbuhan makhluk hidup di dunia ini tak lepas dari suasana kenyamanan yang memengaruhinya.

Pandangan Rumi ini sekaligus membedakannya dari banyak arif dan guru sufi lainnya. Tidak sedikit bait-bait puisi Rumi yang mengekspresikan rasa gembira, bahagia, juga kelezatan.

Menurut Irja Shahbazi, ungkapan kegembiraan Rumi itu biasanya diwakili dengan kata shekar atau shakar yang berarti manis.

Masih menurut Shahbazi, setidaknya, Rumi menggunakan kata Shakar sebanyak 700 kali dalam berbagai bait puisinya. Salah satu bait puisi yang banyak mengulang kata shakar. Misalnya dalam Kulliyat Shams: bait 1393

Bar hameghan gar ze falak zahre bebarad hame shab
Man shakar, andar shakar, andar shakar, andar shakaram
Seandainya hujan racun tercurah dari langit sepanjang malam
Aku tetap merasakan kelezatan, bahkan kelezatan di atas kelezatan

Rumus Gembira dalam Beragama
Meskipun fitrah manusia memang menyukai suasana kegembiraan. Namun, sebagaimana fitrah-fitrah baik lainnya, seringkali terbenam dan perlu terus dikawal. Lalu, bagaimana cara Rumi merawat kelezatan dan kebahagiaan dalam beragama?

Menyadari Rasa Gembira Hadiah dari Tuhan
Dalam pandangan Rumi, alam adalah perwujudan dari keindahan Tuhan. Maka, rasa bahagia dan gembira pun merupakan pantulan dariNya. Sebagaimana syair yang ditulisnya di dalam buku Matsnawi, jilid 5, bait 3312-3321:

Tuhan!
Engkaulah musim semi dan kami bak taman-taman yang indah
Musim semi tak dapat diraba, namun kehadirannya begitu terasa
Engkau seumpama ruh
Dan kami ibarat kaki tangan
Ruhlah yang menggerakkan kaki dan tangan
Engkaulah kecerdasan
Dan kami serupa lidah
Lidah bicara lantaran perintah akal
Engkau laksana kebahagiaan
Dan kami senyuman
Senyum adalah buah kebahagiaan
Setiap gerak kami adalah bukti kehadiranMu, Duhai Tuhan yang Maha Agung lagi Abadi.

Kesadaran inilah yang membuat Rumi selalu dipenuhi harapan, kebahagiaan, dan kegembiraan. Ketika menyadari seluruh yang kita lakukan terhubung kepadaNya, rasanya tidak ada ruang untuk pesimis, bersedih, dan putus asa.

Baca juga:  Gus Dur, Manusia Biasa yang Langka

Belajar Mencintai Tak Pernah Henti
Seluruh intisari ajaran Rumi jika diringkas dalam satu kata adalah “cinta”. Ya, Rumi memang sejak awal menggerakkan tasawuf mazhab cinta. Karena Rumi membangun kesadaran diri dan murid-muridnya melalui pelajaran mencinta.

Tentu, saya tidak akan menuliskan konsep cinta menurut Rumi, karena akan memakan ruang berlembar-lembar. Saya hanya akan memilah beberapa bait puisi yang bercerita hubungan cinta dan kebahagiaan. Seperti beberapa puisi Rumi dalam buku Kulliyat Shmash, bait 1989:

Dunia getir menjadi indah bagai surga
Kau ajarkan padaku cara berbahagia
Meski sejak lahir telah kusesap rasa gembira
Tapi cinta mengajariku lebih dalam mereguk bahagia
Duhai cinta, pada katamu menguar aroma suka cita
Dari cahayamu, menarilah para pecinta

Dari banyak bait-bait puisinya, Rumi mengajarkan sumber kebahagiaan sesungguhnya dengan cara mencintai bukan membenci. Mencintai diri, alam raya, manusia, dan tentu saja mencintai Tuhan, sang pemilik cinta itu sendiri.

Energi kebahagiaan buah mencintai ini, tidak hanya akan dirasakan oleh si pecinta, tetapi juga menghadiahkan kegembiraan bagi lingkungan di sekitarnya.

Rumi meyakini, ada banyak persoalan di dunia ini yang dapat diselesaikan dengan mengubah sudut pandang kita. Orang-orang yang senantiasa belajar mencintai, akan mampu mengubah suasana ketidaknyamanan yang menimpanya menjadi lebih membebaskan, bahkan tak jarang menukarnya dengan kebahagiaan. Sebagaimana ungkapan bait-bait puisi Rumi dalam buku Matsnawi (jilid 2, bait 1529-1530):

Baca juga:  Ngaji Rumi: Masa Muda adalah Musim Semi

Karena cinta pahit menjadi manis
Karena cinta tembaga menjadi emas
Karena cinta keruh berganti jernih
Karena cinta derita berganti bahagia

Sema sebagai Cara Membahagiakan Ruh
Sema merupakan gerak berputar berirama yang tidak hanya melibatkan tubuh jasmani, tetapi juga gerak batin dengan panduan zikir tertentu.

Sema terinspirasi dari gerak gugusan bintang dalam putaran galaksi yang berotasi dan memuja keagungan Tuhan. Gerak dan musik merupakan elemen terpenting dalam sema. Biasanya ada alat musik berupa rebana yang digunakan untuk memandu gerak.

Saat pertama, menerapkan sema dalam lingkaran tarikatnya, bukan berarti tanpa penentangan. Tapi Rumi tetap pada pendiriannya, karena ia meyakini dua hal. Pertama, sema merupakan metode bukan tujuan. Dengan sema, diharapkan ruh kita akan gembira dan siap menempuh perjalanan spiritual yang lebih tinggi.

Kedua, Rumi seorang visioner yang memahami persoalan-persoalan modern dalam beragama. Berbagai rutunitas hidup, kerap membawa kita pada kejenuhan. Begitu juga ritual-ritual keagamaan yang dilakukan tanpa ruh, tak akan memberikan dampak apapun, selain rasa lelah.

Rumi mengilustrasikan sema sebagai musim semi bagi alam yang menyegarkan kembali taman-taman. Begitu juga, sema dapat meremajakan kembali semangat keberagamaan dengan ruh kegembiraan dan kebahagiaan.

Dalam atmosfer cinta Ilahiah, menarilah!
Maka hadirmu akan indah bagai purnama
Pada Jasad-jasad yang menari dan berputar
Usah kau tanya indahnya jiwa-jiwa yang terbang
(Matsnawi, jilid 1, 1347-1348)

Jika kita keluarkan istilah sema dalam konteks tasawuf, dan kita tarik dalam pengertian yang lebih luas, sema dapat diartikan sebagi beragam kesenian daerah yang berkolaborasi dengan nilai-nilai keislaman, tujuannya untuk menumbuhkan kembali ruh beragama yang gembira dan membahagiakan. Karena hanya dengan atmosfer masyarakat yang sehat dan gembira, pesan-pesan keagamaan akan terserap dengan baik.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top