Sedang Membaca
Mendongkrak Literasi Pesantren
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Mendongkrak Literasi Pesantren

Abd. Basid

Jika kau bukan anak raja dan bukan pula anak ulama’ besar, maka menulislah! Kata-kata di atas adalah ungkapan motivasi menulis warisan ulama besar Islam, Imam al-Ghazali, yang bisa menjadi dan menguatkan tekad seseorang untuk menuliskan gagasan dan idenya tanpa harus mengandalkan strata sosial warisan orangtua dan leluhurnya (darah biru).

Memaknai kalam  Imam al-Ghazali di atas, penulis beropini bahwa seseorang bisa mengukir namanya dengan dua hal, yaitu dengan strata sosial dan dengan karya (menulis). Meskipun demikian, strata sosial tidak  akan terukir indah dan abadi tanpa adanya sebuah karya yang menopangnya. Untuk itu, setidaknya hal ini harus menjadi spirit literasi segenap umat Islam dalam hal berliterasi, yang pada akhirnya bisa membudaya dan menjadi ciri dari insan bersarung (santri), karena peradaban Islam dan literasi, salah satunya, ditentukan oleh pesantren dan para elemennya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menulis menjadi penting karena ia dapat merawat ide, gagasan, dan pemikiran sepanjang masa. Contoh kecilnya, kita bisa mengenal Ibnu Sina sebagai bapak pengobatan modern karena tulisan, mengenal Ibnu Batutah sebagai penjelajah dan penakluk banyak negara juga karena tulisan, dan mengenal al-Ghazali sebagai Hujjatul Islam tidak lain juga karena tulisan. 

Selanjutnya, memperbincangkan lebih jauh tentang literasi pesantren, kiranya diperlukan beberapa gebrakan dan tindakan yang dapat menumbuhkan semangat pesanatren dalam berkarya dan kemudian merawatnya. Tentunya gebrakan tersebut perlu dukungan dari berbagai lini pesantren, mulai dari bawah sampai atas.

Di antara beberapa gebrakan tersebut misalnya; pertama, mewadahi bakat dan minat literasi santri. Wadah di sini dimaksudkan agar santri bisa lebih fokus dalam menyalurkan bakat, minat, dan kemauan literasinya. Dalam hal ini, bentuk wadah literasi pesantren di Jawa Timur bisa dilihat seperti di Sidogiri (Pasuruan), Lirboyo (Kediri), Bata-Bata (Pamekasan, Madura), Annuqayah (Sumenep, Madura), dan lainnya. Di Sidogiri ada buletin-buletin yang berserakan di wilayah-wilayah tempat tinggal santri dan juga ada majalah Sidogiri Media yang sudah tembus ke seluruh penjuru Nusantara. Di Lirboyo ada publikasi karya santri kelas akhir yang diwajibkan untuk melahirkan karya (ilmiah), mulai dari terjemah dan syarah kitab kuning hingga kumpulan bahtsul masail yang pendistribusiannya sudah menembus pasar nasional. Di Bata-Bata ada New Fatwa dan KOPI (Komunitas Pinggiran), sebuah kelompok kajian jurnalistik yang terwadahi secara otonom. Di Annuqayah bisa ditemukan banyak karya santri (khususnya puisi) yang tertempel di tembok-tembok pesantren layaknya “sampah” tak beraturan, tanpa harus diurai ke tong sampah.

Kedua, mengapresiasi dengan publikasi (penerbitan). Apresiasi publikasi ini sebagai follow up dari wadah atau kajian jurnalistik yang telah tertata di pesantren. Tentunya penebitan ini tidak sembarang karya yang bisa dicetak atau diterbitkan. Lebih dari itu, untuk menghasilkan karya dan publikasi yang yang baik, tentunya diperlukan editor dan pembina jurnalistik yang bisa mengarahkan santri sehingga bisa lahir sebuah karya dari SDM (sumber daya manusia) yang sudah terseleksi. Publikasi ini akan lebih maksimal jika pesantren mempunyai penerbit sendiri. Seperti halnya di Sidogiri mempunyai Sidogiri Penerbit, di Lirboyo mempunyai Lirboyo Press, di Bata-Bata mempunyai Pustaka MUBA, di Tebu Ireng mempunyai Pustaka Tebu Ireng, dan lainnya.

Ketiga, memotivasi santri dengan penghargaan (reward). Sebagai pengalaman pribadi, penulis masih ingat ketika dulu menjadi mahasantri pesantren mahasiswa di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya, di mana direktur pesantren sangat mendukung penuh mahasantrinya untuk aktif menulis dan mengirimkannya ke koran. Sebagai langkah motivasinya, pesantren akan memberi reward mahasantri yang tulisannya berhasil dimuat di koran, baik lokal maupun nasional. Gebrakan ini terbukti ampuh dan tidak sedikit mahasantri yang termotivasi untuk menulis dan mengirimkannya ke koran.

Keempat, mengadakan perlombaan. Lomba karya tulis bisa menjadi ajang mencari bibit unggul santri yang mungkin belum terjaring sebelumnya. Dalam jangka panjang para juara nanti bisa dibimbing dan siap diikutkan perlombaan ke jenjang yang lebih tinggi, baik nasional maupun internasional.

Empat hal di atas setidaknya bisa menjadi alternatif untuk mengdongkrak literasi pesantren yang mau tidak mau harus terus ditingkatkan, di mana pesantren sebagai salah satu wadah yang siap bersaing dalam dunia literasi-keilmuan.

Meskipun demikian, di sisi lain, SDM pesantren harus terus dibina dengan semangat budaya baca-tulis yang tinggi. Membaca dan menulis ini harus seimbang. Jika tidak, maka akan lahir karya prematur minim literatur. Karenanya tidaklah berlebihan jika kemudian dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun peradaban literasi. Semakin banyak bacaan seorang santri maka semakin tinggi pula peradaban dan kwalitas karya yang dihasilkan dan begitu juga sebaliknya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Akan pentingnya membaca ini, wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulul-Nya tidak lain adalah perintah membaca (iqra’), bahkan perintah ini hingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama tersebut (QS. 96: 1 dan 3).

Mengutip pendapat M. Quraish Sihab; boleh jadi ada yang heran, mengapa dan bagaimana perintah membaca itu ditujukan kepada orang yang tidak pandai membaca suatu tulisan pun sampai akhir akhir hayatnya. Namun, keheranan itu akan sirna jika disadari arti iqra’ (menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu) atau disadari bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan kepada pribadi Muhammad tetapi juga untuk umat manusia seluruhnya (Shihab, 2014: 34)—tak terkecuali dan lebih-lebih santri.

Kaitannya membaca dan kwalitas karya seseorang bisa ditelusuri lebih dalam pada makna kata iqra’ (dengan dua kali penyebutan) pada wahyu pertama di atas dengan kandungan yang berbeda. Kata iqra’ pertama disandingkan dengan kata bismi rabbika (demi karena Allah) dan iqra’ yang kedua disandingkan dengan kata wa rabbukal akram (Tuhanmu yang maha pemurah). Dari sini bisa dimaknai bahwa seseorang dalam membaca (pertama) seyogyanya harus dikaitkan dengan bismi rabbika.

Selanjutnya membaca yang kedua dan selanjutnya dengan indikasi wa rabbukal akram, Allah berjanji bahwa siapa yang membaca (karena Allah) maka dia akan memperoleh kemurahan anugerah-Nya berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru yang jika kemudian dituliskan insya Allah tercipta karya dengan kwalitas tinggi.

Baca juga:  Tradisi Menghafal di Pesantren
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top