Sedang Membaca
Kontroversi Mahasiswi Bercadar di UIN Jogja
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kontroversi Mahasiswi Bercadar di UIN Jogja

Abdur Rozaki

Surat Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi, kepada para Dekan dan Direktur Pascasarjana agar melakukan pendataan dan pembinaan terhadap para mahasiswi yang bercadar, kini menuai berita panas di sejumlah media dan viral di jagad media sosial.

Saya meyakini, kehebohan itu salah satunya dipicu oleh jaringan televisi nasional, di Jakarta.Ia  telah membuat plintiran pemberitaan dengan framing penggunaa bahasa larangan mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga. Padahal, tidak ada satupun kata pelarangan terhadap mahasiswi bercadar dari isi surat Rektor tersebut.

Kontroversi pun makin meluas menjadi isu yang melintasi kampus. Ada yang mengecam dan mencaci maki surat Rektor bertanggal 20 Februari 2018, ada pula yang sebagian besar bersimpati dan memberikan apresiasi.

Kontroversi isu mahasiswi bercadar di kampus UIN Sunan Kalijaga mengemuka, ketika komunitas Niqobis–nama perkumpulan para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang bercadar—sekitar tiga minggu yang lalu membuat kegiatan yang cukup provokatif di Masjid UIN Sunan Kalijaga dengan membetangkan spanduk bertuliskan, “rangkul muslimah berhijrah dengan ukhuwah untuk tegakkan istiqomah”.

Foto kegiatan itu kemudian menjadi viral dan menyebar di grup-grup whatsApp mahasiswa dan dosen UIN Sunan Kalijaga. Komunitas Niqobis ini cukup kencang membuat pertemuan pada hari Jumat dan minggu di lingkungan kampus. Mereka juga saling membangun jejaring dengan komunitas muslimah bercadar lainnya di kampus-kampus di Yogyakarta. Mereka juga aktif melakukan kampaye di media sosial.

Baca juga:  Kanjeng Nabi Melarang Kudeta

Di tengah gelombang radikalisme keagamaan dan praktek intoleransi keagamaan yang mulai menyebar di kampus-kampus, terlebih sekitar dua tahun sebelumnya juga terdapat para mahasiswa bercadar mengkampanyekan gagasan khilafah dengan viral foto background kampus UIN Sunan Kalijaga, tampaknya dapat dipahami jika Rektor UIN Sunan Kalijaga sangat berhati-hati dengan gejala permukaan gelombang baru mahasiswi bercadar ini.

Hasil kajian berupa skripsi Muhammad Nur Ihsan (2017), “Proses Transformasi Sosial Pengguna Cadar Melalui Komunikasi Interpersonal dalam Membangun Relasi Dengan Masyarakat, dengan mengambil studi di kalangan para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang bercadar, menghasilkan kesimpulan menarik bahwa para mahasiswa bercadar cenderung mengisolasi diri dalam pergaulan. Para orang tua mereka juga menentang para anaknya yang memutuskan untuk menggunakan cadar. Sebagian yang lain, para orang tua mereka juga umumnya tidak mengetahui jika anak-anaknya di kampus menggunakan cadar (niqab). Sekitar 6 tahun yang lalu, tenaga kependidikan di UIN Sunan Kalijaga juga pernah memperoleh informasi, mahasiswa yang bercadar di salah satu fakultas menghilang tidak ada kabar yang membuat keluarganya resah.”

Dengan temuan seperti di atas, tentu Rektor UIN Sunan Kalijaga tidak arif juga jika hanya bersikap berdiam diri. Dalam konteks inilah, sebagian besar civitas akademika UIN Sunan Kalijaga memberikan apresiasi dan dukungan atas surat Rektor yang berupaya melakukan pendataan dan pembinaan kepada para mahasiswa yang bercadar.

Baca juga:  Empat Anjuran bagi Cerdik Pandai

Surat Rektor tersebut, jika dilihat secara lebih seksama, sangat mengandung unsur kehati-hatian agar para mahasiswi yang bercadar tidak mengalami persekusi di kampus. Lebih dari itu, tidak ingin pula para mahasiswanya terperangkap dalam jejaring gerakan keagamaan yang membahayakan dirinya dan menciptakan kekhawatiran bagi para keluarganya.

Rektor sebagai orang tua di kampus, tentu memiliki tanggung jawab akan perlindungan, keamanan, kenyamanan, keakraban dan keceriaan dalam berelasi antar sesama civitas akademika. Di samping itu, juga tanggung jawab untuk mengembangkan model keberagamaan yang visioner bagi para mahasiswanya. Agar kelak para mahasiswanya mampu memikul tanggung jawab kebangsaaan yang disinari cahaya agama. Sebagaimana petikan lagu Hymne UIN Sunan Kalijaga berikut ini:

Integrasikan, interkoneksikan agama dan ilmu semesta, Kembangkan daya patriot nusa tanah air minta baktimu…. “

 

 

 

 

 

 

Baca Juga

 

 

 

 

 

 

 

 

Lihat Komentar (1)
  • ya lucu aja ketika dalil cadar di tabrakkan dengan kajian sosiologis. seharusnya kajian sosiologis mendukung syari’at dan membantah dengan dalil2 sunnah plus dalil ilmiah mereka2 yang menentang syari’at

Komentari

Scroll To Top