Pendaftaran Workshop Menulis

Langgar dan Empat Kisah Humor di Dalamnya

Abdillah Mubarak Nurin
anak anak masjid

Saya tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota Banjarmasin, yang berjarak hampir 4 km dari pusat kota. Dulunya, kampung tersebut masih begitu sepi dan hening. Belakangan, sekitar sepuluh tahun terakhir, kampung di mana saya dilahirkan tersebut sudah benar-benar ramai. Selain bertambahnya penduduk, juga berdirinya beberapa rumah makan, yang menjadikan kampung kami dikenal dan banyak dikunjungi orang. Bahkan orang nomor 2 di Indonesia saat ini, Bapak Jusuf Kalla juga pernah mampir sekedar untuk makan.

Namun saya tidak akan bicara panjang lebar tentang kampung saya itu, yang konon mau dijadikan sebagai kampung kuliner. Saya hanya ingin menuturkan sepintas tentang langgar dan beberapa cerita lucu, yang terjadi di sebuah langgar di kampung saya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Langgar, seperti halnya mesjid, merupakan tempat dilaksakannya ibadah shalat lima waktu, terkecuali shalat jumat. Lebih dari itu, bagi saya langgar juga merupakan wadah di mana anak-anak kecil mengenal agamanya dengan lebih ceria. Iya, di langgar-lah umumnya tempat anak-anak bermain di waktu-waktu tertentu. Setidaknya itulah yang saya alami di masa-masa kecil saya. Langgar merupakan wadah pertama saya belajar mengeja alif-alifan dan memberanikan diri melantunkan azan.

Langgar juga merupakan tempat bagi sebagian masyarakat kampung untuk membincangkan berbagai hal dan memusyawarahkannya. Oleh karena itu, barangkali tak bisa dipungkiri, bermula dari langgar-lah sebuah peradaban tercipta bagi sebuah kampung, atau bahkan negara. Bukankah, seperti yang dituliskan M. Faizi, bahwa cikal-bakal lahirnya NU berawal dari langgar, yaitu langgarnya Kiai Muntaha, menantu dari Syaikhana Khalil.

Baca juga:  Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hingga AL-Ghazali

Langgar seolah menjadi pusat berkumpulnya orang-orang yang tak menyimpan rasa dendam. Tak ada perkelahian atau caci-maki, dan yang tersaji hanyalah kedamaian. Dan, di langgar pula saya menemukan banyak tawa.

Iya, banyak tawa yang saya temukan di langgar dekat rumah saya tersebut. Banyak cerita-cerita lucu yang terlahir dan kemudian oleh sebagian warga sekitar cerita-cerita tersebut dikisahkan kembali di lain waktu. Sehingga menjadikan cerita-ceritanya seolah selalu lestari.

Seekor cicak

Cerita pertama, yaitu tentang seekor cicak. Saat itu saya sendiri yang menyaksikannya. Kejadiannya mungkin sekitar 15 tahunan lebih. Suatu hari, saya bersama kawan-kawan ikut melaksanakan shalat berjamaah, dan kebetulan kamilah yang berada di barisan shaf pertama dan tepat di belakang imam. Ketika tahiat pertama berlangsung, kami melihat cicak melintas, lalu oleh kawan saya cicak tersebut diambil dan ditaruhnya di bawah sajadah. Dengan spontan dan tanpa rasa kasihan, cicak tersebut kami pukul-pukul dan kami diamkan di balik sajadah.

Nah, karena sudah yakin bahwa cicak itu telah mati, maka ketika hendak sujud terakhir, sajadah tersebut kami buka. Lha, tau-taunya cicak itu belum mati dan dengan sigap ia mau melarikan diri, namun mungkin karena kepala cicak itu sempat mengenai sedikit pukulan, larinya agak kacau dan tanpa arah. Ia pun melarikan diri, namun bukannya ke atas dinding, malah lari ke dalam sarung sang imam.

Baca juga:  Kacang Presiden Gus Dur

Sampai sekarang saya belum tau bagaimana nasib cicak tersebut. soalnya setelah salam kami langsung pada pergi berlarian ke luar langgar.

Azan dan padamnya listrik

Cerita kedua tentang Azan dan padamnya listrik. Amang (nama samaran), ia berprofesi sebagai pelayan di sebuah rumah makan. Namun, sebelum menggeluti pekerjaan itu, Amang pernah menjadi penjual bensin eceran. Hal itu dilakukannya tidak berapa lama setelah ia pulang dari perantauan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Suatu hari, di siang yang cukup terang. Amang bersantai di dekat dagangannya sambil terkantuk-kantuk. Tidak lama kemudian, waktu zuhur tiba, Amang pun bergegas menuju langgar. Karena tidak ada yang mengumandangkan azan, Amang memberanikan diri untuk azan.

Walau dengan modal suara yang paspasan dan cengkok yang terkesan sembarangan. Amang tetap pede untuk azan. Setelah sampai pada kalimat “Hayya ‘ala As-shalaa….” tiba-tiba listrik padam.

Amang pun kebingungan karena kalimat yang ia baca belum sempurna. Ia tengok kebelakang, ternyata Idang (juga nama samaran)- teman seusianya, yang sedari tadi telah memperhatikannya.

“Dang, gimana ini, diteruskan atau berhenti saja azannya,” tanya Amang dengan kebingungan, karena ia baru pertama kali menemui kejadian seperti itu. “Terus dan selesaikan saja azannya,” sahut Idang.

Tanpa pikir panjang Amang pun menyambung azannya, “laaaah...”. Kali ini Idang yang jadi bingung.

Baca juga:  Kiai Mustain Romly ingin Sakti

Air berkah

Kisah selanjutnya tentang Air Berkah. Karena sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Di langgar kami juga mengadakan pengajian rutin yang di isi oleh salah seorang ulama sepuh di kota Banjarmasin. biasanya pengajian dilakukan satu minggu dua kali.

Suatu ketika, disaat pengajian baru selesai, salah seorang jamaah meminum sedikit air minum sang tuan guru, dengan niat mengambil berkah dari bekas minum sang guru, dan hal tersebut tidaklah aneh dan memang sudah menjadi tradisi. Karena sudah merasa cukup, ia pun meletakkan kembali gelas tersebut.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nah, setelah usai shalat isya, sang guru mengambil dan meminum airnya kembali, yang memang disediakan untuk beliau tersebut. Menyaksikan kejadian tersebut, salah seoarang jamaah yang mengetahui bahwa airnya baru saja diminum si murid, berkomentar, “jadi kali ini yang mengambil berkah bukan murid kepada gurunya, tetapi gurunya kepada murid.”

Amin

Cerita terakhir ialah tentang Amiin. Disaat shalat Isya baru saja dimulai, Amang mengambil shaf pertama di sisi kanan. Shalat pun berlangsung dengan penuh khusuk. Setelah membaca surah Alfatihah, sang imam melanjutkan dengan membaca surah al-Kafirun.

Nah, baru imam usai membaca surah tersebut, ada kejadian lucu yang terjadi. Ketika sang imam sampai pada ayat terakhir, “Lakum dinukum waliyadiin..”.

Seketika Amang menyahut dengan lantang, “Aaamiiin..”

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top