Transformasi digital telah mengubah secara drastis pola hidup manusia sehari-hari. Ia dan ekosistem yang ada di dalamnya bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah menjadi ‘ruang antara’ (in-between space), tempat manusia membingkai takdir diri dan sosialnya. Manusia dengan nyata telah didekap dan sekaligus mendekap ekosistem digital. Ini adalah kondisi kultural di mana teknologi telah menyatu dalam struktur eksistensi manusia. Di dalamnya terjadi kondisi keintiman dan keterasingan, cahaya dan bayangan, saling berkelindan.
Dalam dekapan digital ini, manusia hidup dalam ruang hibriditas, tak mengenal lagi dikotomi antara yang "nyata" dan yang "maya". Ini adalah sebuah kondisi di mana helai-helai serat optik dan sinyal wifi telah menjahit diri ke dalam kain eksistensi manusia. Namun, di tengah banjir informasi dan tuntutan konektivitas 24 jam, muncul sebuah pertanyaan ontologis: dapatkah teknologi ini menjadi dekapan yang menghangatkan, alih-alih belenggu yang menyesakkan dan mengubur eksistensi manusia?
Secara eksistensial, dekapan digital sering mengiring manusia dalam bayang-bayang ancaman alienasi. Teknologi hadir bukan lagi sekadar alat (tools), tetapi sebagai lingkungan hidup yang seringkali membuat manusia kehilangan keselarasan batin antara kedaulatan dan kemandirian artifisial. Byung-Chul Han dalam The Burnout Society telah mengingatkan kita mengenai keterasingan manusia akibat teknologi ini. Dia berargumen bahwa dalam dunia digital, manusia mengeksploitasi diri sendiri demi citra dan performa, sehingga kehilangan kemampuan untuk berkontemplasi. Kita bisa terhubung dengan ribuan orang, namun pada saat yang sama merasa kesepian. Penggunaan layar mengganti perjumpaan fisik dan percakapan yang mendalam, dan tanpa sadar mengabaikan kedekatan. Di balik setiap username terdapat manusia dengan kerentanan yang sama.
Kondisi ini diperparah oleh apa yang disebut Martin Heidegger sebagai gestell (enframing), yaitu teknologi membingkai manusia hanya sebagai stok cadangan atau sumber daya data. Manusia sekadar menjadi objek dalam ruang angka-angka dalam rimba algoritma. Ia sering terjebak dalam hubungan "aku-itu" (i-it), di mana sesama manusia hanya dipandang sebagai profil atau angka. Akibatnya, manusia merasa kesepian di tengah ribuan koneksi, terasing dari hakikat keberadaannya (dasein) karena terjebak dalam cara berpikir teknis dan hiruk pikuk narsis. Dan kesuksesan yang diukur dalam angka-angka, di dalamnya acapkali mengeram manipulasi yang mematikan esensi dan makna.
Herbert Marcuse, tokoh Mazhab Frankfurt, telah mengingatkan kita mengenai bagaimana teknologi mengontrol kesadaran, melalui konsep ‘Manusia Satu Dimensi’ (One-Dimensional Man). Menurut dia, karena teknologi manusia mudah terjebak dalam alienasi. Teknologi telah menciptakan "kenyamanan yang palsu". Manusia merasa bebas di dunia digital, padahal mereka sedang digiring oleh konsumerisme dan kontrol sosial yang halus. Dan ini menciptakan manusia "satu dimensi" yang kehilangan daya kritis dan kenyamanan hakiki.
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) semakin memperkeras krisis tersebut. Artificial Intelligence bukan sekadar kemajuan teknis, melainkan peristiwa ontologis. Ia memberikan kemudahan dan kecepatan bagi manusia. AI adalah pantulan kolektivitas pengetahuan manusia. Namun, menyerahkan seluruh keputusan hidup pada algoritma yang dibangun oleh Artificial Intelligence adalah bentuk ‘bunuh diri intelektual’ dan melarung makna dalam lautan dunia maya. Bila AI tidak diletakkan sebagai kemandirian fungsional, maka diam-dia kita kehilangan kedaulatan moral dari tangan kita sendiri. Manusia modern kehilangan kemampuan untuk hening, merenung, dan berpikir mendalam karena terus menerus terlibat dalam hyperattention (fokus melompat-lompat) dan tuntutan data yang tak ada habisnya, membuatnya kaya data namun miskin makna.
Secara keseluruhan, dunia digital yang dikerangkeng oleh kapitalisme neoliberal hanya akan menghasilkan individu yang lelah secara mental dan fisik akibat tuntutan untuk menjadi "subjek pencapaian" yang sempurna dan terus-menerus berinovasi pada diri sendiri, sebatas angka dan algoritma. Di tengah dekapan digital yang lebih sering menekan dan menyesakkan eksistensi batin manusia dan makna hidup, lalu apa yang mesti kita lakukan?
Pertama, sesekali kita perlu melambat dalam gerak, agar menemukan makna dalam setiang langkah. Mengenali dan menemukan kualitas interaksi dan penjagaan diri dari kesia-siaan menjadi kesadaran yang sangat relevan dengan perilaku digital. Langkah ini, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya (min ḥusn islāmi al-mar’i tarkuhu mā lā ya’nīhi). Di tengah banjir notifikasi, kemampuan untuk memutus koneksi sementara adalah tanda kekuatan spiritual.
Ini sejalan dengan konsep Herbert Marcuse tentang The Great Refusal, yakni sebuah penolakan terhadap kenyamanan palsu yang ditawarkan sistem untuk menemukan kembali kebebasan berpikir. Konsep menyepi di tengah keramaian (tapa ngrame) menjadi salah satu kiat atas masyarakat yang mengalami kelelahan. Kita dapat berinteraksi dalam media sosial, namun secara batin kita tetap berada dalam khalwah (kesunyian bersama Tuhan). Inilah yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit, yaitu sikap lepas-pasrah: menggunakan teknologi tanpa membiarkan esensi jiwa kita didominasi olehnya.
Pada saat yang sama, memanfaatkan dunia digital sebagai medan konsolidasi kekuatan kebaikan. Nabi Muhammad, sebagaimana dalam riwayat Imam Bukhari, mengibaratkan sesama mukmin dengan bangunan yang saling terhubung dan saling menguatkan. Dalam konteks ruang siber, hadis ini memanggil kita untuk mentransformasi ‘koneksi’ menjadi ‘komunitas’ (ummah), di mana teknologi digunakan sebagai jembatan empati, solidaritas dan membangun kebajikan, bukan sebagai instrumen perpecahan.
Kedua, kesiapan kemandirian spiritual. Ini adalah sikap mental di mana kita menggunakan teknologi namun tetap mampu membiarkannya pergi. Kita "mengiyakan" penggunaan alat digital secara praktis, namun tetap "mengatakan tidak" untuk membiarkannya merasuki esensi batin kita. Kemandirian Spiritual bisa dicapai melalui kehadiran (presence) dan ketersediaan (availability). Secara spiritual, manusia harus menjaga kemampuan untuk benar-benar hadir bagi orang lain secara utuh, menembus sekat-sekat layar digital untuk mencapai perjumpaan jiwa yang sejati. Mengikuti pemikiran Heidegger, kita menggunakan teknologi namun tetap mampu membiarkannya pergi. Kita mengiyakan kegunaannya secara praktis, namun mengatakan "tidak" jika ia mulai merasuki esensi batin.
Ketiga, kedaulatan jiwa. Di tengah arus otomasi, berani memutus arus informasi sesekali untuk menemukan kembali waktu yang tidak produktif secara ekonomi, seperti meditasi atau berdiam diri. Manusia sering merasa terasing saat menatap layar, kehilangan sentuhan fisik dan kehadiran yang utuh. Namun, untuk mencapai keselarasan, kita harus beranjak dari pandangan dikotomis ini. Keselarasan hidup dimulai ketika kita berhenti memusuhi gawai dan mulai melakukan kurasi digital yang sadar. Dekapan digital berarti memperlakukan ruang siber sebagai perluasan dari ruang tamu kita—sebuah tempat yang harus dijaga kebersihannya, ketenangannya, dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Keempat, meneguhkan etika perhatian dan konfirmasi dalam era disinformasi. Al-Qur'an memberikan landasan kognitif yang kokoh dalam surah Al-Hujurat/49: 6. Ayat ini bukan sekadar perintah administratif, melainkan laku spiritual untuk menjaga kejernihan batin. Di dunia digital, "orang fasik" dapat mewujud dalam algoritma yang memicu bias dan kebencian. Tabayyun adalah bentuk etika perhatian agar nurani tidak hanyut oleh emosi sesaat yang dipicu oleh algoritma dan mesin digital.
Kelima, ilmu sangkan paraning dumani sebagai praktik kesadaran eksistensial manusia. Kedaulatan moral manusia adalah khalifah (surah Az-Zariyat/51: 56). Pengabdian pada sang Maha Ada adalah sebagai penciri. Ibadah dalam konteks ayat ini adalah kesadaran akan tujuan eksistensial. Dalam konteks digital, keberadaan AI diciptakan untuk memproses data, namun hanya manusia yang memiliki hikmah (kebijaksanaan). Kemandirian teknologi seharusnya membebaskan manusia dari tugas mekanis agar ia bisa kembali ke tugas asalnya, yaitu refleksi mendalam (tafakkur) terhadap realitas dan keajaiban ciptaan.
Dalam perspektif tasawuf Ibnu Arabi, dunia digital adalah tajalli (penampakan) dari asma-asma Allah yang luas. Namun, agar layar tidak menjadi hijab (penghalang) antara hamba dan Pencipta, diperlukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Kemandirian AI sering kali menimbulkan ketakutan akan hilangnya relevansi manusia. Namun, secara spiritual, ini adalah undangan untuk kembali ke hakikat terdalam kita.
Keselarasan hidup di era AI berarti menggunakan kemandirian teknologi untuk membebaskan kita dari tugas-tugas mekanis, sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk refleksi spiritual dan pengabdian kemanusiaan. Kita tidak sedang bersaing dengan AI, tetapi kita menggunakannya sebagai katalis untuk mempercepat evolusi kesadaran kita sendiri.
Di era digital, ketenangan hidup, tidak ditemukan dalam pelarian permanen ke hutan tanpa sinyal, melainkan dalam kemampuan kita untuk tetap menjadi "tuan" atas jempol kita sendiri. Dekapan digital adalah tarian keseimbangan: merangkul AI sebagai mitra cerdas yang efisien, namun tetap memperkokoh benteng batin agar tidak terhanyut arus otomasi yang dingin.
Dekapan digital yang selaras tercapai saat kita meletakkan teknologi di tangan, dan Tuhan di dalam hati. Di situlah manusia tetap menjadi subjek yang sadar di tengah objek-objek digital yang semakin mandiri. Jika mesin bisa melakukan segalanya yang bersifat teknis, maka tugas manusia adalah menjadi ahli dalam hal-hal yang tidak bisa dihitung: cinta, intuisi, dan kebijaksanaan.[]