Sedang Membaca
Membaca Catatan Harian Danarto Naik Haji
Penulis Kolom

Tinggal di Batang. Penulis lepas, owner kedai tak selesai, dan pengajar di PonPes TPI al-Hidayah.

Membaca Catatan Harian Danarto Naik Haji

Apa jadinya, jika seorang yang suka menulis cerpen naik haji dan umroh? Akibatnya setelah kembali ke tanah air terbit buku catatan pribadinya saat naik haji dan umroh.

Danarto seorang cerpenis—bahkan menulis cerpen, katanya sudah jadi kebutuhannya. Di antara kumpulan cerpennya yang telah terbit: Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), Berhala (1987) dan Gergasi (1989)—menuliskan perjalanan ibadah yang menjadi rukun Islam ke lima itu, menjadi sebuah buku yang berjudul Orang Jawa Naik Haji + Umroh.

Judul buku catatan hajinya bukan dari Danarto. Awalnya berjudul Catatan Harian Naik Haji. Tanpa sepengetahuannya, setelah terbit judulnya berubah. Goenawan Mohammad yang menggaet judul tersebut. Berkat judul itu pula, kata Danarto, bukunya bisa dicetak berkali-kali.

Buku ini awalnya hanya catatan Danarto ketika menunaikan ibadah haji tahun 1983 M, lalu diperluas dengan catatan ibadah umroh tahun 1994 M dan umroh plus tour ke beberapa negara seperti Mesir dan negara-negara yang merekam jejak nabi-nabi terdahulu dan orang-orang soleh yang diceritakan dalam Alquran seperti Ashabul Kahfi, pada tahun 1995 M.

Catatan haji Danarto di mulai dari Asrama Haji Indonesia. Catatan pertamanya berjudul Doa Sapu Jagad. “Tiada hal yang begitu menggemberikan bagi orang yang buta kitab suci Alquran, kecuali mendapatkan sebuah doa yang ampuh, yang bisa mengatasi segala hal. Doa yang menggempur segala macam perintang. Doa sapu jagad” tulis sastrawan asal Sragen pada paragraf pertama.

Baca juga:  Siapakah Orang Nusantara yang Paling Awal Pergi Haji?

Entah, apakah Danarto benar-benar buta dengan kitab suci Alquran. Nyatanya, cerpen-cerpen Danarto mengandung kata-kata berbasa Arab. Kumpulan Cerpen berjudul Godlob dan Adam Ma’rifat adalah contoh kongkritnya. Mungkin ungkapan itu bentuk rendah hatinya, atau menggambarkan kebahagian orang-orang haji waktu itu, yang mungkin beberapa khuwatir karena tidak pandai membaca Alquran. Doa sapu jagad digambarkan Danarto sebagai jalan keluar dari Allah.

Catatan awalnya ini di akhiri dengan kutipan dari petugas haji, yang disambut ibu-ibu dengan mesem: “Ingat ibu-ibu. Di Tanah Suci adalah untuk ibadah. Bukan untuk shopping.”

Catatan selanjutnya runtut sesuai proses perjalanan hajinya. Seperti minta maaf dan meminta nasehat kepada orang-orang terdekat sebelum berangkat haji—tradisi yang sampai hari ini masih bisa kita saksikan di desa-desa, sampai proses akhir ibadah haji.

Proses naik hajinya, kata Taufiq Ismail di pengantar buku ini, Danarto ceritakan dengan lugu, segar dan jenaka. Ada contoh beberapa, salah satunya penggambaran Danarto perihal keriuhan dalam pesawat, yang membuat repot pramugari, mulai dari bagaimana ke toilet, solat di pesawat dan memesan makanan.

Menyaksikan itu Danarto bercerita, menurut temannya orang bule, pramugari paling menarik di dunia adalah dari Indonesia, karena masih manusiawi. Pramugari Indonesia bisa marah dan bertengkar sengit dengan penumpang, berbeda dengan pramdugari Barat, seperti robot yang bisanya cuma bilang “yes”, “yes” saja . (Baca: Humor Gus Dur Tentang Soeharto Naik Haji)

Baca juga:  Riwayat Danarto, Sastrawan Sufistik Itu..

Karena ini catatan pribadinya, yang tampaknya ia tulis apa adanya, tergambar pula kesungguhannya dalam melaksanakan ibadah haji. Sampai-sampai ia memilih menunaikan haji secara ifrod (mendahulukan melaksanakan haji dari pada umroh), di tengah-tengah jama’ah yang memilih menunaikan haji dengan cara tamattu’ (melaksanakan umroh dahulu, lalu haji).

Konsekuensinya, Danarto harus menjaga hal-hal yang dilarang saat ihrom seperti dilarang pakai pakaian berjahit, wangi-wangian, memotong kuku dan rambut, dalam rentan waktu yang cukup lama, yakni 13 hari. Ia lakukan itu, karena ingin meneladani Nabi, yang hajinya dengan cara ifrad.

Perjalanan-perjalanan Danarto, seperti ziarah ke tempat-tempat bersejarah, baik di Madinah maupun Mekkah, ia tuliskan dengan dibumbui catatan sejarahnya. Hampir mirip Annimarie Schimmel yang menulis biografi Mualana Rumi, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

“Akulah Angin Engkaulah Api. Mungkin Danarto kalah detail, tapi ia menang dari Schimmel dalam hal “lucunya”.

Ada cerita menarik lagi dari Danarto tentang kegagalan niatnya mencuri Alquran dari Masjid Nabawi. Ia melihat Alquran bergeletak dan bertumpuk begitu banyak. “Saya pikir bagus sekali untuk kenangan, Alquran dari masjid Nabi, hmm, nggak apa biar buta huruf” tulisanya. Ia menyelidiki, idenya ini timbul lantaran pergaulannya di Taman Ismail Marzuki, yang mengarang fatwa seenak wudelnya: mencuri buku adalah seindah-indah perbuatan.

Tiba-tiba ada orang yang berkata pada temannya “saya mau nyedekahin Alquran sebelum berangkat”. Danarto baru tahu kalau Alquran di masjid itu hasil sumbangan para jemaah. Alih-alih jadi mencuri, ia keluar membeli Alquran dan meletakkannya di masjid. (Baca: Danarto, Mengenang Allah Lebih Dekat)

Baca juga:  Benarkah Imam as-Suyuti Seorang Pengelana?

Niat mencuri Alquran timbul lagi saat ia umroh. Bukan di Masjid Nabawi tapi Masjidil Haram. Namun lagi-lagi gagal. Belum sampai beranjak dari tempatnya, ada seorang jama’ah Indonesia berkata: “Mas, apa-apa yang ada di Masjidil Haram di larang di bawa keluar.”

Catatan Danarto saat umroh beberapa tahun kemudian, mengambarkan perubahan-perubahan seputar ibadah haji selang beberapa tahun saat ia haji seperti pelayanan, fasilitas, pelebaran masjid dan bangunan baru yang berdiri dekat Masjidil Haram.

Kiranya sudah sukup catatan saya membaca buku Danarto ini. Anda bisa baca sendiri catatan-catatan yang ditulis secara lugu dan jenaka ini. Entah sengaja lugu, atau memang begitu adanya. Tapi gaya seperti tulisan Danarto sepertinya gawan lahir. (Baca: Riwayat Danarto, Sastrawan Sufistik itu..)

Danarto belum lama dipanggil Allah. Mari kita doakan, semoga tulisan-tulisannya yang lugu dan jenaka ini, menjadi lantaran ia mendapat kasih sayang Allah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top