Nor Lutfi Fais
Penulis Kolom

Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang yang juga alumni pondok MUS. Kini sedang mendalami kajian rasm usmani. Pendidikan: Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang Domisili: Pondok Ngaliyan Asri K-11 Sosmed: Fais Zumna Ustuchty (facebook), fais zumna (twitter)

Tentang Raja Abrahah Menyerbu Ka’bah

Cerita hancurnya tentara Gajah Abrahah mungkin menjadi cerita paling masyhur saat memasuki bulan Rabi’ulawal. Maklum, cerita yang sering didampingi dengan kekuatan ilahi burung Ababil ini menjadi latar penanda lahirnya nur Muhammad saw ke dunia.

Cerita yang diabadikan dalam Alquran surat al-Fiil tersebut menurut Allahu yarham Mbah Ma’ruf Irsyad Kudus, menukil dari pernyataan Syekh Sulaiman Jamal, merupakan bentuk dari muludan-Nya Allah. “Lha Gusti Allah mawon muludan koq nggih. Dalile, lha niku Surat Fill.” Masih menurut Sulaiman Jamal, penghancuran tentara Gajah merupakan bentuk takzim Allah atas kelahiran Nabi Muhammad saw. “Ta’dziman niku nggih muludan”, tambah Mbah Ma’ruf Irsyad.

Ada satu hal yang menarik bila mencermati kisah yang dituturkan dalam Alquran surah al-Fiil tersebut. Terlebih jika mengaitkannya dengan surat setelahnya: Qurays. Dua surat ini memang dikatakan surat yang berbeda, meski beberapa sahabat seperti Umar bin Khattab sering membacanya secara langsung tanpa dipisah dengan basmalah. Memang bukan tanpa alasan, karena baik dari sisi gramatikal maupun konten penjelasan, kedua surat memiliki kaitan (baca: munasabah) yang erat. Nah kaitan yang jarang diekspos itu yang hendak sampaikan ketengahkan di sini.

Mereka yang mendiami wilayah Mekkah sangat diuntungkan dengan kehadiran Kakbah. Bangunan yang begitu diagungkan itu mendatangkan berkah dari segala sisi, termasuk sektor ekonomi. Bagaimana tidak, datangnya para peziarah dan beberapa kafilah dagang pada jalur utama.

Mereka bertetangga dengan Allah, pnghuni tanah suci-Nya, penguasa Ka’bah, mereka lah keluarga Allah, adalah pujian-pujian yang disematkan karena menjadi abdi baitullah. Status semacam ini memberi akses kemudahan pada setiap aktivitas perniagaan yang dijalankan. Sebagai catatan, aktivitas ekonomi penduduk Mekkah terutama berada di sektor perdagangan.

Posisi Mekkah yang tepat berada di jalur utama perjalanan kafilah dagang menuju selatan, Yaman, saat musim dingin dan ke utara, Syiria, saat musim panas sangat menguntungkan. Selain penduduknya yang juga melakukan perdagangan keluar, impor komoditas dari para kafilah yang lewat menjadi tumpuan utama kehidupan di tengah gersangnya badai padang pasir.

Setidaknya ini yang coba disampaikan oleh Mbah Nawawi Banten dalam Tafsir Munir-nya melalui tafsir rihlah al-syita’ wa al-shaif. Dua perjalanan dagang utama penduduk Mekkah yang dapat mencukupi kebutuhan selama satu tahun. Frekuensi dagang yang relatif sedikit untuk pemenuhan kebutuhan masa yang panjang.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tergiur dengan hal serupa, Abrahah mencoba melakukan hal serupa, membangun sebuah gereja di Sana’a, Yaman. Sayang, bangunan yang disucikan itu harus terkotori dengan ‘kotoran’ salah seorang anggota Kinanah yang mencium niat busuknya. Singkat cerita dihimpun lah kekuatan besar yang kelak disebut tentara Gajah.

Seandainya penyerangan besar-besaran itu berhasil, penduduk Mekkah bakal kehilangan status prestise yang dimiliki. Hilangnya status itu segera menjatuhkan mereka ke titik yang sama, sebagaimana penduduk lain yang tidak memiliki baitullah itu. Segala akses kemudahan berikut dengan keuntungan ekonomi yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka, pun sirna.

Bagi Abrahah, banyak hal yang dapat diraih. Pertama, status kesucian yang semula menghiasi dinding baitullah secara otomatis berpindah menuju gereja karyanya, sebagai satu-satunya bangunan suci yang ada.

Kedua, kesejahteraan juga akan menyelimuti penduduk sekitar. Baik dari segi ekonomi dengan banyaknya peziarah maupun segi lainnya, seperti sosial dan politik, sebagaimana Mekkah sebelumnya.

Ketiga, meski bakal dikecam karena menyerang baitullah, mengingat ia adalah bangunan yang diagungkan sejak masa Ibrahim, namun sosoknya di mata pemeluk kristiani akan selalu harum. Belum lagi kekuatan politik yang diraih atas penaklukannya terhadap Mekkah.

Namun atas kehendak Allah, pasukannya hancur lebur tak ubahnya dedaunan yang dimakan ulat. Burung-burung berbondong-bondong menyerang, menjatuhkan batu-batu neraka tepat di atas kepala para tentara, bergerak menembus membawa serta nyawa mereka.

Kemenangan ini semakin mengukuhkan kesucian Ka’bah sebagai bangunan yang benar-benar dijaga oleh pemiliknya, Allah Swt. Semakin menguatkan pula posisi penduduk Mekkah sebagai satu-satunya kaum yang dipilih Allah.

Munasabah dengan anugerah yang diberikan Allah kepada penduduk Mekkah ini melalui Alquran, Allah memerintahkan untuk menyembah kepada-Nya, bukan kepada berhala. Sehingga dalam lanjutan penjelasannya, Mbah Nawawi mengatakan, “Sungguh mengherankan kebiasaan Qurays ini”, dengan segala limpahan rahmat yang mereka terima, masih saja mereka hanyut dalam kesesatan penyembahan berhala.

Peristiwa-peristiwa semacam ini pada dasarnya sering terjadi di berbagai belahan bumi. Dimana satu kekuatan yang cukup diperhitungkan dengan kekuatan lain yang menjadi lawan akan mendapatkan keuntungan atau justru menuai kekalahan berlipat atas usaha perlawanan yang dilakukan.

Seandainya dulu Sekutu tidak berhasil menundukkan Uni Soviet mungkin saat itu Uni Soviet akan semakin jemawa dengan kedigdayaannya, sampai sekarang. Ibarat Mekkah dan Abrahah, dia lah pemeran Mekkah dan Sekutu memainkan peran Abrahah. Namun skenario cerita tidak terulang dan sebaliknya hingga saat ini Sekutu yang menikmati hasil kemenangannya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Baca juga:  Bagaimana Kolonial Belanda Generasi Awal Melihat Islam Nusantara?
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
4
Senang
3
Terhibur
2
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top