Sedang Membaca
Kemajuan Sains dan Kekisruhan Politik Dinasti Abbasiyah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kemajuan Sains dan Kekisruhan Politik Dinasti Abbasiyah

Rizal Mubit

Hampir sebagian besar disiplin ilmu pengetahuan, baik yang berbasis politik, ekonomi, sosial, budaya, eksak dan agama itu sendiri adalah muncul dan dihasilkan oleh para pemikir umat Islam. Sehingga, banyak ilmuwan Muslim yang cukup dikenal, di dunia Barat sekalipun. Al-Khawarizmi (Algorismus) dan Ibn al-Haitam (Al-Hazen) dikenal sebagai ahli matematika dan astronomi; Ibn Rusyd (Averroes) dan Ibn Sina (Avicena) sangat dikenal sebagai ahli kedokteran; al-Khazini, al- Khurasani, al-Razi dan Ibn Sina adalah penyumbang terbesar terhadap ilmu fisika dan teknologi; dan lain-lain. Akan tetapi, sejarah membuktikan, setelah efek samping pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang tanpa kontrol, ditambah dengan kekisruhan politik pemerintahan Islam di masa itu, maka justru umat Islam kemudian menutup diri dari eksplorasi ilmu pengetahuan umum (Nasution, 1985: 54).

Padahal selama 500 tahun (the dark ages), rentang antara Aristoteles (367-322 S.M) sampai St.Thomas Aquinas (1225-1274 M) (ilmuwan Barat), suatu masa panjang, Periode inilah sebenarnya masa kejayaan Islam terjadi, dan para Mahasiswa Eropa berbondong-bondong belajar ke negeri Muslim. Mereka menjadi inspirator dan pelopor pencerahan Eropa setelah mencuri ide-ode dari negeri Muslim. Adapun pencurian terjadi dalam berbagai bentuk. Pada abad ke-11 dan ke-12 sejumlah pemikir Barat seperti Constantine The African, Adelard of Barth melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan mereka belajar Bahasa Arab dan melakukan studi serta membawa ilmu baru ke Eropa. Leonardo of Pisa belajar di Bougie, Aljazair pada abad ke-12, ia juga belajar matematika dan aritmatika al-Khawarizmi (Setiawan dan Hendriarjo, 2005:21-22).

Sementara itu, ilmu-ilmu Keislaman juga berkembang pesat. Dalam bidang hadis tercatat nama-nama seperti Bukhari dan Muslim, dalam Hukum Islam terkenal seperti Malik ibn Anas, Idris al-Syafii, Abu Hanifah, Ahmad Ibn Hambal. Dalam ilmu tafsir seperti al-Tabari, dalam ilmu kalam seperti Wasail ibn Atha, Abu Al-Huzail, Abu Hasan Al- Asy‟ari dan Al-Maturidi, dalam bidang tasawuf seperti Abu Yazid Al-Bustami dan Husain Ibn Mnasur Al-Hallaj. Nama-nama tokoh pentingdalam sejarah Islam baik dalam bidang politik, keilmuan, seniman, dll. Dapat dilihat dalam kitab Tabaqat Al-Kubra karya Ibn Saad dan Wafiyat Al-Ayan wa Anba Al-Zaman karya Ibn Khalikan.

Kekisruhan politik pemerintahan Islam di saat Islam masih di posisi puncak kejayaannya, adalah karena banyaknya terjadi perebutan kekuasaan, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa sebagian besar pergantian kepemimpinan umat Islam adalah selalu terjadi pertumpahan darah. Belum lagi, pertentangan yang sangat sengit pada setiap pergantian pemerintahan hanya karena perbedaan paham fikih keagamaan dan haluan politiknya. Sebagaimana diungkap sebelumnya, di masa Islam dalam kejayaannya di masa khalifah al-Ma’mun zaman dinasti Abbasiyah, ada suatu peristiwa tragis yang pernah terjadi, yakni peristiwa Mihnah (ujian) (Nasution, 1985:60).

Akibat peristiwa Mihnah bagi orang-orang yang akan menduduki posisi penting di pemerintahan, yang berkonsekuensi penyiksaan terhadap ulama-ulama Islam yang tidak sejalan dengan akidah pemerintahan yang berpaham Muktazilah yang beraliran dan berpola pikir filosofis dan rasional di kala itu, maka membuat apriori yang dalam pada umat Islam, yang pada akhirnya melakukan resistensi dan perlawanan.

Sesudah masa itu, untuk tujuan politis, khalifah al-Mutawakkil kemudian membatalkan mazhab Muktazilah sebagai madzhab negara dan mendukung mazhab Ahlussunnah wa al-jamaah. Lebih dari itu, kemudian akademi-akademi yang mengajarkan ilmu-ilmu filosofis dan ilmu-ilmu rasional ditutup. Bahkan, banyak tokoh-tokoh Muktazilah yang diusir dari Baghdad (Nasution, 1985:61-62).

Sejak kejadian perubahan inilah kemudian secara tidak sadar umat Islam kemudian seolah membuat batas terhadap ilmu-ilmu filosofis dan rasional, pada dasarnya adalah ilmu-ilmu umum yang menjadi dasar pengembangan iptek di masa-masa berikutnya. Hal itu terjadi terus menerus selama berabad-abad mewarnai paradigma berpikir sebagian besar umat Islam, hina akhirnya dipahami seolah sebagai doktrin agama yang sudah mutlak dan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Terhambatnya perkembangan ilmu filosofis dan rasional pada kalangan umat Islam di satu sisi, tetapi di sisi lain umat non Islam, yakni masyarakat Barat, justru mendapat imbas dari perkembangan kemajuan iptek umat Islam yang pernah ditempuh. Perkembangan eksplorasi ilmu- ilmu filosofis dan rasional yang dilakukan bangsa Barat akhirnya mengantar mereka menguasai perkembangan iptek dunia, di saat umat Islam sudah mulai tenggelam dijerat paradigma dikotomisnya terhadap ilmu pengetahuan.

Tak dapat dipungkiri lagi, akhirnya umat Islam terpuruk dan terkurung dengan sikap statis atau diam ditempat yang membawa mereka kepada kemunduran yang berkepanjangan. Sedangkan bangsa Barat akhirnya menjadi pengawal perkembangan iptek, bahkan sampai bisa menjelajah dan menjajah negara-negara di wilayah dunia Islam.

Menurut Ziauddin Sardar mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab dikotomi sistem pendidikan Islam adalah diterimanya budaya Barat secara total bersamaan dengan adopsi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab mereka yang menganut pandangan tersebut berkeyakinan, bahwa kemajuan lah yang terpenting bukan agama. Oleh, sebab itu, kajian agama dibatasi bidangnya. Agama hanya membicarakan hubungan individu dengan Tuhannya, lainnya bukan urusan agama (Hadi & Imron, 2000:73).

Baca Juga

Hilangnya aspek kesakralan dari konsep ilmu Barat serta sikap keilmuwan Muslim yang menyebabkan terjadinya stagnasi setelah memisahkan wahyu dari akal, dan memisahkan pemikiran aksi dan kultur dipandang sama bahayanya bagi perkembangan keilmuan Islam. Karena itu muncul sebuah gagasan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan di antara keduanya, sehingga lahirlah keilmuan baru yang modern tetapi tetap bersifat religious dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian di kenal dengan Islamisasi Ilmu pengetahuan atau Integrasi ilmu (Tabroni, 2000: 93).

Dalam Islam sebetulnya tidak dikenal pemisahan esensial ilmu agama dan ilmu umum. Berbagai disiplin ilmu dan pespektif intelektual yang dikembangkan dalam Islam memang mengandung hierarki tertentu yang bertujuan kepada pengetahuan tentang hakikat Tauhid, yang merupakan subtansial dari segenap ilmu. Inilah yang menjadi alasan kenapa para ulama dan ilmuwan Muslim berusaha mengintegrasikan ilmu- ilmu yang dikembangkan peradaban-peradaban non-Muslim ke dalam hierarki ilmu pengetahuan menurut Islam. Dengan demikian, pendidikan dalam Islam tidak mengenal dikotomi dalam pengertian yang berlebihan, akan tetapi hanya membedakan jenis-jenis atau klasifikasi, sesuai dengan bidang (manfaat, metode dan cara memperolehnya, obyek).

Dengan demikian apa yang yang dimulai sejak Rasulullah, lalu berkembang pada masa sahabat dan diteruskan pada generasi selanjutnya (Dinasti Umayah dan Abbasiyah), termasuk pada zaman al-Ma’mun adalah upaya Islam dalam mensinergikan atau dengan kata lain mengintegrasikan ilmu, baik ilmu agama atau ilmu umum, baik yang dikembangkan oleh ulama atau ilmuwan Muslim yang bertujuan pada sumbu “Tauhid” atau pengetahuan tentang “Hakikat Yang Maha Tunggal”.

Paradigma pengembangan ilmu pengetahuan pada era klasik, adalah obor kehidupan yang akan terus mengiringi umat Islam dalam peradaban dunia, bahwa konsep Islam yang di bawah oleh Rasulullah adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk seluruh alam), itu artinya meskipun panggung dunia telah berubah pada masa kini, dimana ilmu pengetahuan dan juga teknologi didominasi oleh Barat, akan tetapi tetap saja Islam yang menjadi porosnya.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top