Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (55): Kitab Alala, Himpunan Syair Penebar Semangat Santri
Penulis Kolom

Pengajar di MTs NU Miftahul Falah Dawe.

Mengenal Kitab Pesantren (55): Kitab Alala, Himpunan Syair Penebar Semangat Santri

Kitab Alala

Kitab Alala ini merupakan kitab pembangkit semangat belajar bagi para santri. Berisi himpunan tiga puluh tujuh syair berbahasa Arab tentang kiat-kiat sukses belajar, memilih teman, keutamaan ahli ilmu, dan dorongan untuk belajar. Bisa dikatakan kitab ini merupakan kitab motivasi penyemangat bagi santri.

Adapun himpunan syair-syair tersebut bersumber dari kitab Ta’limul Muta’alilm karya Imam Az Zarnuji. Kitab Ta’limul Muta’alilm sendiri merupakan kita yang berisi adab atau tata krama bagi para penuntut ilmu atau santri. Tampaknya kitab Alala ini ditujukan bagi santri pemula atau pelajar tingkat dasar. Bisa dikatakan kitab ini adalah kitab pendahuluan bagi santri pemula sebelum mereka mengaji kitab Ta’limul Muta’allim.

Lebih dari itu, di bawah syair-syair berbahasa Arab tersebut disertakan juga terjemah berbahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab Pegon. Sehingga bagi santri memahami isinya akan lebih mudah. Kitab tipis ini terdiri dari delapan halaman: satu halaman sampul dan tujuh halaman isi. Meski begitu, kandungan syair-syair kitab ini sangat besar manfaatnya untuk memberikan pondasi adab atau tata karma kepada santri.  Selain itu, kitab ini juga bisa membangkitkan semangat juang santri dalam menuntut ilmu.

Karena kitab ini berupa syair dan sekaligus disertai terjemahnya, maka santri akan mudah menghafalkannya dengan cara didendangkan, dinyanyikan bersama-sama maupun sendirian. Karena mudah didedangkan atau dinyanyikan maka keuntungannya adalah santri cepat hafal teks arabnya dan artinya cepat dipahami. Pada sampul kitab tertulis nama kitab “Alala …”, dan juga tertulis diperuntukkan bagi santri Pesantren Agung Lirboyo Kediri.

Baca juga:  Berzikir dan Berdoa bersama Al-Ghazali

Nama Alala sendiri diambil dari awal bunyi syair pertama berbunyi “Alala tanlul ilma ….”  Sehingga dikalangan para santri kitab ini popular dengan sebutan “syi’iran Alala.”  Lengkapnya syair tersebut berbunyi :

الا لا تنال العلم الا بستة # سأنبيك عن مجموعها ببيان

(alala tanalul ilma illa bisittatin # Saunbika an majmu’iha bibayani)

Terjemahnya :

“Ilinga dha’ hasil ilmu anging nem perkara # bakal tak critakake kumpule kanthi pertelo”

Kemudian syair pertama ini disusul syair kedua berbunyi :

ذكاء وحرص واصطبار وبلغة # وارشاد استاذ وطول زمان

(dzukain wahirsin washtibarin wabulghatin # wairsyadi ustadzin wathuli zamani)

Terjemahnya :

“rupane limpat, lubo, ana sanguine # lan piwulange guru lan sing suwe mangsane”

Kedua syair tersebut berisi tentang enam kiat-kiat supaya pelajar bisa menggapai ilmu yang ia pelajari. Enam kiat-kiat tersebut adalah cerdas (limpat), semangat belajar  atau memliki keingintahuan yang besar (lubo), sabar (pantang menyerah, ulet), dan memiliki bekal biaya. Selain itu, harus mendapatkan bimbingan dari guru dan belajar dalam waktu yang cukup lama, tidak instan.

Selanjutnya syair yang ketiga dan keempat berbicara tentang pertemanan. Dimana teman memiliki pengaruh yang besar pada pembentukan karakter  seorang santri atau pelajar. Karena itu teman yang buruk perangainya hendaknya segera dijahui. Sebaliknya, santri dianjurkan untuk memilih berteman yang memiliki karakter yang baik.

Baca juga:  Pada Mulanya adalah Surat: dari Imam asy-Syafi'i hingga RA Kartini

Syair kelima sampai syair  ketiga belas berisi tentang dorongan mencari ilmu, keutamaan belajar fikih dan orang berilmu (fakih), dan bahaya orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya serta orang bodoh tetapi semangat beribadah.

Pertama, tentang dorongan untuk mencari ilmu. Dimana ilmu merupakan perhiasan, keutamaan, dan sebagai dasar bagi perilaku terpuji pemiliknya. Ilmu harus dicari, diusahakan, dan dikaji. Tidak mungkin ilmu akan didapat dengan hanya berdiam diri, tidak mau bersusah payah.

Kedua, tentang keutamaan belajar fikih dan orang yang berilmu (fakih). Manfaat belajar fikih adalah memiliki pegangan yang kuat yang bisa menuntun seseorang kepada kebajikan, takwa, jalan petunjuk, dan akan menyelamatkan seseorang pada hari akhir nanti. Orang berilmu (fakih) dan wara’ (konsisten menjahui hal-hal yang haram) lebih sulit untuk ditaklukkan setan daripada seribu ahli ibadah tapi bodoh. Inilah kelebihan orang fakih dibanding dengan ahli ibadah yang jahil (bodoh).

Yang ketiga adalah bahaya atau kerusakan yang ditimbulkan oleh orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya. Kerusakan besar akan terjadi bila ada orang alim tetapi melanggar aturan. sebab ia memiliki ilmu tetapi tidak berperilaku sebagaimana ilmu yang ia miliki. Sehingga ia tidak bisa menyinari dan menginspirasi orang lain menuju jalan kebajikan. Justru ia menjadi teladan yang buruk bagi orang lain. Hal ini bisa menjauhkan masyarakat dari cahaya petunjuk.

Kerusakan yang lebih parah lagi adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh semangat orang yang rajin beribadah tetapi tidak dilandasi ilmu yang cukup alias bodoh. Sebab orang ibadah berlandaskan semangat saja tidak cukup. Ibadah harus berlandaskan ilmu yang benar.

Baca juga:  Resensi Buku Embun Kerinduan: Ibu dan aku

Contoh sederhana adalah semangat jihad yang diwujudkan dengan melakukan bom bunuh diri. Pelakunya berperasangka bahwa ia telah melakukan ibadah, yakni jihad, padahal  tidak. Sebab jihad di Negara Indonesia ini tidak dengan perang dan bom bunuh diri, melainkan dengan jihad intelektual, jihad ekonomi, jihad menciptakan pemerintahan bersih, jihad penegakkan hokum, dan lainnya. Dengan demikian salah besar jika di Indonesia berjihad dengan cara perang.

Baik orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya atau orang bodoh yang semangat dalam beribadah, keduanya merupakan sumber malapetaka (fitnah) yang besar bagi agama dan dunia. Lebih-lebih bagi orang yang mengikuti keduanya, yang mengira keduanya adalah panutan dalam beragama.

Demikian sekelumit isi kitab syi’iran kitab Alala ini. Kitab ini cukup popular dikalangan santri pondok pesantren. Dalam kitab ini juga diajarkan bagaimana sikap dan tata karma seorang santri kepada gurunya (murabbir ruh). Guru yang telah membimbing jiwa santri menuju kebajikan.

Diharapkan kitab kecil dan tipis ini mampu menggugah semangat para santri untuk mengaji dan mengkaji ilmu. Sudah barang tentu dilandasi dengan niat mencari ridho Allah dan didasari dengan tata krama  dalam menuntut ilmu.  Sehingga para santri mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top