Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (58): Taisir Musthalah al-Hadits, Kitab Ilmu Hadis Praktis dan Sistematis
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly Sa'idusshiddiqiyah Jakarta (alumni Ponpes KHAS Kempek Cirebon). Asal Losari, Brebes. Sekarang tinggal di Jakarta.

Mengenal Kitab Pesantren (58): Taisir Musthalah al-Hadits, Kitab Ilmu Hadis Praktis dan Sistematis

taisir

lmu musthalāh hadīts merupakan fan ilmu yang banyak dikaji di berbagai lembaga pendidikan Islam penjuru dunia, termasuk di Indonesia, baik di pesantren-pesantren ataupun perguruan tinggi.

Di Indoesia sendiri, ada beberapa kitab musthalāh hadīts yang sering dipakai, bahkan dijadikan kurikulum, di antaranya adalah Manzhûmah al-Baiqûniyah karya Taha ibn Muhammad al-Bayqûnī, ‘Ilmu Musthalāh Hadīts karya Mahmûd Yûnus, Taisīr Musthalāh al-Hadits karya Mahmûd Tahhān dan Manhāj Dzawī an-Nadhar karya Syeikh Mafûdz Termas. Di antara kitab-kitab tersebut, Taisīr Musthalāh al-Hadits merupakan salah satu yang sering dikaji. Kitab yang ringkas, lengkap dan cukup sistematis.

Mahmûd Tahhān menulis Taisīr Musthalāh al-Hadīts saat beliau menjadi dosen ilmu hadis di Fakultas Syariah, Universitas Madinah. Pertama kali kitab ini rilis pada tahun 1977. Penulisan kitab berawal dari kegelisahan beliau terhadap mahasiswanya yang mengalami kesulitan dalam memahami ilmu hadis.

Di Universitas itu kitab acuan ilmu hadis yang digunakan adalah Muqaddimah Ibnu Sahalāh karya Ibnu Shalāh. Berikutnya beliau ganti dengan ringkasannya, kitab At-Taqrīb wa Taisīr li Ma’rifati Sunan al-Basyīr an-Nadzīr karya Imam Nawāwī.

Mahmûd Tahhān menyadari, baik Muqaddimah Ibnu Sahalāh atau At-Taqrīb, sulit dipahami olah para mahasiswa. Lantaran bahasanya yang terlalu tinggi dan sarat dengan syair. Kandang pembahasannya terlalu penjang seperti dalam Muqaddimah Ibnu Shalāh, kadang juga terlalu pendek seperti dalam At-Taqrīb.

Begitu pula tidak dijumpai definisi dan contoh terkait dalam beberapa pembahasan, tidak disebutkan faedah dari suatu topik pembahasan,  tidak dicantumkan kitab rekomendasi dengan pembahasan terkait, serta susunan penulisan yang kurang sistematis. Dan masih banyak lagi kekurangan lalinnya. Hal demikian tidak hanya beliau jumpai di kedua kitab yang dijadikan acuan perkuliahannya itu, tapi juga pada hampir seluruh (kalau tidak mau dikatakan semuanya) kitab-kitab klasik lainnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (114): Tarekat Alawiyah

Melihat kenyataan itu, ditulislah kitab Taisīr Musthalāh al-Hadīts. Sesuai namanya, kitab ini beliau tulis untuk membantu para mahasiswa dalam mempelajari ilmu musthalāh hadīts dengan mudah dan praktis. Kitab ini disusun dengan 4 bab di dalamnya. Pertama, pembahasan tentang khabar. Kedua, terakit al-jarh wa at-ta’dīl. Ketiga, periwayatan beserta pilar-pilarnya. Keempat, pembahasan terkait isnād dan perawi.

Sesuai pemaparan di atas. Kitab ini memang disusun untuk memudahkan pengkaji ilmu hadis, terutama bagi para pemula. Sebagai kitab yang praktis dan sistematis, kitab ini memiliki kelebihan yang jarang ditemukan di kitab-kitab musthalāh hadīts pada umumnya. Berikut adalah kelebihan-kelebihan yang dimiliki kitab tersebut.

Disusun secara sistematis

Kitab ini disusun dengan praktis dan sistematis. Sehingga memudahkan pengkaji ilmu musthalāh hadīts dalam memahami kaidah-kaidah serta istilah-istilah dalam ilmu hadis. Penyajian pembahasan kitab ini dibagi menjadi beberapa alinea (sub-sub pembahasan) yang tersusun secara sistematis dan berurutan.

Penyusunan pembahasan diawali dengan definisi, baik secara etimologi maupun terminologi, penjelasan dari definisi itu sendiri, syarat dan hukumnya, bagian-bagian serta contoh-contohnya. Seperti saat menjelaskan al-Khabar al-Mutawātir. Mahmûd Tahhān awali dengan difinisi secara etimologi dan terminologi al-Khabar al-Mutawātir, dilanjut dengan penguraian difinisi terminologi lebih detail, kriteria al-Khabar al-Mutawātir, hukumnya, pembagiannya, eksistensinya dan penyebutan kitab-kitab represntatif terkait topik (Dr. Mahmûd Thahhān, Taisīr Musthalāh al-Hadīts, Maktabah al-Ma’ārif, hal. 23-26).

Baca juga:  Empat Karya Bung Karno yang Wajib Anda Baca

Penyebutan kitab representatif sesuai topik

Kelebihan berikutnya adalah, Mahmûd Tahhān tidak lupa memberikan rekomendasi kitab-kitab rujukan yang mu’tabarah sesuai dengan topik terkait. Seperti saat menjelakan Khabār al-Masyhûr, di akhir pembahasan Mahmûd Thahhān sertakan nama-nama kitab seperti al-Maqāshid al-Hasanah karya as-Sakhāwī, Kasyf al-Khafā karya al-‘Ajlûnī dan Tamyīz at-Thayyib min al-Khabīts karya Ibn Dabī’ asy-Syaibāni (Dr. Mahmûd Thahhān, Taisīr Musthalāh al-Hadīts, Maktabah al-Ma’ārif, hal. 34).

Pemaparan bagan

Pada pembahasan contoh yang memerlukan tambahan penjelasan, Mahmûd Tahhān tidak lupa sertakan bagan untuk membantu memahami lebih maksimal. Seperti dalam pemaparan contoh pada pembahasan khabar masyhûr (hal. 31) dan contoh khabar ‘azīz (hal. 37). Bagan juga dipaparkan sebagai kesimpulan pada sebagian pembahasan, seperti saat menjelaskan hadis mushaffah (hal. 148) dan kesimpulan khabar secara keseluruhan (hal. 166).

Kekurangan

Sebaik apapun karya, pasti tidak lepas dari kekurangan, termasuk kitab Taisīr Musthalāh al-Hadīts ini. Kitab ini memang sangat cocok untuk para pemula, tapi untuk tingkat lanjutan pasti akan bosan dengan penjelasan yang sangat singkat. Saran penulis, agar lebih puas dalam membaca kitab ini, bisa sambil membuka Muqaddimah Ibn Shalāh dan at-Taqrīb yang penjelasannya lebih luas. Termasuk kitab-kitab rujukan yang ditawarkan Mahmûd Thahhān pada setiap akhir topik pembahasan juga menjadi bacaan tambahan yang lebih luas.

Baca juga:  Di Leiden-Belanda, Pengajian Nashaihul Ibad Tetap Berlangsung

Mahmûd Tahhān juga tidak membuat bagan sebagai kesimpulan dari setiap pembahasan maupun penjabaran contoh secara keseluruhan. Beliau hanya membuat bagan pada sebagian pembahasan saja. Padahal, hemat penulis, akan lebih lengkap lagi jika setiap pemaparan contoh dan kesimpulan pada setiap bab dibuatkan bagan.

Terepas dari kekurangan tersebut, kitab ini sangat direkomendasikan untuk para pemula. Penyusunannya yang lengkap, parktis dan sistematis akan sangat membantu mengantarkan ke pintu kajian ilmu musthalāh hadīts lebih puas. Di samping untuk para pemula, kitab ini juga sangat membantu bagi para guru pengajar ilmu musthalāh hadīts agar mampu menjelaskan di hadapan muridnya secara praktis dan sistematis sehingga hasil pembelajaran lebih maksimal.

Identitas Buku:

Judul: Taisīr Musthalāh al-Hadīts

ISBN: 978-603-8028-39-1

Penulis: Dr. Mahmûd Tahhān

Cetakan: 11, 2010

Penerbit: Maktabah Al-Ma’ārif

Tebal: 296 halaman

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top