Sedang Membaca
Saat Santri Ditanya Seorang Dokter
Penulis Kolom

Santri Ponpes Lirboyo Kediri dan Ponpes Al Hikmah Bandar Lampung.

Saat Santri Ditanya Seorang Dokter

Saya pernah mengunjungi seorang dokter untuk mengadukan demam yang mengaduhkan tubuh renta ini. Alkisah, setelah melalui serangkaian pemeriksaan sebagaimana umumnya, sambil menulis resep obat, dokter itu mengajukan pertanyaan, “Masih kuliah atau sudah kerja, Mas?”

Pertanyaan itu sama sekali tak berhubungan dengan kesehatan. Barangkali dia hanya berbasa-basi agar suasana tidak jadi hening yang kadang-kadang memang bikin tidak nyaman.

“Saya mondok, Dok,” jawab saya singkat. Mondok adalah istilah yang merujuk santri yang sedang belajar ilmu agama di pondok pesantren.

“Memang mau jadi apa kalau mondok?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada dan mimik yang tampak meremehkan. Jujur saja pertanyaan lanjutannya ini sedikit memancing saya. Tekanan darah saya yang sewaktu dicek tadi terhitung rendah, serasa melonjak, padahal belum minum obat. Mungkin jika dicek ulang, saya justru divonis darah tinggi.

Otak saya bergegas menyiapkan jawaban. Dan nafsu saya ikut-ikutan membumbui agar jawaban yang keluar dari mulut saya bisa membuat saya merasa menang. Hampir saya menjawab, “Saya mondok bisa jadi apa saja, Dok. Presiden ke-4 adalah produk pondok. Begitu pun wakil presiden sekarang. Bla bla bla.”

Tetapi benak saya membayangkan jika jawaban itu keluar dan membuat dokter itu marah, atau minimal jadi tidak nyaman dengan saya, bukankah dia sedang menulis resep obat yang harus saya konsumsi? Bagaimana jika yang dia tulis justru membahayakan kesehatan saya? Repot juga.

Baca juga:  Gus Dur dan Kisah di Balik Makam Trowulan

Akhirnya saya tidak menjawab apa-apa kecuali hanya tersenyum. Tapi saya tidak merasa kalah. Kenapa?

Karena saya teringat bahwa yang paling harus diutamakan oleh santri adalah adab. Saya bisa saja mengeluarkan ribuan kata untuk membela identitas saya sebagai santri, menyebutkan ratusan daftar keunggulan apa saja yang dimiliki santri. Tetapi, itu bisa memicu perselisihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Dan itu bukan adab yang baik. Buat apa mengorbankan adab hanya demi perasaan memenangi perselisihan?

Jadi, saya memutuskan hanya tersenyum. Dan saya meyakini bahwa segores senyum itu sudah mewakili seluruh jawaban yang hampir saya keluarkan. Bahkan lebih dari itu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
3
Terhibur
1
Terinspirasi
5
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top