Sedang Membaca
Kisah Guru Ngaji dan Mubalig Sakit Gigi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kisah Guru Ngaji dan Mubalig Sakit Gigi

Abdillah Mubarak Nurin

Beberapa tahun yang lampau, saya pernah diajak abah berkunjung ke salah satu rumah seorang ustaz di pinggiran kota Banjarmasin. Abah, begitu saya memanggil ayah, menuturkan bahwa beliau sangat menaruh hormat dengan ustaz tersebut karena sikapnya yang tawaduk.

Ustaz tersebut, yang tak lain juga pernah menjadi guru saya di pesantren tak banyak dikenal secara luas. Beliau bukanlah seorang mubalig yang memberikan ceramah ke mana-mana, namun hanya seorang ustaz biasa yang membuka majelis kecil di rumah dan surau. Dalam istilah Gus Dur, orang seperti beliau dapat disebut sebagai “kiai kampung”.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sepeninggal abah. Saya dan kaka, beserta dua adik berkunjung ke rumah beliau, selain untuk bersilaturahim kami berempat juga meminta izin agar beliau bersedia memberikan pengajaran baca Alquran kepada kami, khususnya surah al-Fathihah. Dan beliau bersedia.

Ada cerita yang sangat menarik dan cukup berkesan bagi saya yang disampaikan sang ustaz sebelum kami memulai pengajian pertama. Beliau menuturkan bahwa mempunyai seorang teman yang dulu pernah sama-sama nyantri di pesantren.

Setelah lulus dan beberapa tahun berlalu, teman beliau tersebut sudah menjadi mubalig yang besar dan semakin hari jamaah dan pengikutnya juga kian bertambah.

Suatu hari, mubalig besar tersebut terserang sakit gigi. Awalnya hanya dianggap hal sepele, namun setelah beberapa waktu sakit giginya tak jua kunjung hilang. Akhirnya sang mubalig tersebut dirujuk ke rumah sakit.

Baca juga:  Surat-Surat Politik Imam al-Ghazali

Di rumah sakit bukannya sembuh. Sakitnya kian parah, dan para dokter pun seolah dihinggapi kebingungan, sebab sakit gigi yang didera sang mubalig tidaklah seperti sakit gigi umumnya.

Di tengah kebingungan tersebut, sang mubalig kedatangan tamu seorang habib. Karena yang datang bukanlah orang biasa, maka sang mubalig meminta izin agar habib berkenan memberi doa yang kemudian ditiupkan ke dalam sebotol air dengan harapan penyakitnya sembuh.

Namun sang habib menolak, beliau hanya memberi saran agar meminta doa dan air kepada seorang guru ngaji yang tinggal sekampung dengan mubalig tersebut. Awalnya sang mubalig agak ragu, namun karena tak ada jalan lain akhirnya ia berkenan meminta air kepada guru ngaji tersebut.

Hanya selang beberapa waktu sakit gigi yang didera sang mubalig tersebut telah hilang. Beliau benar-benar sembuh. Usut punya usut, guru ngaji tersebut ternyata ialah guru pertama yang mengenalkan “alif-alifan” (ngaji tingkat dasar) kepada sang mubalig.

Setelah menuturkan cerita di atas, ustaz saya mengatakan kepada kami yang dari tadi hanya diam mendengar beliau bercerita bahwa jangan sekali-kali melupakan orang yang pertama kali mengajarkan kalian alif-alifan. Jangan sekali-kali.

Di antara kita tentu pernah mendengar ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib:

“Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.”

Perkataan Imam Ali tersebut seolah ingin menegaskan kepada kita bahwa betapa tingginya kedudukan seorang guru. Profesi guru memang merupakan salah satu profesi yang yang sangat mulia. Ia merupakan profesi terbaik dan memiliki nilai ibadah. Oleh sebab itu, tidaklah patut seorang murid melupakan jasa gurunya, sekecil apa pun itu. Selain itu, seorang murid juga harus memiliki adab terhadap orang yang mengajarkan ilmu kepadanya.

Baca juga:  Peta Jalan Indonesia 2024

Dalam buku Guru dan Murid dalam Perspektif al-Mawardi dan al-Ghazali yang disusun Rahmadi, M.Pd.I, di antara adab seorang murid terhadap seorang guru ialah bahwa seorang murid perlu memiliki sikap respektif (al-hurmah) dan rendah hati (tawadhu) kepada gurunya. Mengapa?

Sebab, sikap hormat dan rendah hati pada guru memiliki dampak positif tidak hanya dalam menjaga harmonisasi hubungan keduanya tetapi juga kesuksesan belajar sang murid.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam buku tersebut juga dikemukakan sedikit perbedaan Imam al-Mawardi (364-450 H) dan Imam al-Ghazali (450-505) tentang hurmah dan tawadhu.

Menurut al-Mawardi, hurmah dan tawadhu diwujudkan dengan menghormati guru bagaimanapun status sosialnya, menghormati ilmunya, rendah hati kepada guru, meneladani guru, dan tidak meremehkan guru.

Sedangkan menurut al-Ghazali, belajar dengan hurmah dan tawadhu diwujudkan dalam bentuk memberi penghormatan (tahiyyah) ketika bertemu guru, menjaga perkataan di depan guru, mengajukan pertanyaan ketika diizinkan, tidak menentang dan meremehkan guru, menjaga sikap ketika berhadapan dengan guru, dan tidak berburuk sangka dengan guru.

Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang biasa disebut Guru Sekumpul, ialah sosok yang sangat menaruh rasa hormat kepada seorang guru, hal tersebut tergambar dalam buku Figur Karismatik Abah Guru Sekumpul yang ditulis KH. M. Anshary el-Kariem tentang bagaimana beliau dulunya suka menunggu KH. Zainal Ilmi Dalam Pagar, hanya untuk bersalaman dan minta doa kepada Tuan Guru tersebut.

Baca juga:  Ngaji Hikam: Eling lan Waspada

Selain itu, Guru Sekumpul juga diajarkan keluarga beliau untuk memberi perhatian lebih kepada guru ngaji beliau, yaitu Guru Hasan Pesayangan. Dituturkan bahwa Guru Sekumpul tiap malam selalu membawakan sebotol kecil minyak tanah untuk gurunya tersebut. Padahal kondisi ekonomi rumah tangga beliau sendiri saat itu sangat miskin.

Dua kisah tentang seorang mubalig dan Guru Sekumpul di atas hanya merupakan sedikit gambaran dan bagian kecil tentang bagaimana sikap seorang murid kepada gurunya. Tentu barangkali masih banyak cerita-cerita yang lebih menarik dan menggugah.

Namun setidaknya, dari dua kisah tersebut kita dapat mengambil kesimpulan yang sangat sederhana bahwa kesuksesan dan kebahagian seseorang tak lepas dari bagaimana ia bersikap kepada gurunya, terlebih kepada orang yang pertama kali mengenalkannya tentang kehidupan dan cinta. Wa Allah A’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top