Sedang Membaca
Membaca Risalah Ulama-ulama Jomblo
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Membaca Risalah Ulama-ulama Jomblo

M. Fahruddin Al Mustofa

Resensi Kitab Al Ulama Al Uzzab

Judul : Al Ouulama Al Uzzab Alladhina A’tsarul Ilma A’la Zawaj
Pengarang : Al Allamah Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah
Penerbit : Maktab Al Mathbu’ah Al Islamiyah
Tahun Terbit : 1982 M – 1402 H
Jumlah Halaman : 156 Halaman


Mungkin sebagian orang menilai –dengan pandangan sempit–bahwa seseorang yang sedang menyendiri atau dalam istilah kekinian adalah ‘jomblo’ itu sebagai stereotip yang bernilai negatif.  Sebaliknya, anak-anak muda yang dengan bangganya mengaku mempunyai sebuah hubungan dalam bingkai pacaran dan merasa lebih baik dari pada mereka yang ‘jomblo’.

Tak dapat dipungkiri fenomena ‘jomblo’ sebagai kambing hitam pergaulan zaman sekarang semakin kronis dan memperihatinkan.

Ditambah lagi banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di kalangan kawula muda sebagai senjata makan tuan dari pergaulan bebas yang lebih mengarah kepada pornografi dan pornoaksi.

Akan semakin menarik tatkala fenomena men-jomblo atau membujang ini dialami oleh sebagian ulama dan cendekiawan Muslim dalam pengembaraan mencari ilmu pengetauhan seluas mungkin.

Sekali lagi ilmu pengetahuan lah yang membuat mereka mengambil jalan hidup yang terjal dilandasi dengan kekuatan jiwa yang teguh dan istikamah dalam menggapai rida Ilahi melalui perantara ilmu.

Melalui risalah kecil yang berjudul Al Ulama Al Uzzab Alladhina Atsarul Ilma A’la Zawaj”, penulis membawa pembaca sekalian mengarungi kisah-kisah para ulama, mufasir, mufti dan cendekiawan lainnya tentang usaha dan jerih payah mereka dalam mencari ilmu sampai pada tahap ‘mendahulukan ilmu dari pada menikah’ dan memilih membujang hingga akhir hayatnya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (111): Ajaran-ajaran Akbariyah-Ibnu Arabi

Dalam pengantarnya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menjelaskan bahwa yang melatarbelakangi dalam penulisan risalah ini adalah belum adanya kumpulan tulisan atau karya yang mengupas secara khusus bab ini.

Ini menjadi nilai plus bagi muallif dalam mengawali debut penulisan dalam pembahasan tema baru ini.

Sehingga ketika pembaca baru melirik judul buku ini pasti akan dibuat penasaran dan ingin membaca lebih intens untuk karya ini.

Dari segi isi, kitab ini berisikan dua pokok pembahasan. Pertama, penulis memaparkan alasan mengapa para ulama memilih meninggalkan salah satu nikmat fitrah sebagai manusia dan merupakan salah satu tuntunan syariat untuk menyumpurnakan keberagamaan seseorang yakni nikah, dan memilih berkhidmat sepenuhnya untuk ilmu pengetauhan dan menjadikan ilmu syariat untuk mencapai sebuah hakikat kehidupan dalam mereguk samudra kasih-Nya.

Baca Juga
Sabilus Salikin (24): Taubat 2

Kedua, mengisahkan sederet nama-nama para cendekiawan muslim yang masyhur akan keluasan ilmu dan kezuhudan mereka dalam menyikapi dunia. Mereka ialah para mufasir, ushuli, ahli nahwu, fukaha yang mualif rangkum jejak-perjalanan mencari ilmu dalam keadaan menjomblo.

Di antaranya, Imam Dhahabi sang sejarawan handal, Imam Ibnu Jarir at-Thobari, Imam an-Nawawi, sang pakar nahwu dan bahasa yang beraliran muktazilah Imam Zamakhsary dan masih banyak lagi sekitar puluhan ulama yang terkumpul dalam kitab ini.

Baca juga:  Aksara Pegon dan Hanacaraka: Dominasi atau Saling Berbagi?

Tujuan disusunnya buku ini bukan untuk mendukung menjomblo dalam proses tholabul ilmi, tapi penulis menyebutkan bahwa untuk mengingatkan pada anak muda jaman sekarang dan para pemimpin masa depan akan berharganya ilmu bagi para pendahulu mereka, serta kerasnya usaha mereka dalam menggantungkan hidup mereka demi ilmu pengetauhan.

Sehingga para pemuda ini akan berlomba-lomba meraih kemuliaan ilmu ini dan meraih kebaikan atas pentingnya ilmu ini baik di dunia ataupun di akhirat.

Sesuai apa yang Allah janjikan dalam firman-Nya, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mereka yang berilmu.

Lihat Komentar (0)

Komentari