Sedang Membaca
Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi (1): Ekonomi Pesantren Mampu Bersaing dalam Skala Global
Penulis Kolom

Ketua Badan Ekonomi Pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang dan Dewan Pengurus Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren/HEBITREN Wilayah Jawa Tengah.

Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi (1): Ekonomi Pesantren Mampu Bersaing dalam Skala Global

Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi: Ekonomi Pesantren Mampu Bersaing dalam Skala Global (1)

Apa yang terjadi ketika salah satu problem krusial bangsa Indonesia, yaitu ketahanan ekonomi nasional, diajukan sebagai sebuah soal kepada institusi pendidikan keagamaan tertua di negara ini? Yang jelas, ketika itu ratusan pesantren dari seluruh nusantara yang hadir dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 menyatakan siap untuk ambil bagian dalam menjawab persoalan tersebut. Ini tentu menjadi kabar baik yang harus disambut secara positif.

Dengan kata lain, keikutsertaan pesantren dalam upaya pemberdayaan ekonomi tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan internal semata, melainkan juga sebagai upaya bersama dalam rangka mendukung kebijakan publik skala nasional. Hitung-hitung sebagai usaha untuk ikut berkiprah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negeri tercinta.

Keikutsertaan 198 pesantren tersebut (yang tercatat dalam program kemandirian pesantren bekerjasama dengan Bank Indonesia) seakan menghadirkan secercah harapan baru bagi terwujudnya ketahanan ekonomi nasional. Pesantren-pesantren bahkan tak hanya mengandalkan satu sektor saja. Semuanya menawarkan produk unggulan dan inovasi dari berbagai sektor, mulai dari pertanian, daur ulang sampah, perdagangan, industri kreatif, hingga sektor keuangan berbasis syariah.

Peran aktif pesantren tersebut tentu tak lepas dari akar sejarah yang mendudukkan pesantren dalam posisi vital perjalanan bangsa. Keberadaan pesantren sendiri selain berhubungan erat dengan proses penyebaran Islam di Indonesia, juga memegang fungsi penting sebagai pusat pendidikan yang dimulai pada abad 15 M, lebih tepatnya pada era Wali Songo di tanah Jawa. Lebih dari itu, pesantren bahkan pernah menjadi simbol perjuangan sekaligus menjadi benteng pertahanan perlawanan menentang penjajah dan merebut kemerdekaan.

Baca juga:  Pendidikan Bebas Prasangka

Kini, dengan disahkannya Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 30 tahun 2020, pesantren kian mengokohkan tiga fungsi utamanya yaitu fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Tentu, keikutsertaan pesantren dalam perberdayaan ekonomi merupakan manifestasi fungsi ketiga dari lembaga ini.

Yang jelas, komitmen pesantren untuk secara berjamaah ikut andil dalam pemberdayaan masyarakat ini telah membawa 198 Pesantren dari seluruh provinsi di Indonesia untuk mendeklarasikan komitmen bersama memperkokoh kemandirian dan kontribusi Pesantren terhadap kemandirian ekonomi umat dan bangsa yang berbasis syariah dan rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai wujud dari komitmen bersama tadi, lahirlah Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (HEBITREN) yang diketua oleh KH. Hasib Wahab Hasbullah, sebagai wadah untuk menyatukan seluruh Pesantren di Indonesia untuk berkolaborasi dalam membangun ekonomi bisnis Pesantren dan ummat. Output yang telah dicapai sejauh ini di antaranya adalah pembangunan Green House di 11 Pesantren di Jawa Barat, pembangunan Rumah Kemas untuk penampungan hasil pertanian Pesantren, Pembangunan Distribution Center (DC) produk di 3 Pesantren di Jawa Timur, replikasi Green House di 7 Pesantren di Riau, berdirinya Sarekat Ekonomi Pesantren di Lampung, berdirinya Koperasi Konsumen Syarikat Bisnis Pesantren di Yogyakarta, dan Kopontren Sekunder se-Jawa Tengah.

Seluruhnya merupakan ikhtiar untuk mewujudkan pesantren sebagai basis ekosistem serta agen pemberdayaan ekonomi nasioal yang mampu bersaing dalam skala global. Selain juga merupakan wujud implementasi nilai-nilai keislaman oleh pesantren sebagai salah satu ikon terbesar agama Islam di Indonesia untuk menggapai terwujudnya baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

 

Baca juga:  Diaspora Santri (14): Nahdlatul Ulama dan Perjuangan Pendidikan di Sydney, Australia
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top