Sedang Membaca
Fariduddin Attar dan Mantiqut Thair: Cermin Perjalanan Spiritual Manusia
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Fariduddin Attar dan Mantiqut Thair: Cermin Perjalanan Spiritual Manusia

Fuji Nur Iman

Nama lengkapnya Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim. Ia lebih dikenal dengan Fariduddin Attar, si penyebar wangi. Lahir di Nisyapur pada kurang lebih 1120 M dan wafat pada 1230 M. Hampir tidak ada yang diketahui tentang Attar ini kecuali hanya sedikit informasi dan inskripsi yang terukir di sebuah batu nisan berbahasa persia.

Disebutkan dalam inskripsi, “Di sini di taman Adn bawah, Attar menerbarkan wangi pada jiwa orang-orang sederhana. Inilah makam seorang yang begitu mulia sehingga debu yang terusik kakinya akan merupakan kolirium di mata langit; makam Syaikh Farid Attar yang terkenal, yang menjadi ikutan orang-orang suci; makam penebar wangi yang utama dengan nafasnya yang mengharumi dunia dari Kaf ke Kaf. Di kedainya, sarang para malaikat, langit bagai botol obat semerbak dengan wangi sitrun. Bumi Nisyapur akan terkenal akan terkenal hingga hari kiamat karena orang yang termasyhur ini”.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Attar konon tinggal di Nisyapur selama delapan puluh dua tahun. Tiga puluh dua tahun dari waktu itu ia lewatkan dalam ketenangan. Attar tewas dalam usia lanjut. Ia dikejar-kejar dan syahid dalam pembantaian di zaman Hulagu Khan.

Attar dikenal sebagai seorang sufi sekaligus penyair. Salah satu karyanya yang konon menjadi ispirasi karya-karya Rumi adalah Mantiqut Thair. Sebagaimana dikatakan Syed Hossein Nasr, sajak-sajaknya tidak hanya didiskusikan secara serius oleh para sastrawan, tetapi juga dikutip oleh tukang roti dan tukang sepatu yang bahkan mungkin tidak mengenal sastra.

Mantiq ut-Thair (musyawarah burung) karya si penyebar wangi, diawali dengan dengan sebuah puji. Puji kepada Allah yang Maha Suci. Menempatkan arasy-Nya di atas lautan dan yang telah menciptakan segala makhluk di bumi. Kepada langit Ia berikan kekuasaan dan kepada bumi ketundukan; kepada langit Ia anugerahkan gerak dan kepada bumi ketenangan yang tetap.

Musyawarah burung ini dihadiri oleh seluruh burung dari penjuru dunia, yang dikenal dan tak dikenal. Hudhud yang menjadi penunjuk jalan Nabi Sulaiman dan menjadi utusan sejati dari lembah. Si Kicuit yang seperti Musa. Nuri yang berjubah indah dan mengenakan kerah baju dari api. Ayam hutan yang berjalan anggun. Elang dengan pandangan yang tajam menikam.

Baca juga:  Penciptaan Alam dalam Manuskrip Sunan Kudus

Pikau yang terkadang mendengar perjanjian cinta ilahiah. Bulbul dari Taman Cinta. Merak dari Taman Berpintu Delapan. Kuau yang mampu melihat mata air nurani yang tercelup di lautan cahaya. Tekukur yang menengadah lembut. Merpati yang dilehernya melingkar kerah baju keimanan. Serta Goldfinch dan Rajawali.

Musyawarah dibuka, mereka berkata: “Tiada negeri di dunia ini yang tak punya raja. Maka bagaimana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa!. Keadaan demikian tak bisa dibiarkan terus. Kita harus berusaha bersama-sama untuk mencarinya; karena tiada negeri yang mungkin memiliki tata usaha dan tata susunan yang baik tanpa raja”.

Hudhud yang memiliki segudang pengalaman suci, utusan dari dunia yang tak kasat mata, menemani Sulaiman, tampil ke muka. Ia memiliki pengalaman tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan. Simurgh dikenalkan olehnya ke seluruh burung dari seluruh dunia. Dialah Raja sejati, Raja segala burung, tinggal di balik gunung-gunung Kaf. Ia dekat dengan kita, tetapi kita jauh darinya.

Attar melukiskan melalui Hudhud bahwa jalan menuju Simurgh meski ditempuh dengan tujuh lembah yang berbeda. Burung-burung yang menganggap bahwa dirinya telah sempurna awalnya mengira bahwa perjalanan melewati lembah itu adalah sia-sia.

Bulbul telah silau dengan nyanyiannya dan cinta kepada mawar jelita yang berduri. Nuri yang bangga dengan pakaian hijau dengan kerah baju kencana melingkar di lehernya dan tak lagi memiliki cita-cita untuk bahagia. Merak yang telah menemukan surganya. Itik yang telah menemukan kegembiraan di atas air, dan Ayam Hutan yang tidak menyadari kepincangannya. Burung-burung itu ragu, apakah mereka meski meninggalkan hidup yang sudah tenang ataukah mereka meski menempuh perjalanan untuk menemui Simurgh Sang Raja.

Baca juga:  Sabilus Salikin (120): Kehidupan dan Tantangan al-Syadzili di Tunisia (3)

Di tengah-tengah keraguan para burung, Attar menyuguhkan kisah Syaikh San’an. Ia adalah orang suci di zamanya. Ia bisa melakukan keajaiban-keajaiban dan nafasnya menyembuhkan mereka yang sakit dan menderita. Di bukit keagungannya itu, siapa sangka, ia jatuh ke lembah kemusyrikan. Larut dalam cinta kasat mata. Tapi beruntungnya ia, murid dan sahabatnya yang setia, tak henti bermunajat kepada Tuhan, sampai sang Nabi juga akhirnya ikut turun tangan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dengan segera ia pun menyadari kekeliruannya. Meninggalkan segala yang telah membuatnya mencintai dunia. Gadis Nasrani yang sempat membuatnya gila karena cinta kini juga turut larut dalam cinta kepada Dia yang abadi.

Kisah Syaikh San’an membuat burung-burung merenung. Meraka pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan cara hidup yang lama. Dengan rasa cemas, takut, dan ketidaktauan, mereka akhirnya bergegas menata, memulai perjalanan melewati tujuh lembah untuk menemui Simurgh Sang Raja.

Lembah pertama ialah lembah pencarian. Seratus kesulitan dan cobaan akan menyergap. Merak langit tak lebih dari dari seekor lalat. Burung-burung harus melewatkan beberapa tahun, melakukan usaha besar dan mengubah keadaan. Siapa yang masuk ke sini akan dipenuhi kerinduan sedemikian rupa sehingga ia akan mengabdikan sepenuh dirinya dalam usaha pencarian yang dilambangkan oleh lembah ini.

Lembah kedua adalah lembah cinta. Untuk memasukinya burung-burung meski menjadi api yang menyala. Wajah pencinta harus menyala, mengilau, dan berkobar bagai api. Cinta sejati tak mengenal apapun. Tak ada lagi baik dan buruk. Cinta dilambangkan dengan api dan pikiran dengam asap. Bila cinta datang, pikiran pun lenyap.

Lembah ketiga adalah lembah keinsyafan. Lembah yang tak berawal dan tak berakhir. Tak ada jalan yang sama dengan jalan ini dan tak dapat diperkiran berapa jarak yang meski ditempuh untuk melewatinya. Keinsyafan kekal sifatnya dan dapat dicapai dengan beragam cara, sebagian ada yang menemukannya di Mihrab, sedang yang lain pada patung berhala yang dipuja. Bila matahari keinsyafan meneranginjalan ini, masing-masing akan menerima cahaya sesuai dengan amal usahanya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (42): Golongan Wali yang Tidak Terhitung Jumlahnya

Lembah keempat adalah lembah kebebasan dan kelepasan. Lembah di mana tak ada nafsu untuk memiliki atau keinginan untuk menemukan. Lembah kelima adalah lembah keesaan. Segalanya pecah berkeping-keping dilembah ini dan kemudian menyatu. Lembah keenam adalah lembah keheranan dan kebingungan. Lembah di mana kita menjadi mangsa duka, kesedihan dan seolah tak berpengharapan. Sedang lembah ketujuh adalah lembah keterampasan dan kematian yang hamoir tak mungkin dijelaskan.

Pada akhirnya, hanya tiga puluh burung saja dari kawanan yang besar yang sampai ke tujuan perjalanan. Banyak yang hilang di lautan, binasa di puncak gunung-gunung tinggi, disiksa dahaga, terbakar sayapnya, sebagian juga dimangsa macan dan serigala. Namun, mereka ini pun masih dalam kebingungan pula, letih, dan sedih. Tak berbulu dan tak bersayap lagi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam kebingungan, burung-burung fana itu dengan sendirinya menyerahkan diri pada kemusnahan sepenuhnya. Mereka meniadakan diri sendiri dalam diri Sang Simurgh, bayang-bayang telah lenyap dalam cahaya dan begitulah adanya.

Di akhir musyawarah burung ini Attar mengatakan:

“Tahukah kau apa yang kau miliki? Masuklah ke dalam dirimu sendiri dan renungkan ini. Selama kau tak menyadari kenihilanmu, dan selama kau tak meninggalkan kebanggaan diri, kesombongan dan cinta diri, kau tak akan bisa mencapai puncak kebakaan. Di jalan itu kau tercampak dalam kehinaan dan terangkat dalam kehormatan.”

Melalui musyawarah burung, Attar tampaknya ingin menampilkan sebuah perjalanan hidup manusia. Perjalanan para burung untuk menemui Simurgh Sang Raja dengan segala lika-likunya setidaknya adalah mencerminkan tentang beragamnya manusia dan segala yang menjadi persoalan-persoalan di dalamnya. Manusia yang terkadang bangga dengan apa yang sudah dimilikinya dan buta terhadap hakikat penciptaannya. Manusia yang terkadang larut dalam berlomba-lomba untuk mendapat surga tapi lupa kepada siapa yang menciptakan segala kenikmatan di dalamnya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top