Dian Paulina
Penulis Kolom

Mahasantri Subulussalam 2, Plosokandang, Tulungagung.

Hati Suhita: Belajar Tentang Ketabahan dan Ketulusan

Hati Suhita

Seorang penulis kelahiran Jember yang bernama Khilma Anis telah membuat sebuah novel yang berjudul Hati Suhita. Jejak awal kepenulisannya dimulai dari Majalah SUSANA (Suara Santri Assaidiyah) sampai pada akhirnya terbitlah Hati Suhita di tengah- tengah dunia pesantren sebagai pembuka pintu eksistensi pondok pesantren di peradaban sekarang.

Hati Suhita, sebuah novel yang ditulis untuk menunjukkan bagaimana kiprah seorang perempuan dalam menjalani kehidupannya yang berkaitan dengan wanita-wanita pra kolonial di dalam cerita pewayangan.

“Aku tak boleh tenggelam dalam nestapa sebab namaku adalah Suhita. Dewi Suhita, yang membuat Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng Gunung Lawu. Aku, yang mewarisi namanya, tak perlu membuat tempat pemujaan dan punden berundak di lereng gunung. Aku hanya harus belajar pada ketabahan Ekalaya yang ditolak dan diabaikan.” (hlm. 12)

Begitulah kecamuk batin Alina Suhita dalam pernikahan yang dijodohkan. Ya, memang sekarang bukanlah zaman Siti Nurbaya, tetapi Alina adalah Ning (sebutan untuk Putri kyai di Jawa) yang sudah tentu perjodohan adalah hal yang semestinya terjadi. Sejak kecil ia telah diambil calon mantu seorang kyai dengan pondok pesantren yang dipenuhi ribuan santri. Masa depannya telah ditentukan oleh calon mertuanya, termasuk dimana ia harus mondok dan kuliah. Setelah pernikahannya dengan Gus (sebutan untuk putra kyai di Jawa) Birru, Alina tidak mendapatkan kebahagian tetapi penolakan dan pengabaian yang justru ia terima dari Gus Birru.

Baca juga:  Membersihkan Wajah Nabi di Barat

“Perjodohan itu tidak ada dalam kamus hidupku. Aku ini aktivis. Aku teriak setiap hari soal penindasan. Soal memperjuangkan hak asasi. Kawan-kawan menertawakanku karena aku tidak bisa memperjuangkan masa depanku sendiri. Semua kawanku kecewa dengan perjodohan ini.” (hlm. 2)

Begitulah Gus Birru, ia lebih menyukai dunia aktivisnya dari pada mengurus manajemen pondok pesantren abahnya. Alinalah yang selama ini mengurus pesantren tanpa Gus Birru mengetahui bagaimana kerja kerasnya membangun kemajuan pesantren. Yang ia tahu, Alina adalah seorang gadis penghafal Al-Qur’an yang begitu disayangi uminya.

Gus Birru lebih suka berada di luar rumah dan pesantren. Kesehariannya memperjuangkan hak-hak orang melalui dunia jurnalis. Rengganis, seorang gadis yang cantik, cerdas, dan memiliki kepiawaian jurnalistiknya telah mengisi relung hati Gus Birru selama ini. Setiap hari mereka bertemu untuk membahas jurnalistik yang sedang dibangun oleh Rengganis dan timnya agar pesantren memiliki sebuah majalah yang berbobot. Rengganis terus belajar bagaimana cara memasuki dunia Gus Birru yang berada di lingkaran pesantren. Pada akhirnya, Rengganis bertemu dengan umi dan mulai menyadari sekeras apapun ia mencoba memasuki dunia Gus Birru, tetap akan sia-sia. Karena Alinalah yang telah menempati dunia Birru.

“Gus, kowe ki harus menemukan perempuan pengabsah wangsa yang tepat. Sebabe kowe anak tunggal. Penerusmu wong akeh je.” (hal 147) Begitulah penuturan Permadi kepada Gus Birru. Ia terus berpikir, siapa pengabsah wangsanya (perempuan ideal yang menjadi wadah kesaktian dan penerus wangsa leluhur). Rengganis, dialah yang selama ini mengenal dirinya dan mengisi relung hatinya. Suhita, wanita yang selalu ia abaikan, tetapi kebahagiaan umi dan abah ada di Alina. Begitu pula pesantren, Alina yang mengurusnya selama ini.

Baca juga:  Sabilus Salikin (66): Wadzifah Nûrâniyah Tarekat Sa'diyyah

Menunggu pengabsah wangsa tak bisa ia biarkan begitu lama, karena bagaimanapun pesantren membutuhkan seorang penerus. Alina Suhita, ialah pengabsah wangsanya yang sedari dulu tak disadarinya. Gus Albirrudin melepaskan Rengganis yang selama ini menemani dan mendukung dunia aktivisnya. Ia telah menyadari bahwa Alina adalah tambatan hati baginya dan dialah yang pantas menjadi pengabsah wangsa.

Novel ini memberikan pemahaman mengenai cerita dan filosofi pewayangan, sehingga setiap pembaca tidak hanya memperoleh amanat dari cerita tetapi juga pemahaman dan wawasan dari tokoh-tokoh pewayangan yang bercerita tentang wanita pra kolonial. Novel Hati Suhita, dunia batin perempuan yang berlatarkan pondok pesantren dengan tradisi Jawa yang kuat masih sepi dalam ranah sastra Indonesia, tetapi Khilma Anis mampu menyajikannya dalam Hati Suhita. Akan tetapi, di dalam novel banyak menggunakan kosakata bahasa daerah, sehingga masih sulit untuk dipahami bagi pembaca.Dalam novel tersebut penulis memakai banyak sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Alina Suhita, Gus Birru, dan Ratna Rengganis. Jadi ketiga sudut pandang yang dihadirkan penulis, pembaca akan mengetahui berbagai problematika dan juga perang batin yang dihadapi sang tokoh.

Lebih uniknya lagi, dalam novel tersebut tidak disuguhkan tokoh Antagonis, justru semuanya berperan Protagonis. Selain itu, Novel tersebut dalam menceritakan menggunakan bahasa sehari-hari yang enak di pahami dan menariknya terdapat unsur cerita tokoh pewayangan yang menceritakan tentang lakon dan falsafah kehidupan.Dalam novel tersebut juga ada sebagain dialog yang menggunakan bahasa Jawa yang mengandung sebagian kata yang mungkin sulit dipahami bagi orang awam yang tidak tahu bahasa Jawa. Namun, penulis juga menjelaskan dalam glosarium. Jadi, pembaca bisa membolak-balik ketika ada kesulitan dalam memahami maksud yang disampaikan penulis.

Baca juga:  Gus Dur dan Humor Presiden Republik Terong Gosong

 

Judul buku : Hati Suhita

Penulis buku : Khilma Anis

Penerbit buku : Telaga Aksara Ft Mazaya Media Yogyakarta

Tebal buku : 405 halaman

ISBN : 978-602-51017-4-8

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top