Sedang Membaca
Metamorfosa Nasida Ria
Damhuri Muhammad
Penulis Kolom

Damhuri Muhammad, lahir di Padang, 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia menulis fiksi, esai seni, kolom budaya di media-media nasional. Damhuri telah menulis 7 buku. Karya terkininya, Takhayul Milenial (nonfiksi, 2020). Kini ia berkhidmat sebagai pengajar filsafat di Fakutas Sastra Universitas Darma Persada, Jakarta.

Metamorfosa Nasida Ria

Epb3flouyaeqwcc

Mungkin sulit membayangkan seorang calon personil grup kasidah modern Nasida Ria tanpa talenta tilawah yang memadai. Setidaknya demikianlah salah satu kriteria yang tertera pada konten lowongan yang pernah terunggah di fanpage Facebook Nasida Ria Management. Apa itu tilawah?

Terminologi tilawah di sini dapat disederhanakan dengan kepiawaian membunyikan teks Al-Qur’an dengan macam-macam jenis tartil yang lazim tersimak di mimbar-mimbar Musabaqah Tilawatil Qurán (MTQ), di panggung-panggung perayaan hari-hari besar Islam, atau sekadar aktivitas Yasinan rutin setiap malam Jumat. Dengan begitu, keterampilan khusus ini tidak mengejar hapalan (tahfiz) sebagaimana yang hari-hari ini hampir dimutlakkan sebagai pencapaian tertinggi di berbagai madrasah atau sekolah-sekolah Islam terpadu di perkotaan, tapi menebalkan sense of art saat menyuarakan teks Al-Qur’an, hingga dapat mengungkit impresi-impresi ketakjuban bagi segenap pendengar, baik yang disimak secara berhadapan-hadapan, maupun yang samar-samar terdengar dari kejauhan.

Tapi bagi manajemen Nasida Ria, ketilawahan yang mumpuni sesungguhnya bukanlah skill individu yang jatuh dari langit, melainkan dapat dibentuk dengan latihan-latihan terukur dalam waktu yang tentu saja tidak instan. Itulah sebabnya, grup kasidah modern (dengan keanggotaan yang seluruhnya perempuan) sejak dari kelahiran mula-mulanya pada tahun 1975, memperlakukan grup itu sebagai “akademi mini” yang dapat melahirkan talenta-talenta baru dari generasi ke generasi.

Selain kualifikasi artistik dalam konten maklumat rekrutmen personil baru di atas, tercantum pula persyaratan yang terasa kurang biasa; diutamakan yatim-piatu. “Ini sekaligus untuk membantu anak-anak muda yang berasal dari keluarga kurang mampu,” kata Choliq Zain, pimpinan Nasida Ria dalam sebuah wawancara televisi pada tahun 2018.

Kriteria non-artistik itu memperlihatkan semacam tanggung jawab kemanusiaan dari sebuah komunitas seni tarik suara berbasis ketilawahan qur’anik, yang bukan saja hendak mengemban dakwah Islam dengan kasidah, tapi sekaligus memperlihatkan keteladanan dari pengamalan ibadah sosial yang kerap mereka lantunkan di gelombang radio era 1980-1990-an, televisi, dan panggung-panggung hajatan khitanan. Jadi, apa yang saban hari mereka suarakan, adalah juga apa yang mereka amalkan dalam keseharian. Para ulama sering menyebut pola dakwah semacam ini dengan terminologi bilhikmah walmauizatil hasanah.

Calon-calon terpilih itu akan diasramakan di sebuah rumah hunian di Semarang (Jawa Tengah) dalam rentang waktu tertentu di bawah bimbingan guru-guru musik jempolan yang sengaja didatangkan. Masing-masing individu dari 9 personil (kini 12 orang) Nasida Ria ditargetkan untuk memiliki kemampuan olah vokal yang istimewa, dan menguasai setidaknya 3 alat musik yang biasa mengiringi lagu-lagu Nasida Ria. Itulah yang dilakukan oleh HM Zain saat merintis Nasida Ria. Bermula dari aktivitasnya sebagai guru mengaji yang secara tak sengaja membentuk sebuah komunitas kecil di masa itu. Melihat usia kekaryaan Nasida Ria yang hingga catatan kecil ini dituliskan telah mencapai 4 dekade, hampir dapat dipastikan bahwa HM Zain bukanlah guru mengaji yang biasa, tapi guru yang seniman, dengan visi artistik yang pasti bukan kaleng-kaleng. Berbekal alat musik rebana, dikumpulkannya murid-murid yang bertalenta ketilawahan, hingga diperoleh 9 personil untuk sebuah grup yang ia beri nama Nasida Ria.

Baca juga:  Semangat Toleransi dalam Sinema Lintas Ruang (1): Where Do We Go Now? Perempuan, Konflik Agama, dan Kekonyolan

“Nasyida berarti nyanyian, sementara Ria berarti gembira. Nasida Ria adalah nyanyian gembira,” kata Hj Rien Djamain, salahsatu personil generasi pertama dalam sebuah wawancara.

Di masa-masa awal itu, sejumlah karya Nasida Ria masih digarap dengan lirik berbahasa Arab, yang sebagian besar dipengaruhi oleh popularitas genre serupa di Timur Tengah, sebagaimana terbuhul dalam album pertama bertajuk Alabaladil Makabul, produksi Puspita Records pada 1978. Meski begitu, pada album pertama yang terdiri dari 10 lagu itu sudah ada lagu berlirik bahasa Indonesia seperti Menyesal Diri, Janji adalah Hutang, Cintaku Ternoda, Ibadah Haji, dan Hanya Allah, sementara produksi musikalitasnya sudah dilengkapi dengan Organ, Kendang, Gitar (bass dan melodi), Biola, Tamborin, dan Seruling. Perubahan musikalitas itu dilakukan atas saran Imam Soeparto Tjakrajoeda, Walikota Semarang masa itu, yang sejak awal telah mengikuti visi artistik Nasida Ria. Ia menyumbangkan 1 unit Organ untuk Nasida Ria. Dari sana pula penambahan varian alat-alat musik dilakukan, hingga tak terasa kekaryaan anak-anak kesayangan HM Zain itu telah sampai pada album keempat.

Dapat dibayangkan betapa kerasnya resistensi yang mereka hadapi ketika Nasida Ria berani mempertontonkan 9 gadis muda berbusana muslimah, bernyanyi dengan cengkok suara meliuk-liuk sambil menggesek biola di atas pentas yang disaksikan oleh sekian banyak mata. Andai saja di zaman itu sudah ada kenyinyiran media sosial seperti kini, sudah barang tentu manajemen akan ditarget sebagai pihak yang akan dirisak habis-habisan setiap hari.

Menurut penuturan Choliq Zain, karya-karya Nasida Ria dari album volume 1 hingga volume 4 belum mendapatkan sambutan yang menggembirakan. “Suatu ketika ayah saya (HM Zain) bertemu dengan sahabatnya, KH Ahmad Buchori Masruri, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah masa itu.

“Ia menyarankan agar lirik berbahasa Arab diganti dengan bahasa Indonesia supaya pesan-pesan dakwahnya mudah dipahami,” kata Choliq Zain sebagaimana dikutip kompas.com (3/1/2021). Tak lama kemudian, K.H. Ahmad Buchori Masruri turut pula menjadi salah satu pencipta lagu bagi Nasida Ria dengan nama samaran Abu Ali Haidar.

Nasida Ria melejit pada album kelima dengan hits berjudul Perdamaian yang dirilis sekitar tahun 1980-an. Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai, begitu penggalan lirik Perdamaian yang tercatat sebagai tonggak popularitas Nasida Ria. Stasiun radio RRI memancarluaskan hits pamungkas itu ke berbagai pelosok Indonesia. Popularitas itu terus berlanjut dengan munculnya lagu-lagu berisi kritik sosial seperti Dunia dalam Berita, Jilbab Putih, Bom Nuklir, Ratu Dunia, Indonesiaku, hingga yang tak kunjung lenyap dari memori generasi 1990-an, yakni Kota Santri.

Selepas melejitnya Perdamaian dan Kota Santri itu, maka Rien Djamain, Afuah, Hamidah, Nadhiroh, Nurhayati, Nurjanah, Thowiyah, Sofiyatun, Uswatun Khasanah, Titik Mukaromah, Nazla Zain, dan Alfiatul Khoiriyah, bukan lagi personil amatiran sebagaimana dulu, tapi telah menjadi selebritas yang padat jadwal panggung dan senantiasa menjadi pusat perhatian.

Baca juga:  Mengenal Kembali Elemen Mushaf Alquran: Iluminasi

Undangan berdatangan dari mana-mana. Wajah anak-anak kesayangan HM Zain pun tidak lagi asing bagi para pemirsa televisi. Bukan saja pemirsa dalam negeri, tapi juga para penyuka genre kasidah di mancanegara. Pada tahun 1998, Nasida Ria tampil di Malaysia dalam perayaan 1 Muharam. Tak sampai di situ, jangkar Nasida Ria bahkan meluas sampai ke Eropa.

Pada tahun 1994, mereka tampil dalam acara Die Gart des Islam (Pameran Budaya Islam), Berlin-Jerman. Dua tahun kemudian, tepatnya 1996, Afuah dan kawan-kawan kembali lagi Jerman, guna memenuhi undangan Festival Heimatklange, dan waktu itu mereka tampil di tiga kota, yaitu Berlin, Mülheim, dan Düsseldorf.

Popularitas Nasida Ria berpengaruh besar terhadap pertumbuhan grup-grup kasidah di Indonesia. Banyak sekali festival kasidah modern yang bermunculan di mana para pesertanya terobsesinya ingin menggapai puncak seperti yang telah dicapai oleh Nasida Ria. Di belantika musik tanah air, hits Perdamaian pernah di-cover oleh Band GIGI, sementara Kota Santri pernah dibawakan oleh diva pop Indonesia, Krisdayanti. Harian Republika mencatat, jejak Nasida Ria diikuti berbagai musisi kasidah modern pada tahun 1990-an, termasuk Haddad Alwi dan Sulis. Sementara di Malaysia, genre tersebut menjadi terkenal dengan grup seperti Raihan, Rabbani, Hijjaz dan Saujana.

Dengan pengalaman internasional sejauh itu, maka keterpukauan publik Kassel, Jerman, saat Hj Afuah dan kawan-kawan membawakan lagu Perdamaian pada Opening Week Music Program Documenta Fifteen, 18 Juni 2022 bukanlah pengalaman yang asing bagi para personil Nasida Ria. Potongan-potongan video amatir yang menampilkan sejumah penonton warga Jerman ikut berjoget saat Nasida Ria tampil yang menyebabkan kabar viral itu menunjukkan betapa usia kekaryaan Nasida Ria yang telah mencapai 40 tahun dengan 35 album dan tak kurang dari 400 lagu, pantas mendapatkan apresiasi. Konsistensi bertahan dengan genre kasidah modern dengan visi artistik yang mengemban tugas-tugas dakwah tidak bisa lagi dipandang sebagai proses kreatif yang udik dan tertinggal di era musik kontemporer.

Ikhtiar regenerasi Nasida Ria sebagaimana yang tertera pada konten maklumat rekrutmen personil baru di atas, tampak sebagai upaya manajemen beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pembibitan yang terus berlangsung dengan visi artistik yang sama kini setidaknya telah berhasil mendedahkan dua angkatan baru di belakang generasi Hj Rien Djamain dan kawan-kawan. Bila Anda salah satu fans Nasida Ria dari angkatan usia kepala empat, tentulah Anda juga subscriber dari kanal Youtube Nasida Ria Management yang seban hari mengunggah konten-konten terbaru mulai dari proses latihan untuk karya-karya terkini, daily vlog, hingga lagu-lagu lawas yang ditampilkan dengan aransemen baru. Bila Anda tak punya banyak waktu untuk duduk berlama-lama menyaksikan tampilan visualnya di platform berbagi video, karya-karya terkini, termasuk cover hits-hits pamungkas Nasida Ria dapat diakses di Spotify, dan tentu bisa disimak sembari berkendara atau sembari menanti hujan reda.

Baca juga:  Sajak dalam Perspektif Al-Ghazali (2): Sajak Penggugah dan Pemicu Semangat

Eit…Jangan dikira kanal itu hanya menyediakan konten-konten berselera tua. Manajemen juga kerap mengunggah cover Perdamaian, Kota Santri, Jilbab Putih, Tahun 2000, yang digarap oleh 12 personil muda Ezura (nama generasi kedua Nasida Ria). Selain memiliki keterampilan bermain biola, kendang, piano, dan seruling, hampir semua personil Ezura adalah juga vokalis dengan talenta ketilawahan quranik yang mengagumkan. Tak mudah membayangkan remaja-remaja muslimah yang tekun dan telaten mengasah kemampuan bermusik dengan latihan-latihan intens setiap hari, dalam keriuhan konten-konten prank unfaedah yang berseliweran di linimasa, tapi Nasida Ria berupaya keras menjalaninya. Hingga catatan ini ditulis, karya-karya Nasida Ria dan Ezura bukan sepi peminat. Engagement kanal Nasida Ria Management yang telah menunjukkan angka subscriber di atas 400 ribu. Itu belum termasuk interaksi (like, share, comment) diperoleh personil Ezura di akun Instagram masing-masing.

Engagement dari konten-konten yang dikelola secara konsisten oleh anak-anak muda generasi baru Nasida Ria bahkan hampir menyamai engagement kanal-kanal YouTube mubalig idola di mana konten-kontennya lebih kerap memicu perdebatan panjang ketimbang berimplikasi etis terhadap moralitas keseharian umat. Alih-alih berdampak pada perubahan perilaku keseharian umat, konten-konten dakwah mimbar (yang sering disampaikan dengan tekanan suara yang berteriak-teriak) justru lebih berguna untuk membesarkan nama mubalignya ketimbang membentuk akhlak para pemirsanya.

Sementara itu, audio lagu Wajah Ayu untuk Siapa karya Nasida Ria yang disuarakan kembali oleh vokalis muda muslimah Ezura terdengar lebih menyejukkan. Sementara covering lagu-lagu seperti Perdamaian dan Kota Santri dari kreativitas artistik berselera muda dapat menghela para pendengar ke dalam suasana ketika mereka berada di keramaian pergaulan remaja masjid dalam kepanitiaan rupa-rupa perayaan hari besar Islam, atau suasana senja dalam keriangan menyambut waktu berbuka puasa. Manakala sejumlah kawan seiring sedang menempelkan rugos di atas karton guna membuat poster besar musabaqah di mihrab masjid mereka, atau sekadar mendekor tata ruang panggung dengan kemampuan seadanya, toa masjid tak henti-henti memancarluaskan karya-karya Nasida Ria.

Bagi sebagian orang, genre kasidah mungkin sudah udik, dan barangkali tinggal menunggu waktu punah belaka. Tapi bagi fans setia, ratusan karya Nasida Ria telah membendakan ingatan tentang suatu masa penuh keriangan yang tak bakal tergantikan. Setiap kali Kota Santri diudarakan via platform berbagi audio, musikalitasnya bagai menghela ingatan pada kawan-kawan muda sesama anak masjid, yang kini entah di mana keberadaan mereka. Karya-karya Nasida Ria bagai mengunci sebuah kenangan istimewa, hingga terlalu mustahil untuk dimusnahkan. Atas jasa kekaryaan yang tak lekang dihantam zaman, maka bagi saya, Nasida Ria layak ternobat sebagai Legend…

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top