Sedang Membaca
Mengenal Teologi Negatif Ibn ‘Arabi (1)
Penulis Kolom

Mahasiswa al-Azhar sedang menempuh S1 jurusan Tafsir.

Mengenal Teologi Negatif Ibn ‘Arabi (1)

Wacana tentang “Tuhan” selalu menjadi hal yang paling segar bagi para pengkajinya yang meregenerasi dari satu masa ke masa yang lain. Terlebih bagi sebagian mereka yang menggandrungi sosok paling berpengaruh di sepuluh abad terakhir ini, yang konon katanya pemikirannya membentang sampai ke ruang-ruang ideologis; Sunni dan Syi’ah. Sampai segitu berpengaruhnya, hanya ia yang bisa menandingi dominasi pemikiran Ghozali. Sayangnya, Ghozali hanya bisa mempengaruhi Sunni. (Mohammad Fayyad: 2012).

Di sisi lain, bagi para pembacanya, Ibn ‘Arabi dianggap sebagai sosok yang diam-diam menelurkan ide-idenya tentang ketuhanan yang penuh corak Negasi dan Negatifitas. Dalam banyak karyanya, setelah ditelaah oleh Michael A.sells, Ibn ‘Arabi sejajar dengan Meister Ekhart-seorang teolog Katolik abad pertengahan- atau bagi Ian Almond, Ibn ‘Arabi sejajar dengan Jacques Derrida -seorang filsuf kontemporer-. Yang mereka semua mencenderungi hal yang sama, yaitu “Teologi Negatif”. Karenanya, Ibn ‘Arabi ditawarkan sebagai sosok yang mempunyai pengaruh besar terhadap kurun setelahnya sehingga nantinya teologi negatif akan identik dengan buah pikirnya selama ini.

Pengidentikan ini, tidaklah muncul dari ruang hampa, namun bagi para pembacanya, mereka pasti cepat menangkap, bahwa setidaknya ada beberapa alasan yang melatari ini semua, di antaranya adalah alasan personal, seperti jamak diketahui bahwa Ibn ‘Arabi dalam perjalan menemukan rasa kehambaanya terhadap Tuhan, ia tempuh dengan jalan yang begitu terjal, tidak linear, berliku bahkan terkesan sulit untuk mengenali Tuhan yang berujung memilih “Diam”. Momen-momen negatif inilah yang diambil oleh pembacanya sebagai langkah awal menuju teologi negatif yang paling dini dan orisinil (Mohammad Fayyad: 2012, hal 155).

Mendefinisikan Teologi

Sub-bab ini, menjadi penting ketika hendak mengetahui teologi dalam bentuk an sich– nya, untuk melewati itu kiranya tawaran yang lebih tepat adalah membagi teologi menjadi dua macam.

Baca juga:  Bahasa dan Teknologi Zaman Khalifah al-Ma'mun

Pertama, teologi sebagai rumusan sistem keyakinan yang mana sifatnya historis dan kontekstual. Historis karena kemunculanya terjadi di ruang kesejarahan tertentu seperti peristiwa Tahkim dalam islam, yang memunculkan dikursus kalam setelahnya. Atau kontekstual karena disituasikan oleh kejadian tertentu yang sifatnya historis.

Maka darinya, teologi sebagai rumusan keyakinan dipahami sebagai seperangkat doktrin yang diyakini dalam satu agama dan dijalankan secara penuh sadar oleh pemeluknya.

Sedangkan dalam bentuk keduanya, teologi sebagai kajian adalah sebuah diskursus filosofis tentang konsep ketuhanan. Ini barangkat dari anggapan bahwa teologi tidak ubahnya sekumpulan wacana yang dikembangkan dari study, telaah, dan konsep-konsep pendekatan tentang Tuhan.

Namun agaknya dari kedua model tadi, model pertamalah yang paling sering ditemukan dalam berbagai kesempatan -meskipun diakui kurang kritis dalam memaknai teologi-. Untuk itu, teologi harus dibawa ke ranah teologi sebagai sebuah kajian, artinya,memahami teologi dari pendekatan telaah dan nalar kritis.

Maka langkah pertama adalah mempertanyakan pertanyaan paling mendasar “apakah teologi itu sendiri?, jika ditinjau dari esensinya dan apa yang intrinsik di dalam dirinya”?. Tentu, pertanyaan-pertanyaan tentang “sesuatu itu sendiri” atau “sesuatu itu secara as such” menyiratkan bahwa ada subtansi-subtansi yang radikal atas problem pertanyaan itu, maka apa subtansi-subtansi itu yang bisa diambil dari teologi itu sendiri?.

Pertama, teologi berbicara tentang “Tuhan”. Meskipun teologi secara an sich tidak berbicara tentang tuhan -karena bisa saja teologi berbicara tentang iman, dosa, kenabian serta surga dan neraka- namun pada kenyataan yang lebih mendalam, “Tuhan” adalah inti dari semua pembicaraan itu, dan konteks teologi selalu berarti konteks ketuhanan.

Baca juga:  Sejarah Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa

Kedua, karena begitu fundamentalnya pembicaraan tentang tuhan dalam ranah teologi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek “Tuhan” adalah eidos, subtansi dan idea, yang memungkinkan teologi ada sebagai sebuah wacana. Maka kemudian jika “Tuhan” adalah subjek dari teologi, karena dia merupakan Alpha dan Omegha -awal dan akhir- di samping juga menjadi bahan refleksi teologis paling fundamental, dari sini kiranya dapat ditemukan subtansi yang kedua yaitu pengetahuan dan wacana, ketika menjadi medium bagi manusia untuk menelaah tuhan, mengingat satu-satunya area yang memungkinkan bagi teologi untuk membahas tuhan secara rinci adalah disiplin kelimuan itu sendiri.

Ketiga, di atas semua itu, dari aspeknya yang  paling murni, bahwa toelogi adalah Transendentalitas Objeknya,  meninjau tuhan bukanlah hal sembarangan untuk ditelaah. karena tuhan maha ghaib, maka membicarakanya, sama saja berbicara tentang apa yang di luar jangkauan manusia, yang misteri disaat yang sama dialah yang maha tampak. Agaknya dari sisi subtansi yang ketiga ini, teologi menemukan polanya yang sama dengan filsafat, itu jika dipandang dari segi sama-sama membicarakan yang-Transenden. Namun bagi teologi, tujuan utamanya adalah mencapai puncak keimanan, sedangkan filsafat, tujuan utamanya adalah mencapai pengetahuan itu sendiri (Mohammad Fayyad: 2012, hal 69).

Dari itu semua tadi, ditarik kesimpulan yang mengerucut pada satu devinisi sederhana dan cukup ketat -karena dihasilkan dari aspek-aspek filosofis- bahwa teologi adalah “wacana tentang Tuhan sebagai yang-Transenden”.

Teologi negatif dalam kesejarahan

Dalam bukunya itu, Mohammad fayyad “teologi negatif”, menuliskan bahwa, embrio teologi negatif sudah ada sejak zaman Nabi-nabi. Bahkan di setiap nabi yang membawa agama wahyu baru -walaupun secara tersirat- selalu mempunyai corak yang sama dengan teologi negatif. Jalan yang mereka tempuh tidaklah mudah, seringkali menemukan kejanggalan-kejanggalan dan momen-momen negatif lainya, namun mereka tetap gigih, sehingga pada akhirnya mereka ditemukan dengan Dzat yang Maha Agung.

Baca juga:  Kebahagiaan Sang Eco-Fascism di Tengah Pandemi Covid-19

Seperti kisah Ibrahim -yang termaktub di al Quran- dalam pencarianya terhadap Tuhan, pada awalnya ia melihat bintang dan seterusnya-seterusnya. Namun, yang ia temukan hanyalah kejanggalan-kejanggalan, dalam benaknya, ia selalu tidak bisa menerima apa yang baru saja ia temukan sebagai “Tuhan”.

Sedangkan dalam kitab perjanjian lama diceritakan ia bisa bertemu dengan Tuhan secara vis a vis namun realitas Tuhan itu sendiri tidak bisa ditangkap oleh mata Ibrahim, sehingga ia hanya bisa bersujud tatkala di depan Dzat yang Maha Agung.

Dalam kisah Ibrahim yang menyejarah itu -baik yang termaktub di al Quran ataupun di perjanjian lama- setidaknya menyiratkan dua gagasan penting dalam kaitanya dengan teologi negatif.

Pertama, bahwa ketidaktahuan tentang Tuhan merupakan dasar keimanan sejati. Karenanya, Ibrahim mencari-cari Tuhan bukan dengan bekal pengetahuan tentang Tuhan, namun “ketidaktahuanya” itulah yang menghantarkan Ibrahim bertemu dengan Tuhanya.

Kedua, Tuhan adalah realitas yang “ghaib” dari pandangan mata, yang berarti Tuhan adalah realitas yang negatif untuk dipersepsikan, sehingga beriman kepadanya berarti beriman dalam “kebutaan” tentangnya (Mohammad Fayyad: 2012, hal 103).

Maka menilik dari akar kesejarahan, teologi negatif pada dasarnya sudah ada sejak dalam kandungan -mengingat Ibrahim sebagai bapak triagama-, artinya sudah sejak dahulu kala wacana ini berkelindan di belantara dunia yang religius. Memunculkanya kembali adalah sebuah upaya afirmasi pentingnya melestarikan teologi negatif ini, karena barang tentu wacana ini telah memperkaya dinamika khazanah keislaman.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top