Setiap yang bernapas pasti akan mati. Bagi manusia, aksioma ini bukan sekadar kalimat klise, melainkan kepastian metafisika yang menjadi muara perjalanan jiwa. Namun, memasuki abad ke-21, kepastian purba ini mulai digugat. Di bawah kendali teknologi, kematian sedang didefinisikan ulang: bukan lagi sebagai perpisahan absolut, melainkan dianggap sebagai "masalah teknis" yang menanti solusi rekayasa.
Secara saintifik, tubuh kita adalah budak dari hukum termodinamika, khususnya fenomena peningkatan entropi. Hukum ini menyatakan bahwa dalam sebuah sistem, kekacauan (entropi) akan selalu meningkat seiring waktu. Alam semesta bergerak dari keteraturan menuju keruntuhan, begitu pula tubuh manusia. Penuaan, dalam catatan biologi molekuler, hanyalah akumulasi kerusakan DNA yang melampaui batas perbaikan seluler. Kita adalah sistem ber-entropi rendah yang butuh asupan energi—makan dan oksigen—hanya untuk sekadar menunda kekacauan. Kematian terjadi saat aliran energi itu terhenti dan sistem biologis yang rapi meluruh kembali menjadi materi acak di alam semesta.
Namun, pandangan mekanistik ini justru memicu ambisi intervensi yang luar biasa. Para saintis mulai memandang kematian bukan sebagai takdir, melainkan kegagalan manajemen entropi. Di sinilah gerakan transhumanisme lahir dengan klaim radikal: kematian adalah "penyakit" yang bisa disembuhkan.
Berbagai upaya bio-engineering dikerahkan. Dari penggunaan nanoteknologi untuk menyunting genetik demi menghentikan penuaan, penerapan cybernetic untuk mengganti organ organik yang rapuh dengan mesin hibrida, hingga digital immortality—sebuah upaya ambisius mind uploading untuk mengunggah kesadaran ke dalam server agar pikiran tetap hidup meski jasad telah musnah.
Kematian kini bergeser dari ranah biologis ke ranah fungsional. Melalui Grief-Tech, jejak digital kita—suara, video, dan pesan teks—diolah AI untuk menciptakan "avatar" yang mampu berinteraksi pasca-wafat. Jasad dianggap sebagai hardware usang, sementara kesadaran dipindahkan ke jaringan digital. Namun, muncul sebuah paradoks filosofis: apakah seseorang benar-benar hidup jika algoritma pribadinya hanya menjawab pertanyaan melalui layar?
Ambisi ini meluas hingga ke kosmos. Proyek kolonisasi angkasa, seperti SpaceX milik Elon Musk, bisa dibaca sebagai manifestasi hasrat untuk memperpanjang napas peradaban di tengah ketakutan akan kiamat ekologis di bumi. Seolah-olah, saat bumi terasa kian sesak dan rapuh, melarikan diri ke planet lain menjadi keharusan eksistensial. Jika agama menjanjikan surga di dimensi ruhani, sains mencoba membangun surga fisik di atas debu planet lain.
Di tengah hiruk-pikuk pengejaran keabadian materi tersebut, praktik puasa hadir menawarkan arus balik yang tenang. Jika sains berupaya menumpuk waktu dan konsumsi, puasa justru mengajak manusia untuk berhenti dan merangkul keterbatasan melalui pengosongan. Puasa adalah "latihan kematian sebelum mati".
Dalam tradisi sufi, puasa melatih kita melepaskan ketergantungan pada materi untuk menyiapkan jiwa menuju dimensi yang tak lagi membutuhkan raga. Martin Heidegger pernah berujar bahwa kesadaran akan kematianlah yang membuat hidup menjadi bermakna. Tanpa batas waktu, setiap tindakan manusia kehilangan bobot urgensinya. Sebelum menaklukkan galaksi atau menunda maut dengan algoritma, puasa mengingatkan kita untuk lebih dulu menaklukkan ego di dalam diri.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menegaskan bahwa hakikat manusia bukan terletak pada jasad (hardware) atau pikiran rasional (software) semata, melainkan pada lathifah—entitas halus ketuhanan yang bersifat abadi. Baginya, kematian bukanlah akhir sistem, melainkan "perpindahan keadaan". Keabadian yang dikejar para saintis seringkali hanyalah "keabadian penjara materi", sedangkan bagi para sufi, keabadian sejati adalah kembalinya ruh ke sumber asalnya dalam keadaan tenang (muthmainnah).
Sains mungkin bisa memperpanjang usia biologis, namun ia tak mampu menjamin ketenangan batin. Sejauh apa pun kita pergi ke galaksi lain, hukum fisika tetap sama: bintang akan redup dan materi akan menua. Jika manusia hidup abadi di dunia atau di dalam server, maka konsep pengorbanan, kerinduan, dan perjuangan akan kehilangan maknanya. Hidup akan menjadi narasi tanpa konklusi yang berujung pada kehampaan psikologis.
Pada akhirnya, teknologi modern mungkin mengajarkan kita cara melawan kematian dengan penuh kecemasan, namun spiritualitas melalui puasa mengajarkan kita cara menerima kematian dengan damai (husnul khatimah). Dunia sains memberi kita alat untuk bertahan hidup lebih lama, tetapi puasa memberi kita alasan mengapa hidup itu layak dijalani. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam pelarian menuju Mars, melainkan dalam kemampuan manusia mengendalikan nafsunya yang serakah di bumi.[]