Sedang Membaca
Mengkaji Akidah dalam Kitab Jami’ Jawami’ al-Musnafat Karya Ismail ibn ‘Abd al-Muthallib al-Asyi Aceh  
Avatar
Penulis Kolom

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah. Pegiat literasi di Komunitas Lorong.

Mengkaji Akidah dalam Kitab Jami’ Jawami’ al-Musnafat Karya Ismail ibn ‘Abd al-Muthallib al-Asyi Aceh  

Kitab

Nusantara sebagai peradaban yang agung menyimpan banyak peninggalan yang berharga untuk perkembangan kebudayaan kepercayaan – agama, hari ini. Sebagai wilayah yang mempunyai keistiwaan jalur perdagangan kuno internasional dan menjadi jalur interaksi kebudayaan lintas peradaban, Nusantara terkhusus Melayu tak heran melahirkan suatu tipologi produk kebudayaan kepercayaan yang khas, salah satunya adalah kitab klasik.

Berbeda dengan common sense kitab klasik peradaban Islam pada umumnya yang bertopang pada bahasa dan aksara Arab, Nusantara memilih berkembang dengan wajah unik yang berbeda dengan induknya. Peradaban Nusantara dengan metode akulturasi kebudayaannya menciptakan suatu sintesa yang khas, yakni menggunakan bahasa dan aksara lokal yang dikenal dengan istilah Jawi. Yakni suatu istilah penyematan yang diperuntukkan untuk penggunaan bahasa Melayu dengan penulisan aksara Arab. Hal ini bisa dilihat di banyak produk-produk peradaban Nusantara terlebih yang bersinggungan dengan Islam, salah satunya adalah kitab klasik Jami’ Jawami’ al-Musnafat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kitab Masterpiece dari Aceh

Kitab klasik Jami’ Jawami’ al-Musnafat merupakan salah satu dari sekian banyak produk peradaban Nusantara yang hari ini masih bisa ditemui keberadaannya. Kitab klasik yang dikenal masyarakat Aceh dengan sebutan Kitab Lapan – karena berisi menghimpun 8 kitab di dalamnya – ini menjadi produk peradaban yang masterpiece karena sampai sekarang kitab klasik ini masih menjadi banyak rujukan dalam setiap pengajaran atau pendidikan klasik Islam terutama di daerah Aceh. Bahkan sudah banyak proyek penerjemahan dan pencetakan ulang sebagai usaha melestarikan ajaran yang dikandungnya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (85): Adab Salik terhadap Mursyid Tarekat Rifa'iyah

Kitab ini adalah hasil karya dari Ismail ibn ‘Abd al-Muthallib al-Asyi yang berisi kumpulan dari 8 kitab yang terhimpun di dalamnya, yakni Hidayat al-‘Awam, Faraidh al-Quran, Kasyf al-Kiram fi Bayan al-Niyat fi Takbirat al-Ihram, Talkhis al-Falah fi Bayan Ahkan al-Thalaq wa al-Nikah, Syifa’ al-Qulub, al-Mawa’iz al-Badi’ah, Dawa’ al-Qulub min al-‘Uyub, dan I’lam al Muttaqin min Irsyad al-Muridin. Dengan himpunan beberapa kitab yang beragam dan pengarang yang beragam pula, kitab Jami’ Jawami’ al-Musnafat mengandung ajaran agama Islam dengan sangat kompleks, mulai dari aqidah, fiqih, sampai ushuluddin-tasawuf.

Perkembangaan teknologi masa kini membuat keberadaan kitab klasik ini dengan sangat mudah ditemui dan diakses oleh masyarakat luas. Salah satu perpustakaan besar internasional yang menyimpan masterpiece peradaban Nusantara ini adalah Biritish Library, bahkan di kanal daring British Library menyediakan layanan untuk melihat koleksi – salah satunya adalah Jami’ Jawami’ al-Musnafat – secara digital.

Pedoman Aqidah dalam 15 Rukun

Salah satu kitab paling dikenal dalam Jami’ Jawami’ al-Musnafat adalah kitab Hidayat al-‘Awam. Kitab ini merupakan bagian pembuka di antara 8 kitab yang terhimpun. Dikarang oleh Jalaluddin ibn Kamaluddin pada medio waktu 1727 M/1140 H berisi mengenai ulasan komperhensif ajaran agama Islam di bidang aqidah dan fiqih. Secara luas, kitab ini mengulas lengkap mengenai rukun-rukun berjumlah 15 yang terkandung dalam ajaran agama Islam.

Baca juga:  Nabi Muhammad Melindungi dan Melestarikan Lingkungan

Jalaluddin ibn Kamaluddin dalam Hidayat al-‘Awam-nya menjelaskan bahwa setiap individu yang mengaku beragama Islam, syara’ hukumnya mengenal 15 rukun yang mengantarkan ke jalan ma’rifat kepada Allah swt. 15 rukun tersebut terdiri dari 5 rukun Islam, 6 rukun iman, dan 4 rukun syahadah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rukun Islam yang dijabarkan dalam Hidayat al-‘Awam diyakini sebagai pedoman Aqidah yang mutlak harus dilaksanakan. Kelima rukun tersebut di antaranya adalah mengucap dua kalimah syahadat dengan lidah dan membenarkan maknanya dalam hati, mendirikan salat lima waktu, memberi zakat harta jika telah sampai nisabnya, puasa di bulan Ramadan, dan naik haji ke Mekah jika mampu menjalankannya. Hidayat al-‘Awam juga menjabarkan bahwa persoalan iman juga penting sebagai fondasi keyakinan tentang kebenaran ajaran agama Islam. Keenam rukum iman yang tertulis dalam risalah kitab klasik ini di antaranya beriman kepada Allah swt, percaya kepada malaikat-Nya, percaya pada semua kitab-Nya, percaya kepada Rasul-Nya, percaya pada hari akhir, dan percaya pada nasib baik dan buruk dari-Nya.

Adapun 4 rukun sisa yang diistilahkan dengan rukun syahadah adalah mengitsbatkan zat-Nya, mengitsbatkan sifat-Nya, mengitsbatkan af’al-Nya, dan mengitsbatkan kebenaran Rasuluallah saw. Dalam konteks kitab ini, mengitsbatkan diartikan sebagai menyungguhkan akan kebenaran mengenai sesuatu. Artinya, pengakuan akan kebenaran mengenai keberadaan Allah beserta zat, sifat, dan af’al (perbuatan) yang menyertai keagungan-Nya, serta kebenaran Rasuluallah sebagai penyampai risalah kebenaran-Nya.

Baca juga:  Bahasa Inggris dalam Menerjemahkan Al-Qur'an

Kelima belas rukun yang tertuang dalam risalah kitab klasik ini bersumber dari empat pokok yang menjadi pilar aqidah/teologi agama, yakni Islam, iman, tauhid, dan ma’rifah. Sehingga di penjelasan yang tertuang juga dijelaskan bahwasaanya tidak dinamakan seorang mukmim, muslim, muwahidin, dan arif bila ada salah satu pilar yang tidak diyakininya.

Selain memberikan pengetahuan mengenai kelima belas rukun yang menjadi pedoman aqidah bagi agama Islam, Hidayat al-‘Awam menjelaskan secara lengkap mengenai turunan aqidah dan syariat yang terkandung dalam ajaran agama Islam. Hal ini menandakan bahwa kitab klasik Jami’ Jawami’ al-Musnafat secara umum menyimpan segudang pengetahuan agama Islam yang sangat dalam serta menandakan bahwa peradaban Nusantara telah memberikan sumbangsih yang sangat besar akan perkembangan peradaban Islam yang sampai hari ini mampu digali sari pati manfaatnya.

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top