Sedang Membaca
Tafsir Surah Al-Falaq dan Khasiat Membacanya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Tafsir Surah Al-Falaq dan Khasiat Membacanya

Rizal Mubit

Surah Al-Falaq dan surah sesudahnya (surah An Naas) diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah yang penulis sampaikan dalam tulisan sebelumnya. Kedua surah ini kemudian dikenal dengan al-Muawwizatain (dua pelindung diri).

Surat al-Falaq diturunkan setelah diturunkannya surah al-Fiil. Jika dilihat dalam urutan mushaf, ia berada pada surat yang ke-113 dalam Alquran. Sebagaimana surah an-Naas, surah al-Falaq juga termasuk surah Makiyyah, diturunkan di Mekkah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Al-Falaq berasal dari kata “falaqa” yang berarti membelah. Secara umum “al-Falaq” bermakna segala sesuatu yang muncul atau keluar dari yang lainnya. Seperti mata air yang keluar dari gunung, hujan dari awan, tumbuhan dari tanah, anak dari rahim ibunya. Ini semua dinamakan “Al Falaq”. Lebih khusus “al-Falaq” dalam surah ini bermakna Al-Ishbah (pagi atau shubuh) karena Allah membelah malam menjadi pagi.

Terjemah ringkas Surah Al-Falaq adalah sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Pada ayat yang pertama, “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” merupakan perintah Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan kepada-Nya sebagaimana pada awal surah al-Falaq dan an-Naas (yang telah dibahas sebelumnya). Dalam hal ini, perintah untuk Rasulullah berarti juga perintah untuk umatnya karena umatnya memiliki kewajiban untuk meneladani beliau.

“Dari kejahatan makhluk-Nya.” Ayat ini mencakup seluruh yang Allah ciptakan baik manusia, jin, hewan, benda-benda mati yang dapat menimbulkan bahaya dan dari kejelekan seluruh makhluk. Menurut Prof. Quraish Shihab, Kata (شَرّ) syarr pada mulanya berarti “buruk” dan atau “madarat”. Ia adalah lawan dari (خَيْر) khair, yang berarti “baik”.

Baca juga:  Memadukan Alquran dan Kitab Kuning

Ibnul Qayyim dalam tafsirnya mengemukakan bahwa “asy-syarr” mencakup dua hal, yaitu sakit (pedih) dan yang mengantar kepada sakit (pedih) seperti penyakit, kebakaran, tenggelam adalah sakit (pedih). Sedang kekufuran, maksiat, dan sebagainya mengantar kepada sakit atau kepedihan siksa Ilahi. Nah, kedua hal itulah yang dinamai “syarr”.

Yang perlu digarisbawahi, ayat ini juga mencakup meminta perlindungan pada diri sendiri. Sebab, nafsu selalu memerintahkan untuk berbuat keburukan. Sehingga setiap kali seseorang mengucapkan ayat ini, hendaknya kejahatan makhluk Allah yang pertama kali diingat adalah dirinya sendiri.

Jadi dia berlindung dari kejelekan dirinya sendiri, yang mungkin sering ujub (berbangga diri, narsis), iri, sombong, riya, atau yang lainnya. Dengan demikian orang bisa melakuan interospeksi dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Kata (غَاسِق) “ghasiq” biasa diartikan malam. Ia terambil dari kata (غَسَقَ) “ghasaqa” yang pada mulanya berarti penuh. Malam dinamai “ghasiq” karena kegelapannya memenuhi angkasa. Begitu pula air yang sangat panas dan dingin, yang panas dan dinginnya terasa menyengat seluruh badan. Nanah juga dinamai “ghasiq” karena ia memenuhi lokasi luka.

Sedangkan “idza waqab” bermakna apabila masuk. Kata (وَقَبَ) waqaba terambil dari kata (الْوَقْب) al-waqb, yaitu lubang yang terdapat pada batu sehingga air masuk ke dalam lubang itu. Dari sini kata tersebut diartikan masuk. Jika anda berkata: waqabat-usy-syams, ia bermakna matahari telah masuk atau terbenam. Dengan demikian, makna ayat di atas malam yang telah masuk ke dalam kegelapan sehingga dia menjadi sangat kelam. Secara keseluruhan, ayat ketiga ini memohon perlindungan Allah dari kejahatan yang terjadi pada malam yang gelap.

Memang, biasanya malam menakutkan karena sering kali kejahatan dirancang dan terjadi di celah kegelapannya, baik dari para pencuri, perampok, atau pembunuh, maupun dari binatang buas, berbisa, atau serangga. Anda dapat memperluas makna malam sehingga mencakup juga kerahasiaan.

Baca juga:  Memedomani Alquran dan Mencontoh Siti Aminah Perihal ASI

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.”

Dalam ayat ini disebut dengan النفاثات yaitu tukang sihir wanita. Karena umumnya yang menjadi tukang sihir adalah wanita. Namun ayat ini juga dapat mencakup tukang sihir laki-laki dan wanita, jika yang dimaksudkan adalah sifat dari nufus (jiwa atau ruh).

Menurut Abduh, النفاثات adalah mereka yang seringkali membawa berita bohong untuk memutuskan hubungan persahabatan dan kasih sayang antara sesama.

Redaksi tersebut menurutnya dipilih Alquran karena Allah Swt bermaksud mempersamakan mereka dengan penyihir yang apabila ingin memutuskan ikatan kasih sayang antara suami istri, mereka mengelabuhi masyarakat awam dengan jalan mengikat satu ikatan kemudian meniup-meniup lalu melepaskan ikatan itu, sebagai tanda terlepasnya ikatan kasih sayang yang terjalin antara suami istri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Memang, tulis Muhammad Abduh lebih lanjut, membawa berita bohong untuk memutuskan hubungan baik, mirip dengan sihir karena yang demikian itu menjadikan kasih sayang yang tadinya terjalin berubah menjadi permusuhan, melalui cara licik dan tersembunyi. Sehingga dalam konteks sekarang, an-Nafaasyaat tidak hanya berlaku pada tukang sihir akan tetapi juga penyebar hoaks dan fitnah yang ingin memecah belah kerukunan suatu bangsa.

“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki,” Allah menutup surah ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Kata “hasad” digunakan juga dalam arti keinginan memperoleh nikmat serupa dengan yang dimiliki orang lain, tanpa mengharap hilangya nikmat yang diperoleh orang lain itu, ini juga dinamai ghibthah.

Apabila dibaca secara istikamah, surah al-Falaq yang dibaca bersamaan dengan surah an-Naas bisa menghindarkan seseorang dari segala macam jenis macam sihir yang dilakukan oleh orang yang jahat. Jika dibacakan sebelum tidur maka akan terhindar dari segala macam godaan setan, baik yang berasal dari golongan manusia maupun jin.

Baca juga:  Agama Kata-Kata

Di dalam Tafsir Al-Ibriz disebutkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad pernah disihir orang, sihirnya sangat ampuh sekali. Lalu beliau diperintahkan untuk membaca ta’awudz, dan juga ta’awudz yang disebut ada di surat an-Naas.

Baca juga:

Surah al-Falaq dan an-Naas juga bisa dijadikan untuk ikhtiar memohon kepada Allah agar diberi kesembuhan dari segala penyakit. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A disebutkan:

“Kanjeng Nabi Muhammad apabila sakit, beliau membacakan untuk dirinya sendiri al-muawwizatain dan meniupkan pada tubuhnya. Namun karena sakit tersebut payah sehingga menyulitkan diri beliau, maka aku (Aisyah) yang membacakannya untuk Rasulullah dan kuusapkan ke badan Beliau berharap keberkahan surah tersebut.”

Disebabkan keutamannya, Kanjeng Nabi Muhammad menganjurkan para sahabat untuk membaca al-Falaq setelah salat. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah pernah menyuruhnya untuk membaca al-mu’awwizatain di setiap penghujung saalat. Oleh karena inilah kiai dan santri membaca surah an-Naas, al-Falaq dan al-Ikhlas setiap selesai salat, menjadi salah satu rangkaian bacaan wirid wajib santri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Referensi:

  1. Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab
  2. Tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa
  3. Tafsir Al-Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi
  4. Al Jaami’ li ahkamil Qur’an karya Imam al-Qurtubhy
  5. Tafsir Al-Manaar Karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha
  6. Tafsir Mu’awwadhatain karya Ibnul Qayyim
  7. Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top