Sedang Membaca
Ulama Banjar (163): KH. Nur Salim Safran, Lc.
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (163): KH. Nur Salim Safran, Lc.

Kh. Nur Salim Safran, Lc.

(L. 1 Juli 1952– W. 2001)

Desa Penyiuran memang terkenal sebagai kampungnya para ulama, dari desa tersebut banyak ulama-ulama besar yang lahir dan tinggal di sana. Seperti halnya dengan KH. Nur Salim Safran, Lc, kiai kelahiran 1 Juli 1952 ini adalah guru agama yang disegani dan aktif membina Ponpes Rakha Amuntai.

Ustadz Salim lahir dari keluarga sederhana yang taat beribadah. Dasar-dasar keislaman sudah ditanamkan oleh kedua orang tuannya sejak ia kecil. Setamatnya dari Sekolah Dasar Negeri, ia dimasukkan ke Madrasah Ibtidaiyah Sullamunnajah. Kemudian ia masuk ke PGAP 4 Tahun di Telaga Silaba, lalu melanjutkan lagi ke PGAN Rasyidiyah Khalidiyah di Amuntai. Untuk terus memperdalam ilmuya Ustadz Salim meneruskan pendidikannya di Perguruan Tinggi.

Buku Kiai Said

Ustadz Salim berhasil mendapat gelar sarjana muda di Fakultas Ushuludin IAIN Antasari Amuntai. Dengan menyandang gelar sarjana muda ia mengabdikan diri di Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Karena pengabdian dan jasanya itulah, maka ia mendapat beasiswa dari Pondok Pesantren Rasyidiyah khalidiyah Amuntai untuk melanjutkan studinya ke Universitas Ummul Qura di Saudi Arabia. Setelah menyelesaikan studinya di Mekkah, ia kembali ke Amuntai dengan memboyong gelar Lc.

Nur Salim yang akrab disapa Ustadz Salim ini mempunyai wibawa dan pengaruh di masyarakat hampir seluruh hidupnya ditumpahkannya untuk kepentingan pendidikan. Hidup dan mati hanya untuk Islam, itulah prinsip hidupnya. Tak sekedar memberikan ceramah ke kampung-kampung, tetapi ia lebih banyak mencurahkan perhatian dan waktunya untuk kemajuan pendidikan Islam di daerahnya. Ustadz Salim pernah mengajar pada PGAP 4 tahun di Telaga Silaba, dan Sekolah Persiapan IAIN Antasari di Amuntai. Di Madrasah Aliah Normal Islam Putera Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai ia mengajar mata pelajaran agama Islam. Beberapa tahun kemudian beliau dipercaya memegang jabatan Kepala Madrasah Aliah Normal Islam Putera Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai tersebut.

Baca juga:  Gus Baha dan Gus Wahid Berbeda Pandangan tentang Teori Istihsan Imam Syafi’i

Pengabdian Ustadz Salim tidak berhenti di situ saja, beliau juga mengajar beberapa mata kuliah di STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Di Perguruan Tinggi Islam ini beliau memegang jabatan sebagai Pembantu III Ketua STAI Rakha.

Dalam kesehariannya Ustadz Salim hidup penuh dengan kesederhanaan. Dia memiliki keikhlasan yang sangat tinggi dalam melaksanakan semua tugas dan amaliah. Tak sedikitpun terbesit dihatinya untuk mendapatkan imbalan dari apa yang telah dia berikan untuk masyarakat, beliau menjalaninya hanya semata-mata untuk ibadah kepada Allah dan hanya Pengurus Yayasan Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai ini sangat kuat memegang prinsip hidup, tabah dan sabar dalam menghadapi penderitaan demi mencapai keridhaan Allah SWT.

KH. Nur Salim sering mengunjungi Negara-negara ASEAN dalam rangka misi da’wah seperti Malaysia, Thailand dan Bangladesh. Beliau meninggal dalam perjalanan sebelum berangkat ke luar negeri, yaitu di Temboro, Jawa Timur pada tanggal 1 Mei 2001. Beliau meninggalkan seorang isteri bernama Hj. Noor Sa’adah dan empat orang anak, mereka adalah H. Abd. Baqi, Muhammad Kamil, Faizah dan Aisyah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top