Sedang Membaca
Menggali Keteladanan KH. Ma’ruf Irsyad
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menggali Keteladanan KH. Ma’ruf Irsyad

Whatsapp Image 2020 04 07 At 16.19.21

KUDUS, – Sejumlah tokoh lintas organisasi dan lintas generasi, didaulat menjadi narasumber ‘’Webiner: Menggali Mata Air Keteladanan KH. Muhammad Ma’ruf Irsyad’’ pada Kamis, 9 April 2020 M yang bertepatan dengan 16 Sya’ban 1441 H mulai pukul 19.30 WIB.

Para tokoh itu adalah KH. Ali Fikri (pengasuh PPRM), KH. Abdul Muhayya (UIN Walisongo), Fathul Wahid (Rekto UII Yogyakarta), Nur Said (Ketua IKSAB TBS/ Ketua Lakpesdam NU Kudus), Ihsan (Ketua IKAQ/ IAIN Kudus), Mahfud Kasmu (PC LPPNU Pati).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain itu, ada Nyai Ala’i Najib (Lakpesdam PBNU/ UIN Jakarta/ Himmahku), Abdul Jalil (Pasca Sarjana IAIN Kudus), Fathur Rohman (Unisnu Jepara), Eni MIsdayani (Ketua Himmahku), dan Siti Nafisatun (Ketua Forsikabanu). Diskusi daring ini akan dipandu Abdulloh Hamid (RMI PBNU/ UIN Sunan Ampel) dan Faishol Firdaus (PCINU Tiongkok) sebagai notulis.

Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Kudus, Nur Said, mengutarakan, forum Webinar digelar menyemarakkan Haul ke-10 KH. Muhammad Ma’ruf Irsyad,pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM) Kudus. Acara ini diinisiasi oleh Lakpesdam NU Kabupaten Kudus bekerja sama dengan Ikatan Siswa Abiturien (IKSAB) TBS Kudus untuk menggali keteladanan sang kiai.

‘’Penyelenggaraan Webinar ini antara lain didukung oleh keluarga Ndalem PPRM dan sejumlah alumni PPRM, Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ), Himpunan Mutakharrijat Mu’allimat Kudus (HIMMAHKU), Alumni Madrasah Diniyyah Kudus, LTNNU dan Forum Silaturahmi Alumni Banat NU Kudus (FORSIKABANU), dan PCINU Tiongkok,’’ katanya.

Baca juga:  Kunjungan Grand Syekh Al Azhar ke Katedral St. Markus Alexandria

Dia mengemukakan, Di tengah kondisi dan siatuasi yang diliputi wabah Corona (Covid-19) serta suasana Work from Home (WfH) yang masih panjang, harus tetap sabar dan bersyukur, tidak mengeluh, apalagi panik.

‘’Kendati penuh nuansa prihatin, namun situasi ini juga memunculkan spirit kemanusiaan universal. Semua pihak bergandengan tangan merespons merebaknya virus tersebut, tanoa harus berdiam diri, melainkan tetap beraktivitas, melakukan inovasi, mengaji, mengkaji, dan juga meneladani jejak langkah masyayikh, para ulama,’’ ujarnya.

Dikatakannya, digelarnya forum Webinar ini, semangatnya tak lain ingin mengikuti pesan para kiai, bahwa dimana pun seorang santri, dengan profesi apapun, maka tetaplah dekat dengan para kiai (ulama) yang merupakan pewaris para Nabi.

‘’Mengenai narasumber dari berbagai kalangan dan latar keilmuan yang beragam, termasuk dari kaum perempuan, agar pegalaman berguru dengan kiai bisa direkonstrusi menjadi Islam aplikatif dan responsif gender. Suara dan pengalaman belajar perempuan kepada kiai, juga harus didengar,’’ ungkapnya.

(ros, rid, mail, gie/ luh, adb)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top