Sedang Membaca
Hagia Sophia: Bermula Gereja, Masjid, Museum, Kembali Jadi Masjid Lagi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hagia Sophia: Bermula Gereja, Masjid, Museum, Kembali Jadi Masjid Lagi

Amin Zeinali Tvrtndlsn8u Unsplash

Perdebatan terhadap fungsi Hagia Sophia yang kini menjadi masjid lagi menjadi polemik hangat di tengah hiruk-pikuknya penyebaran COVID-19 yang mengguncang dunia. Hagia Sophia atau dalam bahasa Turki Ayasofya adalah bangunan megah yang berada di Istanbul, Turki, lebih tepatnya berada di sisi barat Selat Bosporus –Tidak jauh dari situ, ada masjid Biru yang juga terkenal itu.

Pendiri pertama Hagia Sophia ialah Kaisar Bizantium, Justinian I pada tahun 360 M yang memerintahkan untuk pembangunan sebuah Gereja bagi umat Yunani Ortodoks pada tahun 537 M. Di masa berikutnya bangunan ini menjadi simbol kemenangan terhadap Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Mahmed II ketika melakukan penaklukan Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada tahun 1453, juga menjadi ikon budaya wisata Turki yang disebut dengan “Masjid Agung”.

Pada tahun 404 SM terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik politik dari keluarga Kaisar Arkaidos di Konstantinopel akibat pemerintahannya yang kacau pada tahun 395-408 SM dengan membakar bangunan Hagia Sophia. Setelah peristiwa tersebut, kembalilah Hagia Sophia dibangun ulang pada masa Arkaidos, Kaisar Theodosios II dan selesai pada tahun 415.

Satu abad kemudian bangunan ini dibakar kembali karena adanya pemberontakan Nika terhadap Kaisar Justinian I. Dalam hal ini, Justinian tidak dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi pada Hagia Sophia sehingga memerintahkan untuk dilakukan pembongkaran pada tahun 532 dengan menugaskan kepada Isidoros dan Anthemios untuk membangun gereja yang baru. Hingga tahun 537 M rampung dibangun.

Baca juga:  Kemesraan Tingkat Tinggi Nabi Muhammad pada Aisyah

Pada tahun 1453 Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mahmed II menguasai Konstantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul serta mengalih fungsikan bangunan ini menjadi masjid dengan penghapusan benda-benda dan simbol-simbol peninggalan kekaisaran Bizantium. Diketahui juga bahwa Sultan Mahmed II menjadi orang pertama yang salat Jumat di Hagia Sophia. Kemudian ditambahkan menara ke dalam struktur bangunannya.

Kekalahan Khalifah Utsmaniyah pada perang dunia 1 tahun 1918 menyebabkan perpecahan di antara wilayah-wilayah kekuasaannya yang kemudian dikuasi oleh negara-negara Sekutu. Namun, Presiden Turki pertama yaitu Mustafa Kamal Ataturk memerintahkan bahwa Hagia Sophia diubah menjadi museum. Hal lain yang melatarbelakangi Hagia Sophia dijadikan museum adalah adanya pernyataan UNESCO yang menyatakan bahwa Hagia Sophia adalah warisan dunia.

UNESCO mengatakan kepada Reuters bahwa Hagia Sophia termasuk dalam dastar Situs Warisan Dunia menjadikannya sebagai museum dan karena itu memiliki komirmen dan kewajiban hukum tertentu.

Semenetara itu, Erdogan menyuarakan perubahan fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Dia menyatakan itu dalam pemilunya. Apa artinya?

Jelas, Erdogan ingin mendapat dukungan dari Islamis. Tentu saja, kelompok sekuler menolaknya dengan keras. Kelompok sekuler menilai Erdogan melakukan politisasi belaka.

Tidak Cuma kelompok sekuler yang marah, namun juga kelompok Nashrani, baik dari kalangan Gereja Ortodoks Timur hingga Vatikan. Di Israel juga ada aksi menolak keputusan Turki tersebut dengan membakar bendera Turki. Sembilan warga Israel protes di depan kantor konsulat Turki di Yerusalem, Senin (13/7) waktu setempat.

Baca juga:  Pelajaran dari KeruntuhanAl-Muwahidun

Polemik makin kencang setelah Menteri Luar Negeri Turki, Levlut Cavusoglu bersikeras bahwa pihak lain tidak ada sangkut pautnya atau hak bersuara terhadap bangunan Hagia Sophia yang berada di kawasan Turki, dikutip dari BBC News. “Apa yang kami lakukan di negara kami, dan dengan properti milik kami, itu tergantung pada kami,” Levlut kepada stasiun televisi Turki 24 TV.

Ulama kontroversial asal India, Zakir Naik, mendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Menurutnya, konversi bangunan itu dibolehkan karena bangunan berada di tanah yang sudah ditaklukkan kaum muslim. “Apa yang saya baca di media adalah bahwa ada banyak negara Muslim, dan banyak yang disebut pengkhotbah dan cendekiawan Muslim dari negara-negara Barat, yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Turki dan apa yang dilakukan Erdogan adalah salah,” kata Zakir Naik di saluran Youtube Middle East Media Research Institute (MEMRI), Sabtu (18/7/2020).

Kini Hagia Sophia berubah status setelah pengadilan administrasi utama Turki mencabut status museum pada tanggal 10 Juli 2020. Keputusan tersebut secara resmi menegaskan bahwa pemerintah Turki mengubah situs bersejarah tersebut menjadi masjid. Namun, keputusan pemerintah Turki masih menjadi pertimbangan bagi UNESCO. Pihak UNESCO mengungkapkan bahwa setiap perubahan situs warisan budaya dunia harus diberitahukan terlebih dahulu dan melaui proses peninjauan.  (Penulis: Fitri Icha, Aisyah Umi Khalsum, dan Endah N. Mereka adalah mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo)

Baca juga:  Didi Kempot dalam Perspektif Antropologi
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top