Penulis Kolom

Dosen di Departemen Sosilogi, UGM Jogjakarta. Pernah bekerja sebagai wartawan. Memperoleh gelar Ph.D di The Amsterdam Institute for Social science Research (AISR), University of Amsterdam, Belanda.

Selamat Jalan Dokter Fauzi, “Laskar Jihad Muhammadiyah”

Fb Img 1626047696208

Ahad pagi, 11 Juli, kuterima kabar duka itu: dokter Fauzi, putera mantan Ketua Umum Muhammadiyah KH. A.R. Fachruddin, meninggal dunia. Innalillahhi wainnailaihi rajiun…

Dokter spesialis anestesi itu sosok yang unik dan menarik: sehari-hari ia berpenampilan sebagai aktivis Salafi, dengan baju gamis dan peci warna putih dengan jenggot menjurai panjang. Jauh dari kesan sebagai putera tokoh legendaris Muhammadiyah yang terkenal karena sikap moderatnya itu, Pak AR. Dan memang meski lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah, dia belakangan aktif di gerakan Salafi dan bahkan ikut berjihad bersama ‘Laskar Jihad’ ke Maluku pada saat konflik komunal agama bergelora di sana.

Bagaimana transformasi personal itu bisa terjadi?

Fauzi lahir pada 1956 sebagai anak keenam dari tujuh putera-puteri Abdul Razak Fachruddin, karib dipanggil Pak AR, Ketua Umum Muhammadiyah pada 1968-1990. Dia tumbuh di Kauman, Yogyakarta, sebuah kampung yang menjadi basis gerakan Islam Muhammadiyah. Namun semasa kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, Fauzi justru sempat menjadi aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kok aneh?

Dia mengatakan itu merupakan sebentuk ‘perlawanan’ terhadap perilaku ‘bossy’ sejumlah aktivis senior HMI yang dikenalnya. Menurutnya, dia mewarisi darah pemberontak dari kakeknya, Kiai Fachruddin, seorang ulama Keraton Pakualaman yang menolak bekerjasama dengan Belanda di masa kolonial.

Mengaku gemar berkelahi sejak kecil, Fauzi belakangan menjadi aktivis politik dan akhirnya menjadi Ketua Umum Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1997 hingga 2003. Salah satu sikap politiknya yang fenomenal pada masa itu adalah: ia menolak menjadi anggota DPRD; ia berfokus pada tugasnya sebagai ketua partai. Pada masa kritis menjelang transisi politik tersebut, ia menjadi loyalis dan merupakan salah tokoh kepercayaan Dr. Amien Rais, Ketua Umum Muhammadiyah waktu itu, seorang tokoh gerakan reformasi di Indonesia. Pada saat itu Amien gencar meluncurkan isu urgensi reformasi politik, termasuk menuntut Soeharto turun dari kekuasaan.

Baca juga:  11 Juli, Tanggal Gus Dur Menikah Secara Jarak Jauh

Fauzi berharap besar kepada politik namun kemudian dikecewakannya. Ketika gerakan reformasi sukses menurunkan Soeharto dari tampuk kekuasaan, ia mendorong Amien Rais tampil sebagai pemimpin Islam melalui partai Islam. Tapi Amien memilih jalan lain; ia mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN)—sebuah partai sekuler, dalam pandangan Fauzi. Amien Rais yang semula dipandangnya sebagai sosok pahlawan belakangan dilihatnya sebagai ‘pengkhianat’.

Maka dokter Fauzi pun “berpindah ke lain hati”. Imajinasi politik Islam penuh heroisme yang dimiliknya tertambat pada sosok aktivis muda Islam radikal yang tengah menonjol pada saat itu: Ja’far Umar Thalib (JUT). Seorang aktivis Salafi dan alumni perang jihad Afghanistan yang belakangan mendirikan Laskar Jihad, sayap paramiliter dari Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ). Ulasan lebih lengkap dan mendalam Laskar Jihad dan JUT bisa ditemukan pada disertasi yang ditulis oleh Noorhaidi Hasan berjudul “Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia” yang diterbitkan oleh Cornel University Press pada 2006.

Demikianlah: Fauzi rajin mengikuti pengajian yang dilakukan oleh Ja’far sejak 1998, bahkan mengadakan kajian rutin di rumahnya. Ketika konflik komunal agama meletus di Maluku pada awal Januari 1999 dan Ja’far Umar Thalib mendirikan Laskar Jihad, maka Fauzi termasuk salah seorang penyokong kuatnya, baik secara politik maupun finansial. Lulus sebagai dokter spesialis anestesi dari UGM sejak 1995, Fauzi tentu berpenghidupan lebih dari cukup.

Bahkan, akhirnya dokter Fauzi akhirnya ikut dalam rombongan Laskar Jihad yang berangkat ke Maluku pada tahun akhir 2000. Meski berangkat sebagai anggota tim medis, namun Fauzi ikut di medan pertempuran yang terjadi di desa Iha dan Sirisori Islam, pulau Saparua, Maluku. Dalam pertempuran Fauzi sempat terkena tembakan dari musuh yang mengenai pantatnya dan membuat hancur dompetnya, namun, alhamdulillah, dia selamat dan hanya mengalami luka ringan.

Baca juga:  Pelopor Modernisasi Pendidikan Islam (2): Muhammad Abduh

Saya bertemu dan kenal baik dengannya ketika melakukan riset untuk kajian doctoral saya di Universitas Amsterdam pada tahun 2006-2010. Serangkaian wawancara mendalam dan biografis yang saya lakukan terhadapnya, termasuk beberapa kali mengikuti pengajian bersama jamaah salafi di rumahnya di Godean, kemudian menjadi salah satu narasi yang muncul dalam disertasi saya yang berjudul “After Jihad: A Biographical Approach to Passionate Politics in Indonesia” yang rampung pada 2011. Tulisan ini merupakan petikan kecil dari narasi dalam disertasi itu.

Dalam manuskrip disertasi tersebut saya memberikan ‘label’ pada dirinya sebagai “the ‘maverick’ post-jihadist”. Menurut Cambridge Dictionary, maverick berarti: “a person who thinks and acts in an independent way, often behaving differently from the expected or usual way” (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/maverick).

Mungkin kita mengalihkbahasakan ‘maverick’ menjadi ‘nyleneh’ dalam bahasa Jawa atau Indonesia. Saya menyebut dokter Fauzi sebagai ‘(post-)mujahidin nyleneh’ karena sejumlah alasan: pertama, dia seorang perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus rokok—salah satu merek favoritnya Dji Sam Soe. Di kalangan Salafi, merokok termasuk perbuatan yang diharamkan. Namun Fauzi terus saja merokok meskipun berada di depan ulama Salafi, termasuk di depan Panglima Ja’far Umar Thalib. “Tidak ada yang bisa melarang saya merokok,” ujarnya suatu ketika.

Kedua, dia tidak mau terlibat dan terjerat dalam fragmentasi dan faksionalisasi di kalangan jamaah Salafi pasca Laskar Jihad. Seperti diulas secara mendalam oleh Noorhaidi Hasan (2006), pasca konflik Maluku, Laskar Jihad dibubarkan menyusul fatwa ulama dari Arab Saudi dan Yaman yang menganggap kewajiban jihad telah selesai lantaran redanya gelombang peperangan di sana. Bahkan Ja’far Umar Thalib diekslusi dan di-ekskomunikasi dari mainstream jamaah Salafi karena dianggap melakukan sejumlah penyimpangan saat memimpin Laskar Jihad. Namun Fauzi tetap hormat dan berhubungan dekat dengan JUT. Namun pada saat yang saya ia mengundang sejumlah ustadz Salafi penentangnya dalam pengajian di rumahnya. Apa responnya terhadap fragmentasi itu? “Itu masalah di antara sesama orang Arab, saya tidak mau ikut-ikut,” ucapnya secara berkelakar sembari tertawa.

Baca juga:  Syekh Maimoen Zubair, Ahli Fikih Nusantara

Alasan berikutnya, dan mungkin terpenting, adalah keterlibatannya dalam dunia politik yang masih terus berjalan meski juga menjadi aktivis Salafi. Bukti yang paling kuat dari hal ini adalah: keterlibatan istrinya sebagai calon anggota legislatif dari Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya), sebuah partai sekuler-nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Prabowo Subianto, pada Pemilu 2009. Ia bahkan ikut berkampanye secara informal mendukung pencalonan istrinya dengan mengerahkan sejumlah simpul politiknya, khususnya yang berasal dari kalangan PPP.

Langkah dan tindakan dokter Fauzi tersebut jelas tidak lazim di kalangan aktivis Salafi: pertama, terlibat secara langsung dalam kegiatan politik praktis-electoral, dan kedua, mendukung dan mengkampanyekan seorang kandidat perempuan dalam kontestasi politik. Belakangan, ia juga menjadi salah seorang pendukung Joko Widodo dalam pemilihan Presiden pada 2014. Bahkan Jokowi sempat mampir dan melakukan shalat Magrib di rumahnya, antara lain bersama dengan Anies Baswedan, pada saat melakukan kampanye politik di Yogyakarta.

Begitulah dokter Fauzi. Seorang “maverick post-jihadist” atau “alumni jihad yang nyleneh”. Juga sosok unik “Laskar Jihad Muhammadiyah”. Beliau akhirnya mengakhiri hidupnya di tempat tidur di masa pandemi dengan virus covid-19 menggerogoti tubuhnya yang memiliki komorbid penyakit jantung dan diabetes. Itu berbeda jauh dengan mimpi dan cita-cita yang pernah disampaikannya padaku dalam sebuah wawancara:

“Saya ingin pada suatu ketika mengakhiri hidup saya di sebuah tanah jihad, baik itu di tanah suci atau di medan perang suci, baik itu di Moro atau Afghanistan…”

Namun sebagai seorang tenaga kesehatan yang juga pasien covid-19 semoga ia mati syahid. Selamat jalan dokter Fauzi, semoga damai di keabadian. Amin.

Sleman, 12 Juli 2021

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top