Sedang Membaca
Menelusuri Penyusun Kitab Tahliyah: Ironi Pesantren
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menelusuri Penyusun Kitab Tahliyah: Ironi Pesantren

Mohammad-Nasif

Kalangan pesantren tak asing lagi dengan kitab at-Tahliyah wat Targhib. Kitab ini adalah salah satu kitab yang cukup sering dikaji di kalangan pesantren. Salah satu pesantren yang menggunakan kitab ini sebagai bahan ajar adalah Pesantren Lirboyo Kediri.

Di pesantren tersebut, kitab Tahliyah diajarkan usai kitab Washoya dan Taisirul Kholaq. Dan sebelum kitab Ta’limul Mutaallim karya az-Zarnuji.

Namun kemasyhuran kitab ini tidak disertai pengenalan dengan baik para pembacanya pada penyusun kitab ini. Tentang pengarangnya saja, banyak yang mengira kitab ini adalah salah satu karya Sayyid Muhammad ibnu Alawi al-Maliki; seorang tokoh ahlu sunnah terkemuka yang berdiam di Mekkah. Padahal bukan beliau pengarangnya. Ini ironi pesantren.

Dalam artikel pendek ini, penulis akan coba menguraikan penelusuran penulis tentang pengarang kitab Tahliyah. Dan juga adanya banyak kekurangan serta kekliruan teks kitab Tahliyah cetakan Dar al-Qalam bila dibanding cetakan lama dari negara asalnya.

Penelusuran penulis berawal dari penterjemahan yang dilakukan penulis pada Kitab at-Tahliyah wat Targhib fi Tarbiyah wat Tahdzib. Selain menterjemahkan kitab tersebut, penulis juga menelusuri tentang biografi penulis kitab tersebut.

Kemudian penulis menemukan fakta menarik bahwa nama penulis kitab yang tertulis di halam lapik kitab tersebut tidaklah lengkap atau bahkan cenderung mengkaburkan jati diri penulis sebenarnya. Tak heran kemudian hal ini menimbulkan salah sangka siapa sebenarnya penulis kitab Tahliyah. Kitab yang penulis pakai adalah kitab Tahliyah cetakan Dar al-Qalam.

Bila kita melakukan pencarian tentang penelitian akademis mengenai kitab Tahliyah di Google, maka kita akan menemukan cukup banyak skripsi yang membahas kitab tersebut. Dan perihal penulis kitab Tahliyah, mereka menyatakan bahwa kitab tersebut adalah karya Sayyid Muhmmad Alawi al-Maliki. Padahal bukan. Hal ini dibuktikan dengan naskah kitab Tahliyah berbentuk file PDF cetakan Mesir yang tersebar di internet. 

Pada halaman depan naskah kitab tersebut tertulis bahwa penyusunnya bernama Sayyid Afandi Muhammad. Ada tambahan nama “Afandi” yang tidak tertulis di naskah cetakan yang banyak tersebar di Indonesia.

Dalam naskah itu juga terdapat keterangan bahwa beliau adalah seorang pengajar sekolah dasar di daerah Mubtadaian, Mesir. Bukan seperti yang dinyatakan oleh beberapa skripsi di atas.  Naskah Tahliyah berupa file tersebut dinyatakan dicetak oleh percetakan al-Kubra al-Amiriyah, Bulaq, Mesir. Dengan tahun cetak 1314 H atau 1896 M.

Kitab Tahliyah disusun oleh Sayyid Afandi Muhammad juga dapat diihat dari dokumentasi situs King Fahad National Library yang beralamat: http://ecat.kfnl.gov.sa:88 serta dokumentasi salah satu situs perpustakaan di Mesir yang beralamat di http://schools.mans.edu.eg

Sedang dokumentasi kitab Tahliyah disusun oleh seseorang bernama Sayyid Muhammad saja, tanpa menggunakan nama Afandi, dapat dilacak keberadaanya di situs www.worldcat.org yang menurut Wikipedia disebut-sebut situs  kumpulan katalog yang mencatat isi koleksi 72.000 perpustakaan di 170 negara. Barangkali situs ini yang menjadi sumber ketidak lengkapan penyebutan nama penyusun kitab Tahliyah.

Lalu bagaimana profil Sayyid Afandi Muhammad? Tidak ada keterangan yang penulis temukan selain beberapa catatan tentang karya beliau serta jabatan beliau.  Di antaranya, dalam naskah kitab Tahliyah cetakan al-Amiriyah Mesir, beliau disebut salah satu pengajar di madrasah Mubtadaian Mesir. 

Sedangkan dalam Mu’Jam al-Matbu’at al-Arabiyyah wal Mu’arribah, beliau disebut pengajar Bahasa Arab di Mubtadaian Mesir. Karya beliau diantaranya adalah ad-Durroh al-Abbasiyah fil Aqaid ad-Diniyah dan Kunuzul Ashr fi Ja’rafiyati Misr.

Baca Juga

Selain perihal penyusun, setelah penterjemah membandingkan antara teks berbentuk file PDF yang berasal dari Mesir, dengan cetakan Dar al-Qalam yang tersebar di Indonesia, terdapat perbedaan penulisan. Bahkan sebagian perbedaan penulisan berpengaruh pada pemaknaan. Perbedaan ini mencakup pembuangan kalimat, beberapa kata yang terlewat dan salah tulis. Temuan ini ada pada kisaran 10 tempat di naskah cetakan Dar al-Qalam.

Namun, yang menarik adalah temuan kalimat yang dibuang, yang mengungkap seorang pemimpin yang sedang berkuasa di zaman penulis. Kalimat ini terletak di akhir paragraf kedua pada pendahuluan. Kalimat ini berbunyi:

فِي ظِلِّ مَلِيْكَا الْأَعْظَمِ وَخِدْيُوْنَا الْأَفْخَمِ (عَبَّاسْ بَاشَا حِلْمِى الثَّانِى) أَيَّدَ اللّٰهُ بِالْعِزِّ دَوْلَتَهُ وَأَدَامَ لِلْمَعَارِفِ عِنَايَتَهُ مُؤَيَّدًا بِوُزَرَائِهِ الْكِرَامِ وَرِجَالِ مَعَارِفِهِ الْفَخَامِ

“Di bawah kekuasaan pemimpin agung dan penguasa kita yang mulia; Abbas Pasha Khilmi Tsani. Semoga Allah menguatkan kekuasaannya dengan kemuliaan, dan membuat beliau senantiasa memberi perhatian pada bidang Pendidikan dengan dibantu Menteri-menterinya yang mulia serta sosok dalam kementrian Pendidikan yang mulia”

خِدْيُو merupakan istilah bagi seorang hakim Mesir yang diangkat di bawah kendali kekhalifahan utsmaniyah di masa lalu. Sedang Abbas Pasha adalah Abbas II dari Mesir (Abbas Hilmi Pasha, 18741944), Gubernur Mesir antara 18921914. Beliau merupakan putra Gubernur Taufik Pasha, yang diberhentikan dari jabatannya oleh Inggris setelah mengumumkan penguasaanya pada Desember 1914.

Kalimat Panjang yang terbuang ini menunjukkan kurun waktu hidup penyusun kitab Tahliyah serta penghormatan beliau terhadap pemimpin yang beliau sebutkan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top