Sedang Membaca
Kang Ayip Abbas dan Selawat Pengurai Masalah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kang Ayip Abbas dan Selawat Pengurai Masalah

Mohammad Fathi Royyani

Suatu hari, pada awal tahun 2000an saya bertemu dengannya di suatu majlis selawat. Pakaiannya sederhana, jauh dari kesan mewah, dan tidak juga menampilkan sosok kiai. Ternyata majlis yang saat itu sedang selawatan atau zikir bersama adalah gabungan dari beberapa majlis selawatannya. Saat itu, di Jakarta dan kota-kota besar belum marak majlis zikir dan selawat, apalagi ditayangi televisi. 

Sejak pertengahan tahun 1990an, Kang Ayip (sebutan akrabnya) walau sekarang banyak juga yang memanggil dengan kiai, sudah aktif mengajak masyarakat terutama kalangan yang dianggap “nakal”, “preman”, “liar”, dan julukan-julukan “sejaram lainnya untuk berselawat bersama. Dengan selawatan akan terbangun kecintaan pada Nabi Muhammad, mencoba meneladani, meresapi, dan menjalankan ajaran Islam, dan berbuat kemaslahatan bagi kehidupan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ada yang melihat Kang Ayip sebagi kontroversi, karena dianggap “memaklumi” kemungkaran. “Masa selawatan, tapi maksiyat jalan,” begitu beberapa orang menilai santri-santri Kang Ayip. Sementara Kang Ayip sendiri melihat bukan “memaklumi” tapi sebagi proses yang sedang berjalan. Tadaruj dalam istilah fikih, pelan-pelan, bertahap. “Nabi juga begitu mengajak orang kan,” begitu Kang Ayip menyandarkan gerakan dakwahnya.

Mendekati kalangan demikian bukan tanpa resiko. Beberapa kali menemui masalah tetapi dapat diselesaikan. Mendekati kalangan yang demikian juga butuh strategi tersendiri, walau menurut penuturannya strategi yang digunakan adalah lillahi ta’ala. 

“Saya tidak memiliki strategi khusus atau apa, semuanya lillahi ta’ala saja dalam mengajak mereka mencintai Nabi” Tuturnya ketika beliau kersa singgah di gubuk kami.

Kang Ayip tidak mengajak orang untuk menjadi lebih baik, karena hal itu menurutnya adalah persoalan hidayah dan kemauan dari masing-masing. Beliau hanya mengajak orang-orang tersebut untuk mencintai Nabi melalui gemar berelawat. Mudah-mudahan, dengan syafaatnya Kanjeng Nabi orang-orang tersebut digerakkan hatinya dan perilakunya menjadi lebih baik. Demikian penuturan Kang Ayip suatu ketika pada saya di lain kesempatan.

“Saya hanya mencantolkan temen-teman dan saya sendiri pada Kanjeng Nabi melalui sholawatan, kalau ada yang menjadi lebih baik ya alhamdulillah tetapi kalau belum baik ya setidaknya orang tersebut masih mencintai Kanjeng Nabi.”  

Dengan pembawaan yang santai, tidak ada jarak, ceplas-ceplos, sosok Kang Ayip bagi sebagian orang menjadi peneduh dikala terik kehidupan begitu menyengat. Beliau menjadi “pelarian” dan teman curhat yang enak diajak bicara. Semua orang, baik politisi, pejabat, preman, budayawan, seniman atau apapun akan dianggap sama oleh Kang Ayip.

Di rumah Kang Ayip, di Kampung Dukuh, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pesawahan, Kabupaten Kuningan setiap malam sabtu ada pengajian ruitn. Orang-orang yang datang pun dari beragam profesi. Semuanya membaur, duduk bersila, dan bersama-sama mentautkan hati kepada Allah melalui kecintaan pada Nabi Muhammad yang diekspresikan dengan selawat bersama.

Tidak sedikit yang hadir tiba-tiba sesunggukan di tengah acara. “Entah kenapa saya tiba-tiba teringat atas kesalahan-kesalahan saya dan ada rindu pada Nabi Muhammad yang membuncah di dada”. Demikian penuturan salah seorang dari Depok yang berprofesi sebagai kontraktor dan perakit alat-alat berat saat saya jumpai di rumah Kang Ayip. Ia kali pertama datang dan berencana akan datang lagi kalau ada kesempatan. 

Salah satu kalangan yang sering berselawat dan bersilaturahim di kediaman putra dari Kiai Abdullah Abbas (salah satu kai khos menurut Gus Dur) yang juga berarti cucu dari Sang Pahlawan 10 November 1945, Kiai Abbas Abdul Jamil ini adalah Geng Motor XTC. Pada beberapa tahun lalu, geng motor ini salah satu yang ditakuti karena kerap berbuat onar di Cirebon. Tetapi kini, bahkan untuk dilantik sebagai anggota XTC harus ikut selawatan.

Setelah gemar berselawat, berita yang menghiasi koran di Cirebon mengenai XTC pun berubah. Dari semula beritanya sekitar tindakan kriminal. Entah tawuran, perampokan, penjambretan atau tindakan-tindakan lainnya. Tetapi kini secara berlahat berita mengenai geng motor sudah berubah menjadi santunan anak-anak yatim dan duafa.

Bagi Kang Ayip, perubahan itu semata-mata karena berkah dari sholawat dan dari dalam diri orangnya ada keinginan untuk berubah. Kang Ayip tidak mau menghukumi ketika salah satu dari mereka masih berbuat salah. Menurutnya, wajar saja orang berbuat salah, toh kita juga sering berbuat salah. Kalau kesadaran sudah ada dalam hatinya, orang juga dengan sendirinya akan berubah, tidak perlu diajak-ajak.

Dengan prinsip yang demikian, Kang Ayip “kurang kersa” kalau diminta untuk memberikan mauidzhoh hasanah. Yang dibutuhkan oleh orang-orang sekarang ini bukan asupan informasi mengenai agama, tetapi terpautnya hati dengan Kanjeng Nabi. Kalau informasi agama, sudah banyak yang melakukan dan orang bisa mencari dimanapun, termasuk pesantren yang memiliki kapasitas untuk itu.

Baca juga:  Ngaji Gus Baha: Terapi Spiritual di Tengah Gencarnya Islam Bernada Sedih
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top