Sedang Membaca
Bisyr dan Kisah Mistik di Balik Kaki Telanjangnya
Avatar
Penulis Kolom

Mahasiswa Ilmu Quran dan Tafsir INSTIKA Guluk-Guluk.

Bisyr dan Kisah Mistik di Balik Kaki Telanjangnya

1 Kaki

Jika kita mengetik kata “Julukan” dalam kamus Wikipedia, kita dapat menemukan definisi kata “Julukan” itu dengan “nama seseorang yang bukan nama aslinya. Atau (bahkan) juga bukan nama dari orang tuanya”. Memang, nama tersebut bukanlah nama yang, sebut sajalah, resmi yang memang dimiliki oleh pemiliknya. Namun, hal tersebut bisa saja dibenarkan atau bahkan ‘resmi’ ketika sudah menjadi hal yang sudah tidak lagi asing.

Nama julukan bisa saja direpresentasikan dari bagian nama orang itu sendiri atau bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan nama orang tersebut, misalnya berasal dari bagaimana seseorang melihat atau dari sesuatu yang biasa mereka kerjakan atau hal lainnya. 

Begitu juga dengan kisah salah seorang sufi sekaligus fukaha pada masanya, Bisyr al-Hafi (w. 227 H/841 M), yang memiliki julukan di saat ia tidak lagi mengenakan alas kaki sampai ia wafat. 

Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, dilahirkan di kota Marwa (sekarang adalah Marv), Turkmenistan dan pindah ke kota Baghdad. Ia adalah salah seorang sufi yang memiliki julukan has bak ulama atau sufi lainnya.

Pasalnya, julukannya tidak dinisbatkan dengan kota atau daerah kelahirannya, semisal Abu ‘Ali Ahmad bin ‘Isham al-Anthaki yang berasal dari kota Antiokia, dan tidak juga dengan nama yang diambil dari para leluhurnya. 

Awalnya, ia adalah seorang pemabuk aktif yang kemudian bertaubat dan memilih jalan tasawuf sehingga menjadi seorang sufi sejati. Suatu hari, saat ia masih berada dalam kondisi mabuk, ia lewat di jalan kota Baghdad. Tanpa disadari, ia tak sengaja menginjak secarik kertas yang bertuliskan Nama Allah (atau, dalam redaksi lainnya, lafaz Bismillahirrahmanirrahim), yang tergeletak di atas tanah lantaran ditiup angin.

Kemudian Bisyr memungut kertas itu khawatir diinjak-injak oleh orang-orang yang sedang lalu-lalang. Tak hanya itu saja yang ia lakukan, ia pun juga sangat memerhatikan dan menghormati kertas itu. Ia bubuhkan wewangian dan ia letakkan di tempat yang layak dan bersih. Hingga suatu malam, setelah kejadian hari itu, ia bermimpi, seakan-akan ada suara yang berbicara padanya, “Wahai Bisyr, karena kau telah mengharumkan (memuliakan) Nama-Ku, maka Aku juga senantiasa akan mengharumkan namamu di dunia dan di akhirat kelak.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah kejadian yang ia alami dan mimpi yang ia rasakan semalam, ia pun bertaubat dan menjalani aktifitas laiknya seorang asketis. Hingga, pada saat ia mencapai klimaks dalam perenungan tentang Tuhan, ia pun tak pernah beralas kaki. 

Dan pada suatu saat, ia ditanya tentang perilaku di luar kebiasaannya itu. Sontak ia menjawab dengan jawaban sederhana namun penuh dengan makna, “Bumi ini adalah ‘karpet-Nya’. Dan kukira merupakan suatu hal yang kurang pantas berjalan di atasnya selagi masih ada sesuatu yang melekat antara kakiku dan ‘karpet-Nya’.”

Dari peristiwa itulah ia memiliki julukan al-Hafi (orang yang bertelanjang kaki) hingga tersemat di sela-sela namanya yang mulia hingga akhir hayatnya. Bahkan ada kisah lain yang menceritakan tentang di saat ia ditawari sepasang sandal untuk ia pakai.

Suatu ketika, Bisyr pergi ke rumah al-Mu’afi bin ‘Imron. Sesampainya ia di depan pintu rumahnya, ia mengetuk pintu dan terdengarlah jawaban dari dalam rumah, “Ya, siapa?”

“Ini aku, Bisyr al-Hafi!” jawabnya. 

“Seandainya saya bisa membelikanmu sepasang sandal—dengan harga dua perenam dirham—dan Anda pakai, maka nama Anda tidak lagi al-Hafi.” Celoteh anak perempuan dari dalam rumah, seakan-akan ia menawarkan sandal untuk Bisyr pakai.

Sayangnya, Bisyr sama sekali tidak menggubris dan tetap telanjang kaki sampai akhirnya ia wafat. 

Baca juga:  Ekspresi Sufistik dalam Puisi Tradisional Jawa (3): Suluk Wujil-Jalan Mengenal Tuhan
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top