Sedang Membaca
KH Ahsin Sakho Muhammad dan Teori Burung Elang
Muhammad Sofiyulloh
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly Lirboyo Kediri asal Nganjuk.

KH Ahsin Sakho Muhammad dan Teori Burung Elang

Ahsin Sakho Muhammad

Kalau orang-orang sekarang punya istilah “hurry sickness“, yaitu kondisi psikologis dimana seseorang ingin melakukan segala hal dengan instan, maka orang arab ortodoks punya term “أم الندمات”. Bagi mereka, tergesa-gesa adalah induk dari kekecewaan.

Dikisahkan, awal mula Allah menciptakan manusia adalah dengan meniupkan ruh/nyawa pada dan dalam wujud kepala Adam saja. Hingga sampai di bagian pusar, Adam terperangah atas keindahan yang Allah berikan. Rasa kagum itu membuatnya tak sabar untuk segara beranjak berdiri. Adam berusaha sekuat tenaga, tapi apa daya. Adam tak mampu mengangkat tubuhnya sendiri.

Demikian, acara penciptaan manusia dibuka dengan ketergesa-gesaan. Ini menjadi tanda, bahwa manusia sampai kapan pun akan selalu memiliki tabiat itu.

Dalam literatur klasik, tabiat manusia yang satu ini punya istilah ‘ajalah. Ia juga disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an, sebagai peringatan atas tercelanya sifat ini. Misalnya, di surat al-Isra’:11 dan al-Anbiya’:37.

Perihal dua ayat itu, seorang ulama’ ber-madzhab Hanafiy bernama kunyah Abu Sa’id, atau syaikh Muhammad ibn Muhammad al-Khadimiy, menguraikan sifat tergesa-gesa manusia menjadi tiga:

  1. Ini yang paling umum, yaitu tergesa-gesa menghasilkan banyak hal dengan serba instan.
  2. Melakukan suatu hal, hanya karena terbersit dan terlintas begitu saja di pikiran, tanpa sebelumnya dipertimbangkan baik-buruknya. Misalnya, Anda ikutan orang-orang main crypto tanpa tahu betul aturan mainnya.
  3. Menyelesaikan suatu hal, tanpa menempatkan bagian-bagian kecil dalam hal itu pada tempatnya. Misalnya, Anda ikutan khataman al-Qur’an di acara tetangga, tapi karena datang telat dan yang lainnya sudah hampir selesai bacanya, kamu mempercepat bacaan, hingga mengabaikan tajwid.
Baca juga:  Fikih Prioritas Tuan Guru Bajang Zainul Majdi

Itu al-Khadimiy. Abu Hamid al-Ghazali, punya definisi sederhana untuk ‘ajalah, yaitu kondisi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sebelum waktunya yang paling tepat. Tidak ada perbedaan signifikan antara dua definisi di atas, yang jelas, grusa-grusu adalah tabiat manusia yang buruk.

Mungkin Anda nggrundel,  “Lho kalau ‘ajalah itu tabiat manusia, bagaimana dengan hadis Nabi bahwa ‘ajalah itu berasal dari syaithon? “

Kata Ibnu Hajar, ‘ajalah memang watak manusia, tapi sebetulnya saat seseorang tergesa-gesa, setan juga ikut andil. Secara tidak sadar, setan mendorong hatimu agar senantiasa gegabah terhadap apa yang kamu kerjakan atau inginkan saat itu.

Al-Khadimiy juga mengatakan, ‘ajalah itu mestinya difungsikan sebagai semacam tunggangan atau kendaraan untuk sampai pada achievment-achievment bernuansa akhirat. Kalau ia rewel di tengah jalan, kendalikan pakai akal. Adalah fakta, bahwa termasuk habit setan dan manusia adalah tergesa-gesa. Tapi akal manusia merupakan satu komponen yang tidak dimiliki setan. Ia sangat layak untuk menjadi alasan dari ketidaktepatan siapapun yang merasa manusia untuk dibanding-bandingkan dengan setan yang terkutuk.

Secara lebih spesifik, apa yang diungkapkan al-Khadimiy, didukung kuat oleh dawuh Hatim al-Ashom. Hatim membenarkan bahwa tergesa-gesa itu buruk, tapi ada lima hal yang harus dilakukan manusia dengan sigap nan cakap.

Baca juga:  KH. Ilyas Ruhiat: Inklusif dan Menghormati Martabat Perempuan

Lima hal itu adalah, (1) menghidangkan jamuan pada tamu, (2) mengurus jenazah, (3) menikahi perawan (dibagian ini saya belum bisa mengamalkan), (4) membayar cicilan dan hutang, (5) bertaubat.

Lawan kata ‘ajalah dalam bahasa arab fusha adalah anaah. Anaah itu kebalikannya. Kalem, santai, tapi bukan berarti lemot dan klemar-klemer. Ada satu hadis menarik yang membicarakannya. Salah satu sahabat nabi yang juga menjadi pemimpin suku Abdil Qois bernama Mundzir (atau lebih terkenal dengan nama laqobnya, Asyaj), bersama para rombongan, berkunjung ke Madinah dalam rangka sowan ke nabi.

Ketika tiba di Madinah, setelah turun dari kendaraan masing-masing, semua orang (sangking inginnya berjumpa nabi) langsung menuju ndalem nabi. Tapi tidak dengan Asyaj, ia terlebih dahulu mengganti pakaian safarnya dengan pakaian paling bagus yang telah dibawanya. Setelah itu, baru ia pergi ke ndalem nabi. Cerita yang dinarasikan Ibnu Hajar dalam Fath al-Baari ini, ditutup dengan pujian nabi pada Asyaj, bahwa ia memiliki dua sifat yang disukai Allah dan Rasulnya, yaitu anaah (tidak tergesa-gesa), dan hilm (cerdas).

Walhasil, ‘ajalah dalam urusan duniawi jelas tidak baik. Tapi kita juga perlu menaruh perhatian penuh pada setiap kebaikan dan ibadah, yang seolah dengan melakukannya secara cepat, mission clear.

Maka, teori burung elang, yang dikatakan oleh Dr. Ahsin Sakho Muhammad di salah satu forum dirosah ‘ammah (kuliah umum) di Ponpes Lirboyo Kota Kediri, tentang bagaimana burung elang terlebih dahulu mengamati dengan cermat dari kejauhan, sebelum kemudian ia menukik tajam, menerkam dan melahap mangsanya, adalah gambaran tentang betapa syari’at Islam mengajarkan umat manusia agar tidak tergesa-gesa dalam segala hal. Atau dalam ranah hukum fikih, sering disebut dengan tadarruj fi at-tasyri’. Semoga bermanfaat.

Baca juga:  Ibnu Sina dan Tradisi Berpikir dalam Islam

 

 

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
6
Ingin Tahu
2
Senang
7
Terhibur
7
Terinspirasi
8
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top