Penulis Kolom

IKSAB TBS, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Pengelola Media Hammasah.

Hal yang Luput dari Keberagamaan Kita

Tuhan Ada di Hatimu

“Tuhan Ada di Hatimu” adalah judul dari karya terbaru dari Habib yang konsen di jalur “Islam Cinta”, yakni Habib Husein Ja’far Al Hadar. Dengan membaca buku ini, kegiatan keberagamaan kita akan terkoreksi tanpa ada kesan digurui lebih-lebih dihakimi.

Judul tersebut merupakan hasil dari perenungan Habib Husein ketika masa haji tahun 2020 yang lalu. Karena dunia sedang kedapatan tamu berupa pandemi, maka diputuskan Ka’bah ditutup untuk umum, pelaksanaan ibadah haji yang biasanya selalu ramai dipenuhi masyarakat dari penjuru dunia, pada saat itu menjadi sepi, hanya ada petugas kebersihan yang membersihkan sekitaran area Ka’bah.

Foto yang menunjukkan Ka’bah sepi pun akhirnya tersebar di media sosial, banyak netizen yang terheran-heran, bingung, serta setengah tak percaya melihat pemandangan yang tak lazim tersebut. “Kok Ka’bah jadi sepi ya?” “Musim haji kok malah nggak ada yang ibadah di Ka’bah ya ?”. Mungkin itu yang menjadi pertanyaan dari kebanyakan netizen.

Namun tidak dengan Habib Husein Ja’far, dirinya lebih memilih untuk mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dibandingkan dengan mengeluh dengan keadaan yang ada.

Hikmah itu didapat Habib Husein Ja’far ketika teringat dengan kutipan puisi Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi ” Aku mencari Tuhan di Masjid, Gereja, dan Kuil. Tapi aku menemukan-Nya di hatiku”. Lalu kemudian dimodifikasi hingga terciptalah Tuhan Ada di Hatimu. (hlm.15)

Melihat kejadian Ka’bah yang sedang sepi seharusnya kita bisa berfikir substantif, karena sejatinya Allah tidak bertempat di Ka’bah, karena memang Allah tak bertempat. Ka’bah hanya sebagai medium yang ditunjuk oleh Allah sebagai kiblat ketika kita sedang sholat.

Baca juga:  Buku Ini Laris Manis Karena Sering Disebut Gus Baha

Bagi muslim yang bijaksana semestinya bisa  memposisikan Tuhan selalu berada dala hatinya, karena dengan begitu segala sesuatu yang akan diperbuat atas dasar ketaatan pada Tuhan yang telah menempel di hatinya dan kemanapun dia menghadap dia melihat-Nya.

Hijrah

Kadang ketika kita sedang menempuh proses berhijrah, timbul dalam diri kita rasa lebih baik dari orang lain, terlebih kepada orang yang belum hijrah. Jika kita sudah berhijrah, sudah berkerudung atau sudah berpakaian islami, dengan mudah kita menghukumi orang yang tidak berkerudung dan orang yang tidak berpakaian islami dengan label sesat.

Tidak hanya merasa dirinya sudah benar, namun merasa dirinya paling benar dan merasa pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya adalah salah, bahkan sesat hingga dianggap kafir. Hijrah seperti inilah hijrah yang kering.

Hal ini yang kemudian disoroti oleh Habib Husein Ja’far, “Hijrah Itu Masih Koma, Belum Titik”. Ini karena banyak orang yang mengaku hijrah, namun justru mereduksi makna hijrah. Mereka menganggap bahwa hijrah sudah cukup dijalankan pada aspek ritual saja, padahal hijrah harus juga berkembang pada aspek-aspek yang lain dalam kehidupan karena Islam tidak hanya menitikberatkan pada aspek ritual saja, namun juga pada aspek sosial.(hlm.21)

Jangan sampai ketika kita telah hijrah, ibadah yang kita lakukan menjadi semakin giat, namun hubungan dengan tetangga, saudara, teman menjadi acuh, tak memperhatikan sekeliling kita. Ada orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan kita masa bodoh. Hijrah semestinya menuntun kita agar lebih peka terhadap sosial.

Baca juga:  Kisah-Kisah Spiritual: Pertemuan Para Burung

Benar Saja Tak Cukup

Kebenaran harus ada yang menemani, yakni kebaikan dan keindahan agar tercipta sebuah kebijaksanaan. (hlm.63). Terkadang karena kita telah merasa hal yang kita sampaikan sudah benar kita menganggap hal itu cudah cukup. Padahal akan menjadi lebih baik lagi jika dibarengi dengan kebaikan dan keindahan, seperti saat mengumandangkan adzan.

Tidak salah jika ada orang yang memiliki suara pas-pasan untuk adzan. Namun akan lebih baik jika yang melakukan adalah orang yang memiliki suara yang bagus dan juga volumenya disesuaikan dengan keadaan. Tentu adzan yang volumenya sangat keras walaupun yang melantunkan orang yang memiliki suara yang indah akan mengganggu yang mendengarkan. Hal ini justru akan merusak citra Islam, beda lagi jika kita menggabungkan unsur keindahan dan kebaikan, maka syiar Islam akan lebih mengena.

Begitupun juga dengan konten dakwah di media sosial. Netizen pasti akan bosan atau bahkan tidak tertarik jika konten yang dipertontonkan konten ceramah polosan apa adanya, tanpa dilakukan editing visual atau grafis untuk lebih dapat menarik perhatian.

Karena persaingan antar konten di sosial media sangat ketat, sehingga dibutuhkan tangan-tangan kreatif yang mengelola konten menjadi lebih menarik agar kebenaran dapat disampaikan dengan kebaikan dan keindahan.

Musik Haram ?

Perihal keharaman musik memang tak pernah selesai pembahasannya, sebenarnya masalah hukum musik masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan.

Baca juga:  Sabilus Salikin 80: Cara Wirid Tarekat Rifa'iyah

Namun kita perlu mengetahui di balik alasan mengharamkannya, mayoritas ulama yang menganggap musik haram adalah karena kecenderungan musik yang digunakan dalam mengiringi kemaksiatan. Ini yang menjadi titik beratnya.

Sebenarnya musik hanyalah sebagai media, karena musik hanya sebagai media maka tidak ada hukumnya. Sama seperti pisau, pisau adalah media, jika digunakan untuk memotong buah yang kemudian dihidangkan dalam acara maulid tentu hal ini mendapatkan pahala, berbeda lagi jika pisau ini digunakan untuk membunuh orang, maka hal yang demikian pasti haram. (hlm.141)

Begitu juga dengan musik, jika digunakan untuk mengiringi atau memeriahkan kemaksiatan tentu hal ini diharamkan, berbeda lagi jika tujuannya untuk menyampaikan pesan moral, nilai-nilai kemanusiaan, dakwah atau lain sebagainya yang  dapat memberikan manfaat kepada sesama, maka hal ini justru akan memperoleh pahala.

Justru ketika musik digunakan untuk mengiringi perayaan kemaksiatan kita justru harus bisa masuk ke dalam untuk memeberikan alternatif lain, bahwa ternyata musik tidak selalu identik dengan kemaksiatan namun juga dapat memberikan kemanfaatan, jangan hanya mengutuk atau menghukumi, namun tidak memberikan solusi. Seperti yang disebutkan oleh adagium “Lebih baik menyalakan pelita dari pada mengutuk kegelapan”.

 

Judul Buku: Tuhan Ada di Hatimu

Penulis: Husein Ja’far Al Hadar

Penerbit: Noura Publishing

Halaman: 203 Halaman

ISBN : 978-623-242-147-9

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
1
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top