Sedang Membaca
Siapkah Kita Menjadi Muslim?

Mahasiswa di Universitas Sidi Mohammad Ben Abdillah Fes Maroko. Pecandu teh susu, tapi kalau adanya kopi susu ya diminum juga. Berusaha menjadi pembaca yang baik sekaligus ingin menjadi pendengar budiman. Semoga menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia .

Siapkah Kita Menjadi Muslim?

Rasulullah: Akan Muncul Kelompok yang Mudah Menyalahkan

Sepertinya, kita memang sebagai muslim belum siap. Belum siap untuk berbeda pendapat. Belum siap sekadar menerima argumen orang lain dengan lapang. Belum siap menghargai keyakinan yang diyakini orang lain. Belum siap menuju sebuah persatuan, wong sesama muslim sendiri masih gontok-gontokan. Lantas kapan kita siap untuk menerima keberagaman?

Pertanyaan ini muncul mengalir begitu saja di kepalaku tanpa pandang bulu. Aku pun semakin merenung, berpikir dalam-dalam, seperti apakah sebenarnya agamaku, Islam, mengajarkan tentang keberanian menerima perbedaan.

Kenapa orang-orang yang mengaku saudara-seiman selalu meributkan kebenaran dengan tafsir yang dianggap paling benar menurutnya? Padahal mereka pun lupa bahwa itu adalah bagian kecil dari kebenaran yang hakiki itu sendiri.

Zaman sudah semakin maju. Tapi kenapa pemikiran dan pandangan keberagamaan semakin mundur tertinggal jauh. Secara tidak langsung, hal ini mengamini sebuah pendapat bahwa agama merupakan satu dari sekian penyebab sebuah kemunduran.

Tentu kita tak senang bukan jika agama yang kita yakini dihubungkan dengan ketertinggalan dan kebuntuan berpikir? Tapi harus menerima juga, wong ada yang suka kampanye air kencing Onta.

Mari kita renungkan sedikit apa yang kira-kira menjadi penyebab pola pikir jumud dan anti nalar yang kian aku akhir-akhir ini.

Cak Nun sangat yakin, bagaimana ia memposisikan dirinya ketika ditanya tentang kerukunan masyarakat Indonesia.

Baca juga:  Dinamika Media dalam Wacana Keislaman

Ia berkata, “Kita telah salah kaprah dalam memahami kebenaran. Misalnya satu kelompok yang mengaku muslim bersikukuh tentang kebenaran dan menyalahkan kelompok masyarakat lain yang berbeda dalam menafsirkan kebenaran. Kenapa kita kok tidak saling menerima perbedaan dan melangkah bersama?”

Menurutku itu adalah sebuah keadilan dalam berpikir. Seharusnya kita sebagai seorang hamba tidak usah mendaku sebagai pemegang kebenaran muthlak hingga berani mengkafirkan dan menghukum orang sesat tatkala berbeda dalam memaknai agama. Dan saya juga yakin, setiap manusia mempunyai penghayatan agama yang berbeda-beda, sesuai dengan kadar keterikatan hatinya dengan Tuhan. Dan jangan pernah juga menyalahkan seseorang yang mendaku atheis, tak bertuhan, jangan-jangan dengan cara itu dia lebih menemukan kedalaman hatinya dan menyelami makna-makna rohani yang tidak mungkin didapat bagi jiwa-jiwa yang tenang dan nyaman akan doktrin turunan.

Hal kedua adalah fanatik. Memang inilah penyakit hati dan pikiran yang paling sulit disembuhkan. Nabi Muhammad juga sangat mewanti-wanti akan hal ini. Fanatik tak hanya menimbulkan jumud dan menolak untuk berpikir jernih, tapi juga mengakibatkan perasaan merasa paling benar sendiri. Dan inilah puncak dari segala kerugian kita hidup di dunia.

Bayangkan ketika kita mau membela dengan bertaruh nyawa hanya demi kelompok, partai, organisasi, aliansi politik yang kita bela. Sungguh sebuah kebodohan yang nyata. Kita lupa bahwa itu hanyalah nafsu, bukan tingkat keimanan yang semakin bertambah tatkala kita melakukannya. Sejarah juga telah mencatat bagaimana fanatisme kesukuan hingga fanatisme agama yang berujung pada pertumpahan darah.

Baca juga:  Puisi, Novel, dan Ruang Akhirat

Dari sini kita bisa belajar kembali segala hal yang telah diajarkan oleh agama melalui perenungan yang dalam, hati yang bersih serta pikiran yang jenih adalah kunci dalam memahaminya.

Lepas semua ego dan nafsu dengan mencari guru dan mursyid- yang dapat membimbing kita memahami agama dengan pemahaman dan ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad. Oleh karena itu, disinilah pentingnya sanad keilmuan. Agar kita semakin paham bagaimana mulianya sebuah ilmu pengetauhan di mata Islam itu sendiri.

Ketika kita dapat menghayati laku agama yang telah disebutkan di atas, jangankan kita mengkafirkan orang lain, menyebut diri kita seorang muslim pun kita akan malu. Karena kita sadar bahwa itu bukan wilayah kita.

Kita hanya orang yang terus berusaha menjadi seorang muslim, seorang yang membebaskan. Muslim yang selalu peduli sesama makhluk, memikirkan nasib orang lain dan mereka yang terzalimi. Juga seorang yang siap menerima perbedaan, menghormati keberagamaan, mencintai persatuan dan tentunya sebagai jiwa-jiwa yang terus haus akan ilmu pengetauahan dan menjadi manusia-manusia yang pasrah dan tunduk akan kemahabesaranNya.

Mari kita memuslimkan diri kita sendiri, sebelum kita memaksakannya kepada orang lain!

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top