Sedang Membaca
Anak dan Sekolah
Joko Priyono
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Anak dan Sekolah

Ilustrasi Anak Sekolah

Di banyak sudut jalan berhubungan dengan keberadaan fasilitas pendidikan, utamanya sekolah, anak-anak menjadi simbol yang perlu diperhatikan. Simbol itu berupa gambar dua anak dalam papan yang menyiratkan pesan kepada banyak orang berupa: “Hati-hati, banyak anak sekolah!”. Pesan bukan tanpa makna, tetapi ada pertanyaan akan ketersiratan posisi anak yang masing-masing sedang menggendong tas tersebut.

Penjelasan kita temukan dalam majalah Intisari, Juni 1966: “Gambar jang mengesankan anak-anak sedang bergegas takut terlambat, sehingga pusat perhatiannja hanja ditudjukan pada sekolah dan tak melihat kiri-kanan djalan. Maka si pengemudi harus hati-hati!”

Kalimat itu membawa pada permenungan dan penafsiran akan hubungan anak-anak dan sekolah. Ada masa sekolah merupakan tempat yang dirindukan anak-anak dalam waktu apa saja. Mereka terus terngiang akan aktivitas dan keseruan di dalam sekolah. Sekolah menjadi tempat berimajinasi dan melatih diri akan berbagai minat dan bakat yang termiliki oleh tiap siswa.

Konon, terkadang anak-anak merasa jengah maupun bosan berurusan dengan sekolah. Sekolah teranggap menjemukan. Anak-anak lebih mendapati suasana mendukung justru dengan hal-hal di luar sekolah, baik tempat bermain, pendidikan non formal, hingga berasyik-masyuk dalam dunia perselancaran internet. Para orang tua resah akan situasi tersebut. Terbayang-bayang akan ketakutan yang mungkin terjadi.

Baca juga:  Diaspora Santri (5): Muslim di Garis Merah Amerika: Antara Kita dan Blacklivesmatter

Peran Sekolah

Kita diajak untuk menelusri lagi kehadiran sekolah. Ahli matematika yang menekuni isu sains, pendidikan, dan kebudayaan, Iwan Pranoto, menaruh bayangan akan sekolah bak berwisata. Pengakuannya dapat kita temukan dalam bukunya, Kasmaran Berilmu Pengetahuan (2019). Guru sebagai pemandu wisata bagi kehadiran tiap murid. Kita simak penjelasan lebih lanjut: “Selanjutnya, dalam berwisata, setiap wisatawan merasakan sendiri keindahan dan petualangannya dibmbui kesulitan sesuai kemampuannya. Analoginya, murid sendiri juga perlu mengalami, merasakan, dan menikmati keindahan ilmu pengetahuan lengkap dengan merasakan kesulitan belajar sebagai bumbu pengalamannya.”

Konon, anak-anak tumbuh dan berkembang salah satunya melalui kemampuan berimajinasi. Asupan bacaan, cerita, dongeng, hingga folklor menjadi bagian penting dalam membentuk jati diri. Di majalah Tempo edisi 25 Juni 1988, Ignas Kleden menulis kolom berjudul “Gizi dan Puisi”. Tulisan menyoal langkah pendidikan dalam mengajarkan anak akan aspek kekayaan kebudayaan baik secara nasional maupun daerah.

Penegasan yang tersampaikan: ”Dongeng, cerita rakyat, atau folklore umumnya masih mengalami nasib yang tak banyak bedanya dengan peruntungan bahasa-bahasa daerah. Sebagaimana halnya hubungan bahasa daerah dengan bahasa nasional belum dirumuskan dalam suatu kebijaksanaan kebudayaan nasional, demikian pun berbagai cerita rakyat dan dongeng-dongeng setempat belum mendapatkan tempatnya yang layak dalam kepustakaan bahasa Indonesia.”

Baca juga:  Amar Makruf Nahi Munkar, Dakwah dan Rambu-rambunya dalam Agama

Literasi

Sekian waktu, pendidikan menghadapi perdebatan panjang terkait kurikulum hingga arah kebijakan urusan bahasa. Pernyataan Kleden mungkin masih perlu direnungi zaman ini dalam membaca realitas anak-anak dengan sekolah. Meski, secara jujur harus diakui bahwa anak-anak sekarang tak seperti dahulu katakanlah generasi 80-an maupun 90-an. Mereka sebagai anak kandung generasi digital, sejak lahir telah menjadikan teknologi terbaru sebagai genggaman.

Bisa saja, satu perkara serius adalah literasi, tradisi membaca dan menulis bkan lagi menjadi sebuah kebudayaan yang menjadi kesadaran kolektif. Kebudayaan yang berkembang tak lain adalah kekuatan perhatian terhadap aduio visual. Secara tidak sadar, kebudayaan itu membentuk pola, jati diri, hingga kecerdasan kolektif bahwa generasi saat ini terbentuk sebagai penonton. Situasi tersebut agaknya juga dialami oleh seorang pendidik, Bekti Satiani.

Dalam majalah Basis No. 11-12, 2017, esainya “Murid dan Buku” tampil di sana. Gagasannya lahir dari amatan dan pengalamannya yang mungkin di luar sana tak banyak yang memedulikannya. Ia menggambarkan anak-anak sekarang cenderung memperlakukan sebuah buku, dalam amatannya buku tulis dibiarkan saja. Mereka tak tergerak untuk disiplin mencatat, melipat-lipat, hingga terdapati sobekan di beberapa sisinya. Buku terlalu dimanja dan jauh dari arti dalam sesungguhnya kaitannya dengan pendidikan.

Baca juga:  Pengertian, Pensyari’atan, dan Referensi Ilmu Jarh wa Ta’dil

Kemampuan membaca dan menulis memang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Ia mesti dilatih, dibiasakan, dan disokong kesadaran kolektif. Anak-anak tidak bisa hanya dibuai akan kemegahan dan kemewahan perkembangan teknologi terhadirkan bagi umat manusia. Ia membutuhkan cerita dan pola asuh yang terus melatih dirinya: kemampuan intelektual, emosional, hingga spiritual untuk menghadapi zamannya.

Sekolah perlu mengembalikan dirinya sebagai tempat yang nyaman dan asyik bak saat berwisata. Demikian, anak-anak terus bergembira menuju ke sana dengan dibekali rasa ingin tahu, kemampuan bernalar, dan daya imajinasi dalam membaca realitas. Mereka tak butuh hukuman untuk mengantisipasi keterlambatan dalam kehadiran. Sebab, dengan sendirinya masing-masing akan paham apa yang mesti dilakukan untuk saat ini dan keesokan harinya.[]

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top