Sedang Membaca
Abu Yazid, Kedalaman Cinta, dan Tanggung Jawab Sosial (3)
Penulis Kolom

Santri Baitul Kilmah, dan Mahasiswa S2 Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga.

Abu Yazid, Kedalaman Cinta, dan Tanggung Jawab Sosial (3)

Whatsapp Image 2021 07 20 At 23.42.33

“Tidak ada yang lebih mudah bagi kalian daripada mengagungkan saudara sesama muslim dan menjaga kehormatannya. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi kalian daripada saling merendahkan sesama saudara dan menghina kehormatan mereka,” Abu Yazid al-Busthomi.

Ajaran cinta kasih Abu Yazid al-Busthomi berakar pada iman pada Allah dan manifes menjadi cinta kemanusiaan. Karakteristik semacam ini menjadi identitas, menurut Abu Yazid, bagi orang-orang yang ‘arifbillah (mengenal Allah).

Cinta yang humanis dari Abu Yazid tidak saja di dunia ini melainkan dibawa mati hingga ke akhirat kelak. “amalul ‘arifi fid dunnya baqaul iman ma’ahu, wal akhirati al-‘afwu (yakni lil khalqi).” Harapan terbesar orang yang ‘arifbillah di dunia ini adalah mempertahankan iman pada Allah, dan cita-citanya di akhirat adalah memohon ampunan pada Allah bagi seluruh makhluk.

Menyelami cinta Allah sama saja dengan menyelami cinta yang humanis. Bahkan, humanisme kaum sufi juga manifes pada lingkungan, kemakmuran bumi. Kata Abu Yazid, “innallaha ta’ala ja’alal awliya’a nitsaral ardhi. Fa ma li haula-il hussadi!” Sungguh Allah menjadikan para kekasihnya kemakmuran kehidupan di bumi. Lantas apa alasan para pendengki itu?!

Humanisme sufistik seperti itu adalah karomah seorang waliyullah. Abu Yazid menceritakan delapan (8) karomah yang Allah anugerahkan padanya. Pertama, roaitu nafsi muta-akhkhiran wa roaitul khalqa sabaquni. Aku mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diriku sendiri.

Baca juga:  Sufi dan Seni (7): Jalaluddin Rumi dan Ekstase Cinta

Kedua, rodhitu bi an uhroqo binnari badala khalqihi syafaqatan ‘alaihim. Aku rela disiksa di neraka sebagai tebusan bagi seluruh makhluk, sebagai bentuk cinta pada mereka.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketiga, kana qashdi idkhalul farhi fi qalbil mukmin. Tujuan utamaku adalah membuat hati orang mukmin bahagia.

Keempat, la amsik syai-an qaththu li ghad. Aku tidak menabung apapun untuk persiapan hari esok.

Kelima, aroddu rahmatallahi binnasi aktsara mimma arodtuha binafsi. Harapanku akan rahmat Allah kepada manusia jauh lebih besar ketimbang rahmat-Nya untukku sendiri.

Keenam, badzaltu juhdi fi idkhalis sururi ‘alal mukmin wa ikhrajil ghammi min qalbihi. Aku berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan hati orang mukmin dan menghapus penderitaan batinnya.

Ketujuh, ibtada’tu bissalami ‘ala man laqiyani minal mukminin min syafaqati ‘alaihim. Aku terlebih dahulu mengucapkan salam kepada siapapun yang menjumpaiku, sebagai bentuk cintaku pada mereka.

Kedelapan, law ghafarallahu li yawmal qiyamati wa adzina li bissyafa’ati la syafa’tu awwalan man adzani wa jafani tsumma man barrani wa akromani. Andai kelak di hari kiamat Allah mengampuni dosaku dan mengizinkan aku memberikan syafaat, niscaya pertama kali orang yang aku beri syafaat adalah orang-orang yang menyakitiku dan keras padaku, baru kemudian orang yang berbuat baik dan memuliakanku.

Baca juga:  Kisah Pertaubatan Ibrahim Bin Adham

Sekalipun delapan prinsip kemanusiaan di atas merupakan anugerah dan karomah, tetapi ketika Abu Yazid ditanya oleh seseorang tentang cara mendapatkannya, ia menjelaskan metode mendapatkan karomah tersebut. Kata Abu Yazid, “bihi arohum, wa qod afadani ‘anhu subhanahu wa ta’ala.” Allah memberikan anugerah itu padaku, karena aku melihat manusia dengan kacamata Tuhan.

Dalam kesempatan lain, “man nazhara ilal khalqi bi ‘ainil ‘ilmi maqotahum wa haraba ilallahi ‘azza wa jalla. Wa man nazhara ilaihim bi ‘ainil haqiqah ‘adzarahum wa kana thariqan lahum ilaihi.” Barang siapa memandang manusia dengan kacamata ilmu maka ia akan membenci mereka dan akan lari pada Allah. Dan barang siapa yang memandang manusia dengan kacamata hakikat maka akan mentolerir mereka, dan toleransi itu akan menjadi jalan mereka menuju Allah.

Ungkapan lain yang senada, “man nazhara ilal khalqi bil khalqi abghadhahum, wa man nazhara ilal khalqi bil khaliqi rahimahum.” Barang siapa memandang makhluk dengan kacamata makhluk maka akan murka pada mereka, dan barang siapa yang memandang makhluk dengan kacamata Tuhan maka akan menyayangi mereka.

Kecintaan kaum sufi kepada manusia dan ajaran humanisme mereka, seluruhnya berpijak pada Allah. Sufisme dan humanisme bagaikan dua sisi keping uang logam, saling melengkapi. Tidak ada ajaran sufisme yang terpisah dari humanisme, dan tidak mungkin humanisme tertolak oleh kacamata sufistik. Abu Yazid bersama para tokoh sufi lain telah memberikan fondasi-fondasinya yang begitu terang benderang.

Baca juga:  Obituari Jalaluddin Rumi: Haul Nasional Rumi ke -746 Diselenggarakan via Live Streaming

Bahkan, humanisme sekuler sekalipun, yang mengusung ide “l’existence précède l’essence”, “Dieu n’existe pas”, dan “il n’y a pas de nature humaine”, perlu dikaji ulang. Konsep ketuhanan dalam tradisi sufistik sangat erat kaitannya dengan humanisme. Segala yang ada di muka bumi adalah tajalli Allah. Dalam tradisi teologi Asy’ariah disebutkan, salah satu rukun iman adalah percaya bahwa baik-buruk di dunia adalah kreasi Tuhan. Itulah mengapa Abu Yazid mengatakan, bila seseorang memandang/memahami manusia dari kacamata Allah, ia akan mencintai mereka tanpa batas.

(bersambung)

Sumber:

Qasim Muhammad Abbas, Abu Yazid al-Basthami, Damascus: Al-Mada, 2004.

Samih Daghim, Mawsu’ah Mushthalahat al-Asy’ari wa al-Qadhi Abd al-Jabbar, Lebanon: Maktabah Lubnan Nasyirun, 2002.

Jean-Paul Sartre, L’existentialisme est un Humanisme: Folio Essais, Paris: Editions Gallimard, 2017.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top