Sedang Membaca
Mengenal Fachrizal Afandi, Santri di Belanda yang Promosi Doktor Pakai Sarung Batik
Penulis Kolom

Founder Alif.ID. Menulis dua buku humor; Humor Ngaji Kaum Santri (2004) dan Ulama Bercanda Santri Tertawa (2020), dan buku lainnya

Mengenal Fachrizal Afandi, Santri di Belanda yang Promosi Doktor Pakai Sarung Batik

Whatsapp Image 2021 01 24 At 7.50.56 Am (1)

Kamis, 21 Januari 2021, suhu rata-rata di Belanda “cuma” dua derajat. Dikatakan cuma, karena biasanya sudah minus dan turun salju. Namun, Fachrizal Afandi, mahasiswa S3 dari Indonesia, setelah salat Subuh pukul 6.30 waktu setempat, haram tarik selimut lagi, melainkan harus siap-siap menuju kampus, tit pukul sembilan. Lalu pukul sepuluh tepat wajib sudah ada di ruang sidang promosi doktoralnya. Inilah momen yang ditunggu-tunggu, setelah telat beberapa tahun karena, antara lain, terlalu bersemangat mengurusi PCI NU Belanda yang diinisiasi bersama sahabat-sahabatnya.

Dibantu istrinya Ruly Wiliandri, Fachrizal menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Salah satu yang harus disiapkan dan tidak boleh lupa dibawa adalah kopiah hitam dan sarung batik, kostum yang akan dikenakan di depan para professor. Inilah yang tidak biasa dari promosi-promosi doktoral lainnya: kopiah dan sarung, dipadu jas tuksedo hitam yang menjuntai ke bawah.

“Setelah izin ke universitas yang cukup memakan waktu, insya Allah saya akan pakai sarung dan kopiah hitam. Ini pertama setelah Indonesia merdeka,” begitu informasi Fachrizal beberapa hari sebelum pelaksanaan sidang. Lantas dia membagikan foto seorang lelaki yang kita kenal sebagai priayi Jawa peraih doktor pertama di Belanda Husein Djajadiningrat. Dalam selembar foto itu, Husein Djajadiningrat lengkap memakai blangkon, beskap, dan kainnya serta keris tampak menyelinap di balik pinggangnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Dari awal kuliah sudah pengen pakai sarung dan kopiah saat ujian nanti. Inspirasi saat lihat patung husein jayadiningrat, PhD dari priayi Jawa pertama di Leiden. Saya lihat meski banyak teman-teman mahsiswa islamic studies di Leiden, tapi kok ndak pernah menunjukkan tradisi santri berupa kopyah dan sarung ini. Meski saya kuliah hukum, tapi keterlibatan di NU mendorong saya untuk promosi tradisi santri ini. Izin ke universitas untuk memakai pakaian mirip Husein tapi ala santri,” jelasnya. Pada hari yang dekat, dia pesan sarung batik merek Lar Gurda, yang diporduksi oleh Pesantren Al-Muayyad Solo, Jawa Tengah.

“Saya memilih batik karena pernah melihat Gus Mus mengenakannya,” kisahnya.

Dengan mengayuh sepeda, Fachrizal, Ruly, dan dua anaknya Danis (8 tahun) serta Shafwa (5 tahun) menuju gedung Academie gebouw di area Universitas Leiden.

Anak Madrasah

Fachrizal Afandi lahir di Malang Jawa Timur, tanggal 9 April 1981. Ayahnya almaghfurlah H Abdul Syukur merupakan aktivis NU setempat. Ibundanya, Hj Nur Latifatus sa’diyah, wafat saat Fachrizal duduk di kelas dua SD. Dia adalah anak ketiga dari enam bersaudara.

Umumnya anak NU, Fachrizal menempuh pendidikan agama di pesantren, tepatnya di Pesantren Ilmu Al Quran Malang di bawah asuhan almarhum KH M Bashori Alwi.

Di sana pula dia menyelesaikan pendidikan menengah, yakni di Madrasah Aliyah Al Ma’arif Singosari (1999). Madrasah milik NU ini termasuk tua, dan menjadi salah satu madrasah terbaik di Malang. “Saya ini sudah anak madrasah, Ma’arif pula,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Baca juga:  Kaidah Al-Itsar dan Nasihat Gus Dur

Namun setelah lulus dari pesantren dan madrasah aliyah, dia tidak melanjutkan studi agama. “Kuliahnya di UIN, tapi bukan ‘agama’, melainkan bidang psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Maulana Malik Ibrahim,” lanjutnya. Tetapi pada saat yang sama, dia juga mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Tahun 2004, dia menyelesaikan dua jenjang kesarjanaan sekaligus: Fakultas Psikologi di UIN dan Fakultas Hukum Unibraw. Sekolah dua jalur sekaligus agak lazim di keluarga NU, terutama yang anaknya punya minat kuliah di perguruan tinggi umum, tapi pendidikan dengan “label agama” tidak ditinggalkan. Sekolah umum untuk menuntaskan bakat, sekolah agama untuk menyenangkan hati orangtua, begitu alasan yang lazim dikemukakan anak-anak NU yang ambil dua jalur sekolah. Tetapi, tidak banyak yang “selamat”, kebanyakan satunya tinggal. Nah, Fachrizal berhasil meraih dua-duanya. Luar biasa!

Setelah lulus, Fachrizal meniti karir sebagai advokat. Dia lulus dan dilantik menjadi bagian dari Perhimpunan Advokat Indonesia(PERADI). Pada 2007, dia menyelesaikan Magister Hukum di Universitas Brawijaya.

Tahun 2008, Fachrizal diangkat sebagai pengajar di Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia mengajar beberapa mata kuliah, antara lain Hukum Pidana, Hukum Pidana Islam, Hukum Acara Pidana, Antropologi Hukum, Sistem Peradilan Pidana, dan Metode Penelitian Hukum.

Selain mengajar, Fachrizal pernah menjabat sebagai sekretaris Kantor Bantuan Hukum Universitas Brawijaya (2009-2013), penggagas Pusat Pengembangan Studi Sosio Legal. Dia juga anggota pengurus Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia (MAHUPIKI) dan pendiri Perhimpunan Dosen Hukum Pidana Indonesia (DIHPA Indonesia).

Dari tahun 2012 hingga 2014, ia menerima hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memungkinkannya untuk mengerjakan penelitian multitahun tentang korupsi, sistem peradilan pidana, dan politik pemerintah daerah.

Pada tahun 2013, Fachrizal menerima Beasiswa dari DIKTI-Leiden, yang memungkinkannya untuk melakukan penelitian PhD tentang “Kejaksaan di Indonesia pada masa rezim post otiriter” di Van Vollenhoven Institute for Law, Governance and Society (VVI) dan Institute of Criminal Law and Criminology at Leiden Law School, dibawah bimbingan Prof. Dr. Adriaan W. Bedner dan Prof. Dr. Jan H. Crijns.

Untuk proyek disertasi ini, dia melakukan penelitian lapangan selama satu setengah tahun di sejumlah kejaksaan di beberapa daerah di Indonesia. Selama melakukan penelitian lapangan, ia mendirikan Pusat Pengembangan Riset Sistem Peradilan Pidana di Universitas Brawijaya (atau PERSADA UB), untuk mempromosikan penelitian multidisiplin tentang masalah peradilan pidana.

Mendirikan NU

Di Belanda, dia tidak cuma berkutat kuliah, tapi aktif di kegiatan keagamaan. Tak hanya itu, bersama para senior dan sahabat-sahabatnya Fachrizal mendirikan cabang khusus Nahdlatul Ulama di Belanda (PCI-NU Belanda).

Baca juga:  Ilmuwan Besar dalam Dunia Islam (10): Al-Mas'udi, Sejarawan dan Ahli Geografi

Mula-mula, NU di Belanda hanya komunitas keagamaan saja dan KMNU. Kegiatannya tradisi-tradisi keagamaan seperti tahlil, Yasinan, selawatan, dan lain sebagainya. Itu berlangsung lama.

Pada tahun 2014, baru didirikan secara resmi bernama PCI NU Belanda. Fachrizal, Muhammad Shohib, Ahmad Nuril Huda, Muhammad Latif Fauzi, Syahril Shiddiq, Ibnu Fikri, Fahrizal Yusuf Affandi, Muhammad As’ad, Yus Boersma dan lain-lain dilantik oleh KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang waktu itu di menjadi Pejabat Rais Am PBNU. Dan Fachrizal menjadi ketua PCI NU Belanda, mendampingi sang rais, KH. Nur Hasyim.

“Apakah tidak mengganggu studi Anda?” begitu pertanyaan yang kerap didengar Fachrizal terkait keterlibatannya dalam NU. Pertanyaan itu termasuk datang dari pembimbingnya. Dia menjawab bahwa kegiatan di NU justru memberi semangat dan berkah. “Oleh teman-teman NU kan saya juga ditanya kapan ujiannya. Ini pertanyaan bagus, meski susah menjawabnya,” kata Fachrizal mengenang masa-masa “genting” menyelesaikan disertasi. Selain itu, dia rajin juga menulis baik populer di media daring atau berbagai artikel ilmiah di jurnal, serta buku co-author di bidang penelitian sosiolegal, hukum pidana, hukum acara pidana, dan reformasi peradilan pidana di Indonesia.

Di era dia pula, beberapa konferensi internasional di Belanda tentang Islam Nusantara yang moderat dan masih berlanjut sampai sekarang. PCI NU Belanda juga menjadi jujugan orang-orang Indonesia yang hendak melakukan kegiatan seperti penelitian, diskusi, hingga shooting film. Dan yang diterima PCI NU tidak sebatas Nahdliyin, tetapi orang-orang Indonesia di luar NU. Fachrizal dan sahabat-sahabat lainnya sekuat tenaga membuat citra NU di Belanda sebagai organisasi bisa menjadi teman siapa saja.

“Dia adalah sosok pekerja keras, tangguh, tak pernah menyerah. Ini harus menjadi motivasi bagi yang lainnya yang sedang studi. Dharma baktinya untuk NU Belanda tak dapat diragukan lagi. Sejak kecil menjadi santri sampai sekarang jiwanya tetap santri,” kata Muhammad Latif Fauzi, ketua PCI NU Belanda, periode 2019-2021.

Sementara itu Muhammad Rodlin Billah, Ketua PCI NU Jerman mengaku bahwa dirinya tidak terlalu sering berinteraksi dengan Fachrizal, namun saat menghadiri konferensi Islam Nusantara di Vrije Universiteit Amsterdam 2017 kaget. “Ini kenferensi sebesar ini yang didatangi para intelektual dari berbagai negara tidak akan terlaksana dengan baik, jika Mas Fachrizal tidak bisa memimpin. Kesantunan, kebijaksanaan, dan visi Mas Fachrizal saya kira sangat menonjol pada dirinya,” ujarnya.

“Mas Fachrizal menjadi salah seorang pembicaranya, meninjau New Normal Covid-19 yang diterapkan pemerintah RI dari sudut pandang ilmu hukum. Sejak tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi, saya banyak belajar darinya mengenai sudut pandang yang sama sekali belum pernah terpikirkan Meski ide/sudut pandang yang disampaikan oleh beliau mendekati konsep ideal, namun oleh dia dapat menerjemahkannya secara praktis,” kata Rodlin Billah menceritakan pengalamannya dalam webinar tentang covid-19 beberap waktu lalu.

Baca juga:  Obituari: Kenangan Kecil dengan Arief Budiman

Bagi Fachrizal, NU bukanlah halangan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dia justru memandangnya sebagai penopang. Begitu juga istrinya yang sama-sama menempuh S3 di kampus yang sama. “Kami harus sama-sama tumbuh, saya dan istri saling menopang. Begitu juga tugas kuliah dan organisasi NU, harus berjalan beriringan, meski berat,” ceritanya.

Ruly Wiliandri, istri Fachrizal, menyampaikan keluhnya terkait kesibukan keluarganya. “Dua anak kami masih kecil, kami sama-sama kuliah. Pastilah merasa berat, apalagi pas sama-sama deadline dari kampus, tensi di rumah jadi menghangat..haha.. Harus pintar mengelola emosi,” cerita Ruly yang dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Malang.

“Sukanya selama di Belanda menjadi lebih dekat dengan keluarga karena kerjaan suami hanya fokus di kampus, beda saat di tanah air yang karena kesibukan jarang di rumah,” pungkasnya. Ruly Wiliandri menempuh studi S3 di Leiden.

Menekuni Tema Jaksa

Disertasi Fachrizal berjudul Maintaining Order: Public Prosecutors in Post-Authoritarian Countries, the case of Indonesia. Fachrizal mengatakan disertasinya memberikan gambaran yang komprehensif tentang peran jaksa penuntut umum di Indonesia pasca rezim otoriter Orde Baru, baik dalam mempromosikan supremasi hukum dan dalam mempertahankan status quo.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lebih dari lima tahun, dia menelusuri perkembangan kejaksaan Indonesia, secara historis dan politik, mengeksplorasi apa dan siapa yang memengaruhi kinerjanya, serta bagaimana kejaksaan dalam praktiknya.

“Kasus Indonesia merupakan contoh bagaimana layanan penuntutan berkembang di negara-negara yang ditandai oleh kecenderungan otoriter. Disertasi ini menunjukkan bagaimana berbagai rezim memposisikan jaksa penuntut umum sebagai tukang pos, yang menyampaikan kasus berdasarkan kepentingan pemerintah, serta kepentingan aktor kuat lainnya, seperti partai politik, perusahaan, atau kepolisian. Situasi seperti ini biasa terlihat di negara otoriter, di mana pemerintah mendominasi kekuasaan politik, dan jaksa penuntut umum menjadi alat pemerintah dalam menjaga ketertiban dan stabilitas politik,” jelasnya.

Fachrizal yang April nanti genap berumur 40 tahun berhasil mempertahankan disertasinya di depan Prof. Dr. Maartje van der Woude, Prof. Dr. Ward .J. Berenschot Universiteit van Amsterdam, Prof. Dr. Topo Santoso Universitas Indonesia, Prof. Dr. Melissa Crouch University of South Wales Australia, Prof. Dr. David . Henley Universitas Leiden, dan Prof. Dr. Mr. Jeroen ten Voorde Universitas Leiden.

Pada lembaran-lembaran awal disertasi setebal 284 halaman, Fachrizal menuliskan persembahan untuk mendiang ayahandanya, “To my late father, abah H Abdul Syukur (1941-2006) Completing this book was nothing compared his tireless strugles to educate and take care of our family.”

Segera setelah prosesi sidang selesai, dia berfoto di sisi patung Husein Djajadiningrat.

1 Fachrizal Affandi

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
4
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
4
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top