Menyebut Diri sebagai Sufi

Fadh Ahmad Arifan M.Ag

Ada tiga teori munculnya pemakaian istilah atau term sufi. Berdasar tulisan Dr. Fahd bin Sulaiman al-Fuhaid tentang Sejarah Sufi (2012), bahwa orang yang pertama kali dikenal sebagai sufi adalah Abu Hsyim al-Kufi (wafat 162 H).

Teori yang lain menyebutkan bahwa Abdak, singkatan dari Abdul Karim (w. 210 H) adalah yang pertama  menyebut diri sebagai sufi. Sementara Ibnun Nadim menyebutkan bahwa Jabir bin Hayyan, seorang murid Ja’far ash-Shadiq, wafat pada 208 H, itulah yang pertama kali menamakan diri sebagai sufi.

Salah satu tokoh pers Indonesia, Rosihan anwar bercerita, “Buya Hamka menulis  Tasawuf Indonesia. Oleh karena itu, saya bertanya kepada Hamka, apakah beliau sufi?”. Pada awal 1960-an ia menjawab dalam bahasa Minang,”Ha indak, ambo mengaji-ngaji sajo” (Ya tidak, saya mengaji-ngaji saja). Jadi, Hamka menyangkal dirinya seorang sufi.

Masih menurut Rosihan Anwar di dalam buku Sejarah kecil “petite histoire” Indonesia, Volume 2 (Kompas, 2009),”Memang susah menjelaskan sufi dan tasawuf, apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam sebuah tarekat yang dipimpin oleh seorang Syeikh. Sebagai orang awam, tentu terlebih-lebih saya tidak punya bakat untuk memahami sufi dan ajarannya.”

Lantas, siapakah di dunia ini yang benar-benar pantas disebut sufi? “Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya empat perkara: malas, suka makan, suka tidur, dan berlebih-lebihan”, kata Imam Syafi’i. Dalam buku Tasawuf dan Ihsan (Serambi, 2007), Abul Hasan as-Sirwani berkata, ”Seorang sufi adalah yang memperdulikan keadaan spiritualnya dan sekaligus amal-amal lahiriahnya”.

Baca juga:  Melihat Indonesia Melalui Seni

Apabila mencermati definisi yang diberikan oleh Imam Syafi’i dan Hasan as-Sirwani, bisa dipastikan bahwa di dunia ini Cuma ada dua jenis sufi. Seorang sufi yang hanif (lurus) dan sufi gadungan. Kita tidak tahu persis, lebih banyak mana jumlah populasi sufi yang hanif dibandingkan sufi gadungan. Jangan sufi, jumlah populasi waliyullah pun hanya Allah Swt yang mengetahui.

Apakah menjadi sufi harus bergabung ke dalam tarekat tertentu? tidak mesti begitu.

Faktanya, dalam sejarah peradaban Islam, ada Rabi’atul ‘Adawiyah yang menjadi sufi tanpa bergabung dalam tarekat sufi. Justru sebelum menjadi sufi, pada mulanya Rabi’ah adalah hamba sahaya. Kemudian Bisyr al-Harits, Hilmy Firdausy di laman nu.or.id (3 Mei 2016) menyatakan Bisyr adalah mantan berandal yang akhirnya menjadi waliyullah. Hidup sezaman dengan Imam Ahmad bin Hanbal.

Baca Juga
Sabilus Salikin (15): Suluk 2

Seorang sufi selain membatasi hal-hal yang bersifat duniawi, tentunya tutur kata dijaga sebaik mungkin. Sehingga sepanjang hidupnya, dari bibirnya hanya keluar nasihat atau petuah-petuah yang bermanfaat.

Sebelum munculnya motivator-motivator di layar kaca dan media sosial, para sufi terlebih dulu mewariskan berbagai petuah-petuahnya. Wallahu’allam.

 

Lihat Komentar (1)
  • Kalau tak salah, dalam Tasawuf Modern, HAMKA menyebut Ibrahim bin Adham sebagai sufi yang pertama. Cerita tentang sufi ini ada di dalam Mawaidz al Usfuriyah. Sementara untuk istilah sufi, saya juga dapat wacana kalau istilah itu berasal dari jamaah shalat di shaf pertama, pada zaman Nabi. #sekadarnambah

Komentari