Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Berpuisi Kota Suci

Satu hari di Jerusalem seperti seribu hari, satu bulan seperti seribu bulan, dan satu tahun seperti seribu tahun. meninggal di sana seperti dalam langit pertama surga. (Kaan Al Ahbar, Fadail)

Dulu, Jerusalem adalah pusat dunia. Sekarang, Jerusalem menjadi pusat perdebatan politik global. Jerusalem sebagai rumah Tuhan terlalu diperebutkan oleh kepentingan agama, politik, dan peradaban.

Simon Sebag Montefiore dalam buku berjudul Jerusalem (2012) mengutip pendapat Benjamin Disraeli: “Pandangan tentang Jerusalem adalah sejarah dunia, bahkan lebih, ia adalah sejarah langit dan bumi.” Umpama itu menunjukkan Jerusalem teramat penting bagi sejarah dunia berdasarkan keimanan dan politik.

Sejak ribuan tahun silam, para penguasa saling berebut Jerusalem. Mereka bertempur membawa panji-panji kekuasaan dan agama. Semua mengakibatkan kematian ribuan orang, dari waktu ke waktu. Mengapa Jerusalem?

Kita bisa meneropong Jerusalem di masa lalu seperti kota penentu kekuasaan dunia. Jerusalem itu sumber kebesaran dan kesucian. Agama pun menjadi pokok paling menentukan perebutan dan dominasi di Jerusalem. Semua tercatat di  Talmud dengan pesan: “Sepuluh ukuran keindahan turun ke dunia, sembilan diberikan pada Jerusalem, cuma satu untuk seluruh dunia.”

Jerusalem, kota terpenting di dunia selama berabad-abad. Jutaan orang beribadah, berziarah, berperang di Jerusalem. Mereka memiliki dalih-dalih untuk datang, hidup, menguasai, dan mati di Jerusalem. Bangunan-bangunan suci di Jerusalem adalah bukti kota itu memang pilihan Tuhan. Jerusalem diakui kota bagi kaum beriman sekaligus kota incaran kaum penoda iman demi raihan  kekuasaan bersifat duniawi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Membela dengan Sastra

Di sejarah Islam, Jerusalem itu kota suci, tempat pertemuan Muhammad dengan para nabi pendahulu. Di Masjidil Aqsa terletak di Jerusalem, Muhammad menjalankan perintah Allah. Jerusalem memiliki arti religius bagi umat Islam. Sejarah kekhalifahan pun mengabarkan kebermaknaan Jerusalem. Sibani mengungkapkan:

“Seorang penguasa tak dianggap sah sebagai khalifah jika tidak berkuasa atas kedua tempat suci, Mekkah dan Jerusalem.”

Di sejarah Yahudi dan Kristen, Jerusalem pun diakui kota suci, rumah Tuhan. Jerusalem adalah kota untuk ibadah, kota mengukuhkan iman. Sejarah iman bertumbuh di Jerusalem sering bersinggungan dengan konflik politik-ekonomi. Kesucian Jerusalem memang dirasakan dalam ibadah dan ziarah tapi nafsu kekuasaan tak jua hengkang. Jerusalem terus menjadi sasaran persaingan kekuasaan.

Perang fenomenal tentu Perang Salib, perang mengatasnamakan agama dengan menimbulkan kebencian dan dendam. Pembantaian dan pembunuhan, terjadi di kota suci. Darah, ratapan, dan tangisan menjadikan Jerusalem saksi kesedihan susah tersembuhkan. Berdukalah kota milik tiga agama: Yahudi, Kristen, Islam. Sakralitas Jerusalem diagungkan dalam sejarah iman mereka telah rusak oleh nafsu kekuasaan kebablasan.

Jerusalem sering berdarah tapi umat manusia selalu menghormati sebagai kota suci. Kota dambaan para hamba untuk dekat pada Tuhan. William Shakespeare mengakui bahwa Jerusalem itu dambaan orang-orang ingin bertemu kebahagiaan.

Baca juga:  Tadarus Puisi: Dakwah Kreatif Anak Muda

Abraham Lincoln mengimpikan Jerusalem, mimpi pernah disampaikan pada istri: “Betapa aku ingin sekali mengunjungi Jerusalem, suatu saat.” Wiston Churcill mengakui jika Jerusalem adalah kota sangat berarti bagi umat manusia. Pengakuan dan penghormatan justru tak lekas merampungkan konflik berdarah.

Perebutan Jerusalem mungkin takdir. Sejarah penaklukkan dari berbagai penguasa mengesankan Jerusalem tak akan pernah kehilangan pesona. Jerusalem tetap kota suci, kota mendamaikan iman bagi Yahudi, Kristen, dan Islam. Harapan itu selalu ada meski usaha ke arah perdamaian sering gagal, mendapat ganjalan politik dan ekonomi berbau konspiratif.

Kini, Jerusalem jadi tema terpanas bermula dari ulah Israel dan Amerika Serikat. Para pemimpin dunia dan tokoh agama memberi seruan melawan kebijakan Donald Trump. Jerusalem dibarakan politik ketimbang dimengerti kota milik kaum beriman sedunia. Israel telah tampil ingin jadi “pemenang” dan “penguasa utama” di Jerusalem.

Palestina semakin diremehkan dan dihabisi dengan persekongkolan besar. Orang-orang di dunia perlahan mengingat deretan ikhtiar Palestina dalam menghadapi Israel. Perlawanan belum berhenti meski sering menanggung kalah.

Sejarah kalah secara politik dan militer ditebus gubahan puisi-puisi oleh para pujangga tenar. Mahmoud Darwish (1941-2008) menulis Palestina dengan kata-kata mencekam, geram, sendu, dan heroik. Puisi impresif dipublikasikan untuk mengisahkan Palestina bagi dunia, berjudul Aku Menyaksikan Pembantaian, 1977: Aku menjadi saksi pembantaian/ Aku seorang korban dari peta buatan/ Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan/ Aku melihat karol beterbangan/ Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan/ Ketika mereka menutup pintu-pintu perbatasan hatiku/ Memasang barikade dan menetapkan jaman malam/ Jiwaku berubah jadi lembah Orang-orang di Palestina adalah korban, sanggup melawan dan menuai pengharapan meski sering tertunda.

Baca juga:  Tradisi Dugderan di Semarang, Penanda Hari Raya Telah Tiba

Harun Hashim Rashid menulis puisi berjudul Orang Palestina, representasi perlawanan heroik. Puisi mengenai identitas dan pertaruhan di Palestina:

Orang Palestina/ Begitulah namaku/ Nama yang gaduh/ Nama yang duka// Mata mereka mengincar/ Membunuh dan mengejar/ Karena aku orang Palestina.

Ingat, Palestina tak bisa mati meski Israel terus memberi peluru dan bom. Orang-orang Palestina tak bakal kehilangan identitas meski diburu, dipenjara, disiksa, dibunuh. Kisah kekejian dan kerakusan Israel membuat Palestina semakin sadar dengan identitas dan kepemilikan negeri.

Puisi-puisi itu bakal bertambah dengan puisi-puisi mengenai Jerusalem saat mendapatkan definisi politik oleh Israel-Amerika Serikat. Puisi memang berbeda dari bedil dan bom. Puisi tetap saja digubah dan dibacakan agar orang-orang tak gampang menodai Jerusalem dengan pamrih-pamrih kekuasaan dengan menghinakan iman. Begitu.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top