Sedang Membaca
Andries Teeuw dan Khazanah Sastra di Indonesia
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Andries Teeuw dan Khazanah Sastra di Indonesia

Pada 12 Agustus 2021, sastra Indonesia mungkin masih menggairahkan. Orang-orang masih keranjingan menulis puisi, cerita pendek, dan novel. Sekian koran tak sanggup lagi memberi halaman-halaman untuk gubahan sastra. Keramaian sastra masih terbaca bila bergawai. Orang-orang masih memerlukan membeli buku-buku menuruti selera sastra. Anggaplah sastra di Indonesia tak sekarat akibat wabah. Di luar anggapan gairah, orang-orang sastra tak lupa bertengkar atau membuat keributan. Kita mengira itu hiburan atau iseng ketimbang sepi-sepi saja. Pada 12 Agustus 1921, Andries Teeuw lahir di Gorinchem, Belanda. Pada saat ia dewasa “termiliki” Indonesia setelah tekun membuat studi-studi sastra. Semula, ia mengurusi sastra klasik atau kuno dengan melakukan suntingan teks. Pada ketekunan berbeda, ia malah diakui sebagai kritikus sastra (berbahasa) Indonesia bercap baru atau modern. Ia “dimiliki” dalam perkembangan sastra dan studi sastra di Indonesia, sejak masa 1950-an. Kita tak membaca berita atau mendapat ajakan dari umat sastra di Indonesia untuk membuat peringatan seabad A Teeuw. Agustus berlalu tapi nama itu belum teringat dan “tercatat” lagi bagi orang-orang sastra mengalami kemeriahan sastra bergawai abad XXI. Ia milik masa lalu saja dengan buku-buku tercetak dan perbincangan sering akademis. A Teeuw memberi ceramah dalam peringatan 64 tahun Balai Pustaka, 22 September 1981. Ia dihadirkan sebagai bukti “menjadi bagian dari kita”. A Teeuw mengerti segala ulah dan kebijakan kebahasaan dan kesastraan sejak masa kolonial sampai kemunculan rezim Orde Baru. Berceramah di Balai Pustaka seperti keterjalinan selaras sejak ia bersuka cita ditugaskan ke Indonesia masa 1950-an untuk mengajar sastra. Sarjana asal Belanda itu berperan dalam jalinan-jalinan institusi memiliki masa lalu politik-keaksaraan. Pada 1982, tulisan untuk ceramah itu diterbitkan menjadi buku tipis berjudul Khazanah Sastra Indonesia. Buku tak terlalu berpengaruh dibandingkan buku-buku lain: Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru, Tergantung Pada Kata, Membaca dan Menilai Sastra, atau Sastra dan Ilmu Sastra. Ia tak cuma menulis kajian sastra tapi menulis pula buku pelajaran bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda. Studi tentang novel-novel Pramoedya Ananta Toer pun diterbitkan tapi jarang diakui sebagai puncak perhatian atas sastra modern di Indonesia. A Teeuw terlalu mengagumi khazanah sastra di Indonesia. Ia mengatakan: “Dari segi banyaknya bahan sudah jelaslah bahwa ‘pembabadan’ kekayaan sastra ini merupakan tugas raksasa.” Ia tak sanggup menghitung dengan kelimpahan sastra di Indonesia beragam bahasa dan pengaruh, dari masa ke masa. Ia cuma sanggup berperan kecil: “menerbitkan teks klasik secara ilmiah, dengan segala aspeknya seperti memperbandingkan naskah, menerjemahkannya ke dalam bahasa lain, menjelaskan artinya dan latar belakang sosio-budayanya, belum terhitung interpretasi yang menyeluruh.” Ia selalu berulang mengakui: “Khazanah sastra Indonesia merupakan kekayaan dan keragaman yang tak terhingga.” Kegandrungan atas (sastra) Indonesia makin dikuatkan dengan pemberian Hadiah A Teeuw. Nama itu telah menjadi persembahan terindah bagi Indonesia, tak cuma dalam sastra. Pada 1992, penerima hadiah adalah Goenawan Mohamad. Sekian hari lalu, tokoh itu berusia 80 tahun, masih bergairah mengurusi sastra, diimbuhi menjadi perupa. Goenawan Mohamad mengatakan: “Uraiannya tentang apa yang telah saya kerjakan, pujiannya, berhasil menimbulkan kembali kepercayaan saya kepada diri saya sendiri, seorang penyair di suatu masa ketika puisi salah dihargai.” Pada suatu hari, kita mungkin bakal mendapatkan “sambungan” dengan pemberian “Hadiah Goenawan Mohamad” selaku tokoh berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia. Ia bisa meniru bakti atau persembahan A Teeuw untuk Indonesia. Begitu.

Pada 12 Agustus 2021, sastra Indonesia mungkin masih menggairahkan. Orang-orang masih keranjingan menulis puisi, cerita pendek, dan novel. Sekian koran tak sanggup lagi memberi halaman-halaman untuk gubahan sastra. Keramaian sastra masih terbaca bila bergawai. Orang-orang masih memerlukan membeli buku-buku menuruti selera sastra. Anggaplah sastra di Indonesia tak sekarat akibat wabah. Di luar anggapan gairah, orang-orang sastra tak lupa bertengkar atau membuat keributan. Kita mengira itu hiburan atau iseng ketimbang sepi-sepi saja.

Pada 12 Agustus 1921, Andries Teeuw lahir di Gorinchem, Belanda. Pada saat ia dewasa “termiliki” Indonesia setelah tekun membuat studi-studi sastra. Semula, ia mengurusi sastra klasik atau kuno dengan melakukan suntingan teks. Pada ketekunan berbeda, ia malah diakui sebagai kritikus sastra (berbahasa) Indonesia bercap baru atau modern. Ia “dimiliki” dalam perkembangan sastra dan studi sastra di Indonesia, sejak masa 1950-an.

Kita tak membaca berita atau mendapat ajakan dari umat sastra di Indonesia untuk membuat peringatan seabad A Teeuw. Agustus berlalu tapi nama itu belum teringat dan “tercatat” lagi bagi orang-orang sastra mengalami kemeriahan sastra bergawai abad XXI. Ia milik masa lalu saja dengan buku-buku tercetak dan perbincangan sering akademis.

A Teeuw memberi ceramah dalam peringatan 64 tahun Balai Pustaka, 22 September 1981. Ia dihadirkan sebagai bukti “menjadi bagian dari kita”. A Teeuw mengerti segala ulah dan kebijakan kebahasaan dan kesastraan sejak masa kolonial sampai kemunculan rezim Orde Baru. Berceramah di Balai Pustaka seperti keterjalinan selaras sejak ia bersuka cita ditugaskan ke Indonesia masa 1950-an untuk mengajar sastra. Sarjana asal Belanda itu berperan dalam jalinan-jalinan institusi memiliki masa lalu politik-keaksaraan.

Baca juga:  Kiai Afif

Pada 1982, tulisan untuk ceramah itu diterbitkan menjadi buku tipis berjudul Khazanah Sastra Indonesia. Buku tak terlalu berpengaruh dibandingkan buku-buku lain: Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia BaruTergantung Pada KataMembaca dan Menilai Sastra, atau Sastra dan Ilmu Sastra. Ia tak cuma menulis kajian sastra tapi menulis pula buku pelajaran bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda. Studi tentang novel-novel Pramoedya Ananta Toer pun diterbitkan tapi jarang diakui sebagai puncak perhatian atas sastra modern di Indonesia.

A Teeuw terlalu mengagumi khazanah sastra di Indonesia. Ia mengatakan: “Dari segi banyaknya bahan sudah jelaslah bahwa ‘pembabadan’ kekayaan sastra ini merupakan tugas raksasa.” Ia tak sanggup menghitung dengan kelimpahan sastra di Indonesia beragam bahasa dan pengaruh, dari masa ke masa. Ia cuma sanggup berperan kecil: “menerbitkan teks klasik secara ilmiah, dengan segala aspeknya seperti memperbandingkan naskah, menerjemahkannya ke dalam bahasa lain, menjelaskan artinya dan latar belakang sosio-budayanya, belum terhitung interpretasi yang menyeluruh.” Ia selalu berulang mengakui: “Khazanah sastra Indonesia merupakan kekayaan dan keragaman yang tak terhingga.”

Kegandrungan atas (sastra) Indonesia makin dikuatkan dengan pemberian Hadiah A Teeuw. Nama itu telah menjadi persembahan terindah bagi Indonesia, tak cuma dalam sastra. Pada 1992, penerima hadiah adalah Goenawan Mohamad. Sekian hari lalu, tokoh itu berusia 80 tahun, masih bergairah mengurusi sastra, diimbuhi menjadi perupa. Goenawan Mohamad mengatakan: “Uraiannya tentang apa yang telah saya kerjakan, pujiannya, berhasil menimbulkan kembali kepercayaan saya kepada diri saya sendiri, seorang penyair di suatu masa ketika puisi salah dihargai.” Pada suatu hari, kita mungkin bakal mendapatkan “sambungan” dengan pemberian “Hadiah Goenawan Mohamad” selaku tokoh berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia. Ia bisa meniru bakti atau persembahan A Teeuw untuk Indonesia. Begitu.

Baca juga:  Ulama Banjar (50): H. Bijuri
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top