Sedang Membaca
Pandangan Habib Luthfi tentang Tasawuf dan Penyakit Hati yang Mengerikan

Penulis adalah redaktur pelaksana Alif.id. Bisa disapa melalui akun twitter @autad.

Pandangan Habib Luthfi tentang Tasawuf dan Penyakit Hati yang Mengerikan

Habib Luthfi memberikan plakat simbolis kepada Syekh Muhammad Rajab Dieb pada penutupan acara Muktamar Sufi Internasional 2023. Foto: Autad/Alid.id

Dalam penutupan acara Muktamar Sufi Internasional atau World Sufi Assembly 2023 di Sahid International Convention Centre Pekalongan (31/8), Habib Luthfi memberikan pandangannya tentang makna tasawuf dihadapan ribuan hadirin.

Banyak pandangan yang menganggap bahwa tasawuf itu pandainya hanya duduk, memutar tasbih (wiridan) saja, dan kurang peduli terhadap realitas sosial, sehingga jarang orang yang mau masuk tasawuf karena takut kalau sudah masuk tasawuf itu takut pada dunia, tidak mau menyentuh dunia sama sekali.

Habib Luthfi menyatakan bahwa pemahaman-pemahaman ini perlu kita luruskan.

Tasawuf adalah pembersih, taswiyatul qulub, bagaimana hati kita ini selalu bersih. Kalau kita mandi, cuci muka, itu ada airnya, mau tayammum ada debunya, setiap hari kita tidak bisa terlepas dari aktivitas membersihkan fisik, mau mandi, cuci muka, ada airnya, tetapi bagaimana kita membersihkan hati kita yang tak kasat mata?

Oleh sebab itu, salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk membersihkan hati adalah dengan melalui thariqah. Tujuannya tidak lain adalah untuk membersihkan hati kita.

Habib Luthfi menggambarkan, andai kata penyakit luar seperti kanker, kita bisa mendiagnosanya, tetapi kalau penyakit hati siapa yang tahu? seperti takabbur, dengki, hasud, tidak senang melihat orang senang, tapi hatinya malah senang kalau melihat orang lain itu susah, ada juga oknum yang senang kalau melihat negara kita ini pecah belah, rakyat tidak akur. Itulah penyakit-panyakit hati yang sangat mengerikan.

Baca juga:  Sembilan Rekomendasi GUSDURian Untuk Indonesia

Habib menyarankan untuk mengganti sifat-sifat yang tidak baik itu dengan kalimat “Laa ilaaha illallah, Sayyidina Muhammadur Rasulullah Shallahhu ‘alaihi Wasallam”.

Dari kalimat itu lalu masuklah cahaya atau nur ilahiah yang meresap ke dalam setiap tubuh manusia. Tidak cukup pada hati saja, namun cahaya tersebut akan mewarnai sampai pola pikir, otak dan akal kita, sehingga tidak akan pernah memikirkan bagaimana keuntungan pribadi, tetapi yang dipikirkan adalah peranan umat dan bagaimana kesejahteraan umat. Baik di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, dan lain sebagainya.

Habib Luthfi menyadari bahwa kekurangan kita adalah sering memperdebatkan masalah khilafiyyah, maka beliau dengan tegas mengatakan, sudah tidak masanya lagi kita ini bicara masalah khilafiyyah, kita pasti tertinggal jika masih membicarakan hal itu.

Beliau juga mengingatkan bahwa sebentar lagi kita menghadapi tahun politik, pemilu 2024, kira-kira mampukah ulama tasawuf menjadi pemersatu umat, pemersatu bangsa, yang menumbuhkan cintanya kepada bangsa sehingga mencerminkan cahaya-cahaya ilahi yang mewarnai di hati kita dan menjadi suri teladan. Inilah yang dinamakan dengan ahli tasawuf.

Dalam pandangan Habib Luthfi, ahli tasawuf itu intinya tidak hanya pintar duduk dan wiridan saja, namun bisa memberikan manfaat kepada umatnya, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing (di bidang pertanian, ekonomi, pendidikan, kedokteran, dan lain sebagainya). Lebih dari itu, karena mereka adalah teladan atau cermin umat, tentu ia bisa menyatukan bukan malah memecah belah. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa ahli tasawuf adalah pemersatu umat dan pemersatu bangsa.

Baca juga:  Gus Miftah dan Ganjar, Ada Apa? Cintaku Padamu Lillahitaala

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top